Oleh: Adi Prayitno

PEREBUTAN kursi ketua umum (ketum) PAN memanas. Sejak awal kasak-kusuk suksesi memilih orang nomor satu di PAN terlihat vulgar. Narasi politik yang tersaji kerap menyerang petahana Zulkifli Hasan. Zulkifli dikesankan sosok oligarki baru yang ingin mempertahankan status quo politik serta kerap dibenturkan dengan Amien Rais. Pemanggilan tiba-tiba Zulkifli Hasan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) bahkan ditengarai berkaitan dengan panasnya Kongres PAN. Total ada empat calon yang resmi bertarung di kongres yang bakal berlangsung sejak 10 hingga 12 Februari di Kendari, Sulawesi Tenggara itu. Mereka adalah Mulfachri Harahap, Asman Abnur, Drajat Wibowo, dan Zulkifli Hasan.
Tentu bukan perkara mudah bagi tiga penantang mengalahkan Zulkifli Hasan. Sebagai petahana, Zulkifli memiliki kemewahan beradaptasi, meyakinkan, bahkan sangat mungkin bisa menggembok dukungan DPW dan DPD di 34 provinsi. Satu di antara cara menggusur Zulkifli Hasan dari singgasana ketum PAN dengan memunculkan sisi negatif yang potensial menggerus suara loyalisnya. Satu strategi lama yang sebenarnya mudah dibaca siapa pun. Termasuk orang awam.
Satu di antara isunya mengadu domba Zulkifli Hasan dengan Amien Rais. Zulkifli Hasan dikesankan berhasrat mengamputasi dominasi Amien Rais di lingkungan PAN. Isu yang sepertinya sengaja didesain sistematis untuk menghancurkan elektabilitas Zulkifli Hasan di mata DPW dan DPD pemilik hak suara di kongres. Isu lainnya memosisikan Zulkifli Hasan sebagai “agen” pemerintah. Dukungan PAN terhadap Joko Widodo yang tanpa syarat digugat. Dinilai tak menguntungkan secara politik. Bahkan bisa menjadi bumerang bagi masa depan PAN. Karenanya, sangat wajar jika ada calon yang jualan politiknya ingin mengembalikan PAN sebagai oposisi sejati.
Pertanyaan kemudian apakah isu destruktif yang memojokkan efektif merobek dukungan DPW dan DPD yang selama ini ditengarai solid mendukung Zulkifli Hasan? Tentu saja temuan objektifnya mudah terjawab setelah pemilihan ketum selesai. Akan terlihat jelas apakah Zulkifli Hasan bisa digergaji dengan berbagai isu yang merugikan dirinya. Namun, jika menyusur argumen umum yang relatif spekulatif, isu semacam itu sulit bertuah. Sebab, isu negatif hanya dimunculkan jelang Kongres PAN. Semacam isu musiman yang muncul mendadak.
Sederhananya, isu negatif tak mungkin efektif merusak reputasi Zulkifli Hasan di mata DPW dan DPD pemilik suara di Kongres PAN. Mayoritas mereka politisi sejati. Sudah bisa memilah dengan mudah mana isu insidental yang sengaja merugikan calon tertentu. Preferensi politik mereka dikalkulasi berdasarkan untung-rugi politik. Dan, barang tentu, mereka akan mendukung kandidat yang dipastikan menang. Jadi, jika ingin merusak dominasi Zulkifli Hasan, kandidat lain harus mampu meyakinkan para pemilik suara soal tawaran yang jauh lebih menggiurkan.

