Dalam perspektif metafisik, makna angka 1 (satu) tidak sama dengan angka 1 dalam dunia matematika dan fisika. Jika dalam dunia matematika angka 1 berkelanjutan ke angka-angka berikutnya sampai ke angka tanpa batas (unlimited) dan angka-angka itu bisa dipecah dan dibagi (divisible), dalam perspektif metafisika atau teologi, angka 1 bisa berarti esa atau sesuatu yang tidak berkelanjutan dan berbagi (undivisible).

Makanya itu di dalam bahasa Indonesia, angka satu secara metafisik biasa diistilahkan dengan esa, seperti “Ketuhanan Yang Maha Esa,” bukan “Yang Maha Satu”. Kalau kata satu (the oneness) ada kelanjutannya angka dua, tiga, dan seterusnya. Sedangkan, kata esa tidak ada lagi bilangan selanjutnya (the one and only).

Konsep keesaan Tuhan tidak bisa dipersepsikan dengan satu dalam perspektif matematika, tetapi harus dengan perspektif metafisika. Konsep keesaan Tuhan (tauhid) memang agak complicated, tetapi tegas dan clear. Komplikasinya karena Tuhan tidak bisa digambarkan sebagai the One (al-Wahdah), yakni Sang Pemilik Wujud Maha Tunggal berdiam di luar pluralitas makhluk, sementara makhluk berada di dalam sebuah dunia lain yang terpisah sama sekali dengan Sang Pencipta. Gambaran seperti ini bisa menyesatkan karena berarti mereduksi keberadaan diri-Nya sebagai Tuhan Maha Serba Meliputi (al-Muhith) dan Maha Luas tanpa mengenal batas (al-Wasi’).

Konsep seperti ini tentu tidak sejalan dengan sejumlah ayat, seperti “Dan Dia bersama kalian di mana saja kalian berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kalian kerjakan.” (QS. Al-Hadid/57: 4). “Kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka ke manapun kalian menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas lagi Maha Mengetahui.” (QS. al-Baqarah/2: 115).

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS Fushilat/41 :53). Dalam hadis Nabi juga dijelaskan: Kana Allah wa la sayi’an ma’ahu (Keberadaan Allah tidak ada Sesuatu pun yang bersama-Nya). Hal ini sesuai dengan pemaknaan kalangan sufi tentang kalimat syahadat: Ia ilaha illa Allah, yang dimaknai dengan: La maujud illa Allah (Tidak ada yang mewujud selain Allah).

Allah SWT juga tidak bisa digambarkan sebagai the Many (al-Katsrah), yakni Dia yang mewujud dalam bentuk pluralitas alam semesta. Dengan demikian, konsep ini menafikan keberadaan makhluk dan dengan sendirinya mereduksi kapasitas Tuhan sebagai Sang Khalik. Bagaimana mungkin ada Sang Khalik tanpa makhluk? Atau paling tidak, bagaimana mungkin hanya mengakui-Nya sebagai Sang Khalik dalam potensi (Creator in potential), tetapi menafikan-Nya sebagai Sang Pencipta secara aktual (Creator in actual).

Konsep seperti ini tidak sejalan dengan sejumlah ayat, antara lain: “Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-nama Yang Paling baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS al-Hasr/59: 24). “Maka kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya: Ini dari Allah (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan terbesarlah bagi mereka, akibat yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah/2: 29).

Dalam perspektif metafisika, keesaan Tuhan (tauhid) tidak pernah dipermasalahkan keberadaan Tuhan sebagai the One dan the Many. Keduanya merupakan sesuatu entitas yang tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hubungan antara keduanya adalah manifestasi (tajalli). Berbeda dengan pandangan filsuf menganggap the One dan the Many sebagai dua entitas yang berbeda dan hubungan antara keduanya berdasarkan sebab akibat. Pandangan ini sejalan dengan beberapa ayat, “Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Lahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid/57: 3).

Dalam perspektif metafisika, tidak ada artinya kita bicara tentang the One tanpa bicara tentang the Many karena dalam karya-karya Ibnu Arabi, khususnya Dawud Qaishari dalam Syarah Fushus al-Hikam sering menyebutkan istilah al-Wahdah fi al-Katsrah wa Katsrah fi al-Wahdah (the One in the Many and the Many in the One). The One dihubungkan dengan hakikat wujud yang biasa disebut dengan al-Jawahir (the Subtances) dan the Many dihubungkan dengan lokus manifestasi yang disebut al-Ardh (the Accidence).

Al-Jawahir (jamak dari al-jauhar) menyatu di dalam inti substansi (al-ain al-jauhar) yang biasa juga disebut dengan hakikat jauhar (al-haqiqah al-jauhar), an-nafs rahmani (the Breath of the Merciful) atau al-Hayula al-Kulliyyah (the Universal Prime Malter). Al-ain al-jauhar itu sendiri merupakan lokus pengejawantahan (mazhar) bagi Zat Ilahi, yang mana juga merupakan pusat manifestasi al-Asma al-Husna.

Jauhar dan ‘Aradh menurut para filsuf merupakan dua struktur entitas yang berbeda walaupun keduanya sulit untuk dipisahkan. Sedangkan, menurut kalangan sufi, ‘Aradh dan Jauhar bukanlah merupakan dua entits yang berbeda, melainkan yang satu merupakan hakikat dan lainnya merupakan manifestasi, seperti Allah sebagai hakikat wujud (al-Haqiqah al-Wujud) kemudian memunculkan manifestasi (madhhar). Antara hakikat wujud dengan wujud-wujud (a’yan) yang mewujudkan diri-Nya, walaupun keduanya berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Dari segi ini, seorang sufi pernah menyatakan, “Tak seorang pun menegaskan keesaan Zat Maha Esa, sebab semua orang yang menegaskan-Nya sesungguhnya mengingkari-Nya. Tauhid orang yang melukiskan-Nya hanyalah pinjaman, tak diterima oleh Zat Maha Esa. Tauhid atas diri-Nya adalah tauhid-Nya. Orang yang melukiskan-Nya sungguh telah sesat.” (Allahu a’lam).

Prof Dr Nasarudin Umar MA, Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuludin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Dialog Jumat Koran Republika, 21 Desember 2018.(lrf/mf)

Share This