Dr Muhbib Abdul Wahab MA, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kepergian almarhum Prof. Dr. Aziz Fahrurrozi, MA. sungguh mengagetkan. Tadi malam, Selasa, 21 September 2021, kami masih mengikuti doa bersama secara virtual untuk kesembuhan almarhum yang diinisiasi dan dipimpin oleh Prof. Dr. Euis Amalia, keponakan almarhum. Akan tetapi, Allah SWT berkehendak lain. Tepat pukul 00.30, dini hari, Rabu, 22 September 2021 beliau dipanggil pulang oleh-Nya di rumah sakit Pelni Petamburan Jakarta.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kita memang berasal dan milik Allah. Kepada-Nya pula kita semua akan kembali. Kematian adalah sebuah kepastian dan kemestian yang akan dialami oleh semua insan. Kami keluarga besar Pendidikan Bahasa Arab, baik program S1 maupun S2, keluarga besar FITK dan UIN Syarif Hidayatullah, keluarga besar Universitas Islam Jakata, serta keluarga besar IMLA Indonesia turut berduka cita atas kepulangan salah seorang Guru Besar panutan kami, para dosen muda dan para mahasiswa.

Selain berduka dan berbelasungkawa, tentu kami semua turut mendoakan, semoga almarhum diampuni dosanya, diterima amal ibadahnya, dan ditempatkan oleh Allah SWT di surga-Nya. Mudah-mudahan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran, ketabahan, dan keikhlasan dalam menerima musibah ini. Selamat jalan Prof. Aziz, begitu panggilan akrab almarhum, semoga jasa pengabdian dan kebaikan almarhum menjadi bekal akhirat terbaik untuk menghadap dan bertemu dengan Sang Kekasih, Allah SWT.

Kenangan Terakhir

Sebelum dirawat di rumah sakit Pelni, pada Jum’at, 17 September 2021 pukul 13.30 sampai 15:20, almarhum, saya, Prof. Dr. HD. Hidayat, MA., Prof.Dr. Ahmad Thib Raya, MA. Prof.Dr. Zainal Rafli, Guru Besar UNJ, masih menyempatkan diri menjadi penguji disertasi sdr. Muh. Abrar, Studi Fonologi Bahasa Arab Segmental dan Suprasegmental pada Pembacaan Al-Qur’an Langgam Jawa dalam ujian Promosi Doktor yang dipimpin oleh Direktur SPs., Prof. Dr. Asep Saipuddin Jahar. Sungguh kami tidak mengira, kalau pertemuan virtual melalui aplikasi zoom itu adalah pertemuan terakhir kami.

Selasa siang kemarin, kami para dosen PBA mengadakan rapat koordinasi penyiapan pengisian instrumen akreditasi dengan 9 kriteria, sekaligus arisan bulanan dan makan siang bersama. Kami merasa ada yang hilang dalam pertemuan atau diskusi dosen bulanan itu, karen almarhum tidak bisa hadir. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya turut hadir dan sempat menanyakan sakit yang diderita almarhum. Kajur PBA, DR. Zainal Muttaqin, MA kemudian menjelaskan bahwa pada awalnya beliau mengalami sesak nafas, lalu sempat tidak sadarkan diri, kemudian dilarikan ke rumah sakit Pelni, dan didiagnosa bahwa almarhum mengalami sakit jantung.

Saat menguji disertasi tersebut, kami merasakan suara almarhum terdengar agak pelan, tersendat, dan terasa berat. Meskipun demikian, almarhum tetap menunjukkan humornya yang khas dan membuat kami semua tersenyum dan tertawa. Pertanyaan-pertanyaan yang almarhum ajukan kepada promovendus, seperti biasanya, selalu kritis, menukik, dan kerapkali mahasiswa yang diuji “mati kutu”. Salah satu kenangan dari beliau saat menguji disertasi itu adalah pertanyaan kritis beliau: “Apakah pembacaan Al-Qur’an dengan langgam Jawa oleh Muhammad Yasser Arafat pada acara Peringatan Isra’ Mikraj di istana negara (1 Mei 2015) itu bagian dari proyek Islam Nusantara? Apakah Islam Nusantara itu sekadar “melanggam-jawakan” pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an?”

