Masjid Jami’, BERITA UIN Online— Ibadah Puasa disebut dalam terminologi Islam dengan الصوم  atau الصيام.  Sebagai haqiqah lughawiyyah, terma الصوم atau الصيام  berasal dari kata صام, yang memiliki beberapa makna, seperti dikemukakan Imam Ibn Manzhur dalam kitab Lisan al-‘Arab, yang bisa ditransformasikan bagi pemaknaan ibadah puasa secara substantif.  Pertama, berdiri tegak tanpa makan dan minum, seperti ungkapan masyarakat Arab, صام الفرس صوما (kuda itu berdiri tegak tanpa makan dan minum = قام على غيرا عتلاف).

Demikian diantara cuplikan kuliah tujuh menit (kultum) yang disampaikan Wakil Dekan Bidang Administrasi Umum Fakultas Dirasat Islamiyah (FDI) UIN Jakarta Dr Asmawi MA pada kegiatan ramadhan in campus, Kamis (24/05), bertempat di Masjid Jami’ Student Center.

Lebih jauh, Asmawi menjelaskan, bahwa ibadah puasa secara substantif bermakna bahwa seorang hamba yang berpuasa, meskipun tidak makan dan minum, tetap tegak melakukan aktivitas yang bermanfaat.

“Makna kedua, yaitu menyejukkan, seperti dalam ungkapan masyarakat Arab صامت  الريح (Anginnya tenang menyejukkan= ركدت). Maka, ibadah puasa secara substantif bermakna bahwa seorang hamba yang berpuasa adalah hamba Allah yang selalu tenang, sabar, dan kehadirannya menyejukkan, membuat nyaman dan tentram orang lain,” jelasnya.

Selanjutnya, makna ketiga tentang puasa yaitu, tegak berada di tengah-tengah, seperti ungkapan  صام النهار صوما (siang hari berada di tengah terik matahari=اعتدل و قام قاءم الظهيرة). Hal ini bermakna, sambung Asmawi, bahwa seorang hamba yang berpuasa adalah hamba yang selalu berada di tengah, bersikap moderat.

“Makna selanjutnya, yaitu mengeluarkan kotoran, seperti ungkapan  صام النعام (hewan ternak itu mengeluarkan kotoran =رمى بقذره). Dengan demikian, ibadah puasa secara substantif bermakna hamba Allah yang tengah membersihkan jiwanya dari kotoran dosa-dosa melalui ampunan yang Allah berikan,” paparnya.

Hal ini, lanjut Asmawi, sesuai dengan pesan Hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (HR. Muslim)

Kemudian, makna puasa yang kelima, yaitu bernaung di bawah pohon “shaum”, seperti ungkapan masyarakat Arab صام الرجل (orang itu bernaung di bawah pohon “shaum” = تظلل بالصوم). Hal ini bermakna, bahwa hamba yang berpuasa adalah hamba Allah yang akan memperoleh naungan di akhirat kelak, yakni naungan ibadah puasa dan kebaikan lain yang telah dilaksanakannya.

“Sedangkan makna puasa yang terakhir, yaitu mengontrol dan mengendalikan diri terhadap sesuatu (الامساك عن شيء). Dengan demikian, seorang hamba tengah yang berpuasa adalah hamba Allah yang mampu mengontrol dan mengendalikan hawa nafsu yang ada pada dirinya dengan baik, sehingga menjadi pribadi yang bertakwa,” pukas Asmawi sekaligus menutup kultumnya tersebut. (lrf)

Share This