Auditorium Utama, BERITA UIN Online— Para pelakon korupsi menggunakan segala cara untuk mengelabui para penegak hukum. Bahkan dari masa ke masa, para penjahat “kerah putih” kian menggunakan sarana dan modus yang “canggih”.

Demikian disampaikan Mantan Ketua KPK, Abraham Samad saat menjadi pembicara dalam bedah buku Metamorfosis Sandi Komunikasi Korupsi, di Auditorium Harun Nasution UIN Jakarta, Rabu (1/11).

Buku yang sebagian besar mengupas sandi-sandi komunikasi korupsi dalam puluhan kasus yang dilakukan para koruptor periode pimpinan KPK 2011-2015 tersebut, ditulis oleh alumni UIN Jakarta, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FIDK) tahun 2010.

Abraham menambahkan, sebagai kejahatan yang luar biasa, maka para pelakunya hampir sebagian besar adalah orang-orang cerdas. Sarana dan modus yang dipergunakan demikian canggih untuk mengelabui para penegak hukum.

Menurut Abraham, hal itu menujukkan adanya metamorfosis. Bahkan, kata Abraham, berevolusi.

“Kalau sandi-sandi saja mengalami metamorfosis, maka korupsi juga mengalami metamorfosis. Bahkan menurut hemat saya, korupsi itu mengalami evolusi. Dulu dilakukan dengan cara dan modus sederhana, tapi sekarang, perubahannya sangat canggih. Ke depan bisa lebih lagi. Akan jauh lebih modern agar tidak bisa dilacak penegak hukum,” ungkap Pendiri Anti Corruption Committee (ACC) Makassar itu.

Ditegaskannya pula, para pelakunya mulai dari politikus termasuk anggota DPR dan DPRD, pengusaha, penegak hukum, gubernur, bupati, walikota, kepala lembaga negara, hingga menteri.

Lebih lanjut dikatakan Abraham, penggunaan sandi-sandi komunikasi korupsi yang direkam dan dicantumkan dalam buku tersebut juga menunjukkan bahwa para pelaku korupsi berupaya agar tidak dijerat penegak hukum, hingga berujung sebagai terdakwa di pengadilan dan berakhir sebagai terpidana.

Mengenai buku, Abraham berpandangan, bahwa buku yang ditulis oleh Jurnalis Sabir Laluhu ini sangat bermanfaat bagi semua kalangan. Pun termasuk penegakan hukum pemberantasan korupsi. Bahkan bisa digunakan bagi para hakim yang menangani perkara korupsi dengan menggunakan sandi-sandi atau kode-kode khusus.

“Kalau koruptor sudah demikian canggih, nanti ke depan akan banyak sandi-sandi lain. Maka harus di-upgrade pemahaman penyelidik maupun penyidik dan jaksa, termasuk terkait ilmu komunikasi. Jadi aparat penegak hukum harus meningkatkan pengetahuannya. Karena ke depan kata-kata sandi akan digunakan dengan cara-cara dan alat-alat yang lebih maju,” pungkas Abraham.

Dari pantauan BERITA UIN Online, acara yang diikuti sedikitnya 500 peserta yang terdiri dari sivitas akademika UIN Jakarta dan tamu undangan tersebut, berjalan dengan lancar dan tertib. Peserta yang hadir pun terlihat antusias dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada para narasumber yang hadir. (lrf/mediaindonesia.com)

Share This