Biografi Intelektual

Nama lengkap almarhum adalah Prof. D. H. Aziz Fahrurrozi, MA. Bin Kiai Syaubari, lahir di Indramayu Jawa Barat, 9 Juni 1952. Suami dari Hj. Iin Ni’mah ini dikaruniani 4 orang anak, yaitu:  Arif Fuadi Aziz (37 tahun), Tsana Fitriati Aziz (36 tahun), Rifa Nadia (32 tahun), dan Fajri Khairizzaman (28 tahun). Almarhum tinggal di Komplek Bangun Lestari I N 67 Pisangan Ciputat Tangerang Selatan Banten.

Pendidikan Dasar beliau ditempuh di kampung halamannya; menamatkan SD di Indramayu pada 1965. Setelah itu, beliau melanjutkan ke PGA 4 Tahun dan selesai pada 1968; kemudian melanjutkan pada PGA 6 tahun dan selesai pada 1970. Setamat PGA, beliau mengenyam Sarjana Muda Bahasa Arab, di IAIN Cirebon, dan tamat pada 1974. Setelah itu, beliau melanjutkan program Sarjana Lengkap di jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta dan tamat pada 1979. Setamat sarjana, beliau melanjutkan Diploma Ali, Khaurtum International Institute di Sudan (1987).

Pendidikan program magister dan doktornya ditempuh di IAIN (sekarang UIN) Jakarta. Beliau lulus Magister bidang Pemikiran Islam pada 1994; dan lulus program S3 pada 2001 di bidang bahasa Arab dengan mempertahankan disertasi bertajuk “Memahami Ajaran Pokok Islam Melalui Kajian Semantik”.

Beliau menekuni karir sebagai dosen bahasa Arab sejak tamat program sarjana lengkap. Karir akademiknya terus menanjak dan diamanahi beberapa jabatan strategis, seperti Ketua Jurusan Pendidikan bahasa Arab FITK (2001-2005), Wakil Dekan Bidang Akademik FITK (2005-2009), Wakil Dekan FAI UIJ (1998-2001), dan Dekan FAI Universitas Islam Jakarta (UIJ) (2007 hingga sekarang). Selain itu, almarhum juga pernah menjadi Dosen Luar Biasa pada Fakultas Sastra Jurusan Arab, Universitas Indonesia, Depok, mulai 1987 hingga akhir 1990-an; dan menjadi Dosen Luar Biasa Fakultas Agama Islam UIJ sejak 1986 hingga sekarang.

Selain aktif menjadi Guru Besar di Program Magister PBA FITK, almarhum juga menjadi dosen, pembimbing, dan penguji tesis dan disertasi pada Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta (Kampus Dua). Beliau juga sangat aktif dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Hingga akhir hayatnya, beliau tercatat sebagai narasumber Kajian Islam, Masjid Al-Irfan, Kompleks Universitas Indonesia-Ciputat, 1999 hingga sekarang, narasumber Kajian Islam, Para Eksekutif, Kompleks Bumi Putra-Rempoa, 1990 hingga sekarang, dan narasumber Kajian Islam Para Pimpinan dan Karyawan Universitas Islam Jakarta, 1997-sekarang.

Dalam pengabdian dan pelayanan sosialnya, almarhum tercatat pernah menjadi  Anggota  tim pengawas Bazis DKI tahun 2006-2012, Ketua Yayasan Perguruan Islam Triguna Utama Ciputat, 2009 – 2012; Ketua Tim Pengawas Yayasan Miftahul Jannah Ciputat, tahun 2006 samapi sekarang; dan Tim Pengawas Yayasan Islam Kuningan Cirebon 2014- sekarang. Sejak 1998, beliau juga menjadi asesor Badan Akreditasi Nasional (BAN) PT.