Peta Dukungan
Di antara empat nama yang bertarung, sebenarnya bisa dikerucutkan menjadi tiga besar, yakni gerbong Zulkifli Hasan, Mulfachri Harahap, dan Asman Abnur. Sementara Drajat Wibowo cenderung diasosiasikan setarikan nafas dengan Mulfachri karena dianggap sama-sama dekat dengan Amien Rais. Tinggal dilihat sejauh mana pertarungan tiga gerbong besar berebut nakhoda PAN untuk masa bakti lima tahun mendatang.
Jika dibaca acak yang tampak di permukaan, kekuatan politik Zulkifli Hasan masih kuat. Posisinya sebagai petahana memiliki jangkar politik yang masih kokoh. Dukungan mayoritas DPW beberapa waktu lalu menjadi penegas Zulkifli Hasan tetap dominan di hati para pemilik suara. Sejauh ini belum ada pergerakan signifikan yang mencuat ke publik soal ada migrasi dukungan politik ke kandidat lain. Mungkin saja ada, tapi publik tak bisa membaca dengan gamblang.
Sementara Mulfachri Harahap sejak awal memosisikan diri sebagai “orang” Amien Rais. Pemosisian (positioning) seperti ini memang penting mengganggu dominasi Zulkifli Hasan. Karena, Amien Rais merupakan sosok sentral yang sejauh ini tak tergantikan di PAN. Tak mengherankan kiranya jika Mulfachri berduet dengan Hanafi Rais. Satu tradisi politik baru di Kongres PAN. Tujuannya sederhana. Ingin mengonsolidasi dukungan terutama di basis loyal Amien Rais seperti di Jawa Tengah, sebagian Jawa Timur, dan Jawa Barat.
Dengan kata lain dapat dikatakan, Mulfachri Harahap mencoba mengapitalisasi nama besar Amien Rais untuk mendulang dukungan politik. Tinggal diuji apakah nama besar Amien Rais masih seksi meski sebenarnya strategi ini berisiko. Jika Mulfachri kalah, itu sama halnya dengan runtuhnya kekuatan Amien Rais di PAN. Jika pun menang, masih menyisakan cerita politik negatif. Mulfachri pasti dicap kaki tangan Amien Rais yang konotasinya sama dengan mendukung gurita status quo Amien Rais yang sukar digantikan.
Sedangkan Asman Abnur relatif serupa dengan Mulfachri. Mencoba memancing sentimen bahwa dia “orang” Hatta Rajasa. Sosok senior PAN yang belakangan tak kelihatan kiprah politiknya di pentas nasional. Asman Abnur sepertinya ingin menyasar basis loyalis tradisional Hatta Rajasa di berbagai daerah. Problemnya, Hatta Rajasa mulai terlihat kehilangan sentuhan politiknya di PAN, bahkan cenderung tenggelam.
Di luar itu semua, tentu peta dukungan politik akan terus dinamis. Hasil persisnya mesti menunggu hasil pemilihan ketum PAN. Potret peta politik di atas sebatas narasi umum yang belakangan ditangkap publik. Satu parameter sederhana yang muncul ke permukaan. Hanya itulah satu-satunya insight politik melihat pertarungan berebut ketum PAN.

Posisi Ideal Amien Rais
Selain pemilihan ketua umum, isu lain yang tak kalah pentingnya soal bagaimana seharusnya memosisikan Amien Rais dalam pertarungan politik kongres. Suka tak suka PAN masih sangat identik dengan tokoh reformasi itu. Kecenderungan politik dominan menginginkan Amien Rais tak perlu dibawa dalam perebutan politik di internal PAN. Sebagai pendiri, Amien Rais mestinya diposisikan sebagai pelatih semua kandidat yang bertarung karena semua yang bertarung adalah kader terbaik PAN. Tak ada anak tiri.
Ibarat permainan sepak bola, Amien Rais harusnya diposisikan sebagai pelatih utama. Mendukung setiap kontestan berkompetisi secara fair dan beradu gagasan cerdas. Amien Rais tak perlu diajak turun gelanggang dipaksa ikutan bermain dilibatkan dalam proses memengaruhi suara pemilih di kongres. Ini tak elok dan cenderung mendistorsi ketokohan Amien Rais. Semua kandidat harus berani mengapitalisasi kemampuan diri masing-masing meyakinkan pemilik suara.
Sudah saatnya Amien Rais “pensiun” dari dukung-mendukung di Kongres PAN. Harus mulai berdiri di tengah menjadi tempat bersama semua kader terbaik yang sedang bertarung. Posisi politik Amien Rais jangan lagi parsial, berat sebelah, dan agresif mendukung yang disukai dan pada saat bersamaan menyerang kandidat yang tak disukai. Kongres kali ini adalah momentum bagi PAN untuk menjadikan Amien Rais sebagai guru bersama. Bukan lagi komoditas politik demi kursi ketua umum. Itulah posisi ideal yang akan membuat PAN akan mudah menata kembali haluan politiknya ke depan. (zm)

Penulis adalah Direktur Eksekutif Parameter Politik dan Dosen FISIP UIN Jakarta. Artikel dimuat Koran Sindo pada Selasa 11 Februari 2020. Lihat https://nasional.sindonews.com/read/1522939/18/kursi-panas-ketum-pan-1581354034

Share This