Saat ini, ummat muslim akan memasuki Bulan Suci Ramadhan. Denyutnya sudah terasa, seperti di masjid/musholla, televisi, dan (apalagi) pusat-pusat perbelanjaan. Ramadhan telah menjadi fenomena kerianggembiraan massal yang dinikmati secara bersama.

Kota-kota di Indonesia umumnya serempak menyambut hari suci tersebut dengan homogenitas perilaku. Lebih senang ke masjid, memperluas silaturahmi melalui beragam acara buka bersama, sampai kepada altruisme sedekah.

Jika didalami lebih lanjut, ada semacam hysteria massal yang melanda masyarakat kota di bulan ini. Mal dan pusat perbelanjaan nyaris lebih penuh dari biasanya. Segala bentuk jualan, biasanya laris manis. Semua senang semua untung.

Lalu di mana sistem produksinya? Tidak mungkin seluruh pihak menjadi agensi penjual atau pembeli. Sebab roda ekonomi pasar akan berjalan dengan baik jika dari sisi permintaan dan penerimaan terjadi keseimbangan.

Roda ekonomi bergerak oleh dua faktor utama: adanya (kebutuhan) barang dan jasa yang saling berinteraksi dan kemudian menghasilkan nilai tambah. Surplus dari nilai tambah inilah yang disebut sebagai keuntungan. Dari keuntungan ini, maka pemilik keuntungan menggunakannya untuk membeli sesuatu: bisa konsumtif, atau produktif. Tetapi kedua-duanya berjasa menggerakkan ekonomi.

Menjelang Ramadhan, kota-kota besar di Indonesia, umumnya digerakkan oleh faktor konsumtivisme masyarakat. Dari sikap tersebut, warga rela merogoh koceknya, terus menerus, dan berkali-kali.

Inilah ironisnya. Kota-kota menjelang Ramadhan bisa menjadi visualisasi terbaik dalam memahami bagaimana konsumtivisme masyarakat. Indikator paling mudah dan kasat mata, lihat saja di tempat-tempat makan, yang murah atau yang mahal, semuanya nyaris penuh oleh pengunjung. Begitu juga di masjid-masjid yang menyelenggarakan buka puasa bersama. Para shooimun itu cukup menikmati hidangan gratisnya.

Jika dianalisis, ada banyak sumber yang menyebabkan mengapa “gairah” ekonomi di masa Ramadhan berbeda. Sumber-sumber ini, karena berbagai alasan, memang “diledakkannya” pada masa Ramadhan atau menjelang lebaran.

Pertama, sumber itu adalah tabungan yang dikelola oleh masyarakat melalui berbagai desain penyimpanan. Bisa disimpan dalam bentuk tabungan konvensional, atau tabungan lain dalam bentuk pembelian barang yang likuid. Pada saat menjelang lebaran, semua itu dicairkan untuk merayakan “kemenangan”.

Kedua, bonus-bonus dari tempat kerja. Sudah menjadi kebiasaan umum bahwa banyak lembaga usaha dan non-usaha yang memberikan bonus para pegawainya menjelang lebaran. Bonus-bonus ini bisa jadi hanya satu atau dua kali lipat dari gajinya saja. Namun jika kita kalkulasikan setiap yang bekerja menerima sebesar itu, maka uang yang dibelanjakan semakin besar.

Ketiga, berhutang. Selain kedua bentuk di atas, bergeraknya budaya ekonomi menjelang lebaran juga ditopang oleh utang-utang pribadi. Meski bisa jadi utang-utang tersebut secara makro kecil dan lebih banyak melibatkan unsur individu, tetap saja nilai agregasi sangat besar.

Hal yang harus dikritisi pada perilaku masyarakat kota adalah ketika terjadi hysteria massal untuk melakukan kebaikan ini terjadi. Sebab di saat seperti ini tetap saja ada kelompok sosial yang memanfaatkan momentum. Mereka, secara rombongan atau sendiri-sendiri, mendatangi kota untuk menjadi bagian dari yang menerima sedekahnya orang kota. Tentu saja, di sini dilemanya, karena upaya penunaian kebaikan kepada kelompok ini akan memberikan dampak menjamurnya para peminta-minta di kota, di masa Ramadhan.

Ini yang harus diantisipasi secara bersama-sama. Jangan sampai keindahan Ramadhan dengan segala gelegar kebaikannya, justru tercoreng oleh mereka yang hanya berfikir memanfaatkan momentum sesaat.

Dr Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Ilmu Sosiologi Perkotaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Koran Rakyat Merdeka, Rabu, 8 Mei 2019. (lrf/mf)

Share This