Di bidang kebahasaaraban, beliau pernah menjadi LO pada KTT, Menteri-menteri Penerangan Anggota Gerakan Non-Blok, di Jakarta, 1984;  LO pada KTT, tingkat Menteri-menteri Luar Negeri Anggota GNB, di Bali, 1992; dan LO pada KTT, Anggota Gerakan Non Blok di Jakarta, 1992. Kepakarannya di bidang bahasa Arab mengantarkannya menjadi Tim review karya ilmiah calon Guru Besar  Dosen Bahasa Arab dari IAIN Semarang UNJ, UPI dan UI Depok; Tim review makalah pada seminar internasional berbahasa Arab pada forum IMLA tahun 2010, dan anggota Dewan Pakar organisasi Profesi IMLA (Ittihad Mudarrisi al-Lughah al-‘Arabiyyah) Indonesia, 2010 hingga sekarang.

Legasi Intelektual

Beliau mewariskan banyak karya ilmiah, baik berupa buku, artikel ilmiah, hasil-hasil penelitian, mapun modul. Almarhum paling tidak mempersembahkan kepada dunia akademik 12 buku, lebih dari 20 artikel ilmiah dan hasil penelitian. Di antara buku dan modul yang pernah ditulis almarhum, baik sendiri maupun bersama penulis lain, adalah: Meraih Haji Mabrur (2009), Fiqh Menajerial (2010), Buku Dars Bahasa Arab untuk MA kelas 1, 2 dan 3 (2006), Gramatika Arab (2010), Problematika Pembelajaran Bahasa Arab (2006), Asalib al-Lughah al-Arabiyyah (2007), Modul Pembelajaran Bahasa Arab (2008), Kajian Islam komprehenshif (2009), Pembelajaran Bahasa Asing (Bersama Erta Mahyuddin, 2010), Teknik Pembelajaran Kemahiran Bahasa Arab (bersama Erta Mahyuddin, 2012), dan Strategi Pembelajaran Bahasa Arab (Bersama Erta Mahyuddin, 2014), dan “Pengembangan Morfologi Arab Berbasis Konstruktivisme dan Analogi Mahir Sharaf dalam Waktu Cepat” (Bersama Raswan, 2016, dan karya mendapatkan sertifikat HaKI dari Kemenhukham).

Selain itu, sejumlah artikel ilmiah yang pernah dipublikasikan almarhum, antara lain, adalah: “Standardisasi Kompetensi Bahasa Arab bagi Calon Sarjana Perguruan Tinggi Keagamaan Islam” (2018) dalam Jurnal Arabiyat Bersama Muhbib, Syamsul Arifin, Thulus Musthafa), “Pebelajaran Bahasa Arab: Problematika dan Solusi” (2014), Jurnal Arabiyat, “Nabi Muhammad Sebagai Kepala Agama dan Politik” (Majalah Mimbar UIJ), Pendidikan Agama, Pendekatan dan Internalisasi” (Majalah Pendais Depag RI), “Kalam Allah dan Komunikasi Linguistik” (Jurnal Didaktika Islamika FITK UIN Jakarta, 2004), “Konsep Pendidikan Islam dalam Perspektif Naquib al-Attas” (Majalah Mimbar Ilmiah UIJ), dan “Ukhuwah Islamiyyah dalam Pluralitas Kemanusiaan” (Mimbar Ilmiah UIJ).

Selain aktif dalam forum ilmiah baik tingkat lokal, nasional dan internasional, beliau juga termasuk sangat rajin dan disiplin membina dan mengkader dosen-dosen muda. Dalam berbagai pertemuan dan rapat dosen PBA, beliau selalu mengingatkan kami untuk fokus penyelesaian studi S3 (bagi yang belum selesai) dan menyempatkan pengurusan kepangkatan akademik agar jangan sampai Guru Besar di PBA “habis satu persatu-satu” –meminjam istilah beliau—sebelum ada kader penggantinya. Ingat, kata beliau dalam sebuah arisan dosen PBA, Prof. Hidayat sudah purna bakti (pensiun), Prof. Matsna sudah almarhum, tinggal kami berdua, sambil menunjuk Prof. Ahmad Thib Raya, yang saat itu juga hadir dalam forum.

Para dosen yang menjadi anggota tim pengajar, baik di S1 maupun S2, termasuk penulis pernah menjadi anggota tim pengajar MK Isu-isu Kontemporer Kebahasaaraban betul-betul merasakan adanya sentuhan akademik dan pembinaan wawasan keilmuan dari almarhum. Beliau bukan tipe GBHN (Guru Besar Hanya Nama); namanya ada dalam jadwal mengajar, tetapi jarang sekali masuk kelas, membina dosen yunior dan menularkan wawasan dan sentuhan keilmuan kepada para mahasiswa.  Beliau sangat disiplin mengajar dan membimbing mahasiswa dalam proses perkuliahan. Itulah di antara legasi intelektual almarhum yang patut diteladani: disiplin, tulus membina, dan mengembangkan komptensi dosen yunior dan para mahasiswa dengan pemikiran kritis, namun kerap diselingi humor-humor segar dan menggelegar.

Legasi Moral

Salah satu Guru Besar FITK yang rajin dan sangat peduli terhadap karir akademik para dosen muda adalah almarhum. Selain sukses mengkader Erta Mahyuddin dan Raswan menjadi penulis buku dan hasil-hasil penelitian kolektif, almarhum juga sering bercerita pengalaman perjalanannya, baik ke luar negeri maupun Ketika bertugas ke daerah-daerah, baik dalam rangka mengemban tugas dari Kemenag maupun BAN PT. Beliau tipe dosen pembelajar yang baik, dan berusaha mengambil pelajaran terbaik dari manapun.

Dalam obrolan ringan atau diskusi santai, beliau kerap menceritakan manajemen masjid Jogokarya di Yogyakarta, kemajuan-kemajuan UIN atau IAIN lain yang di UIN Jakarta belum dilakukan atau belum terwujud, termasuk soal remunerasi dosen, kesejahteraan dosen PTKIN, pengelolaan unit bisnis UIN atau IAIN lain, dan sebagainya. Intinya, beliau selalu ingin menularkan ide-ide kreatif dan baru untuk kemajuan institusi tempat beliau mengabdi: UIN Jakarta.

Beliau juga sering menginisiasi pertemuan dosen PBA ketika akan menyusun proposal penelitian. Beliau sangat konsen terhadap pengayaan ide-ide baru untuk dijadikan proposal penelitian, sehingga peta penelitian PBA dan keilmuan tarbiyah mengalami perkembangan, tidak normatif dan statis. Di berbagai forum dosen, senat, termasuk forum pertemuan BAN PT, kami menyaksikan almarhum adalah dosen yang sangat peduli terhadap perubahan. Dengan sikap dan cara berpikir beliau yang kritis dan logis, beliau menghendaki perubahan sistem perkuliahan, akreditasi, peningkatan kesejahteraan dosen dan karyawan, dan sebagainya. Kepedulian, kedisiplinan, kritisisme dengan pikiran-pikiran baru, dan keaktifan beliau dalam mengajar, mendampingi asisten atau tim pengajar, merupakan legasi moral yang patut diteladani.

Kini, almarhum telah menyempurnakan tugas kehidupannya di dunia, dan telah berpulang ke pangkuan kasih sayang Sang Pencipta. Semoga keteladanan dan kebaikan beliau bisa menjadi inspirasi bagi kita semua. Selamat jalan sang Guru… selamat berpulang ke kampung Ilahi. Semoga Allah SWT selalu merahmati dan menempatkan guru kami dalam surga-Nya di akhirat kelak.

Share This