Auditorium Utama, BERITA UIN Online— Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta bekerja sama dengan UP Malaysia, Universitas Exeter, Universitas Manchester, Universitas Munstar, dan Universitas Australia Selatan menyelenggarakan  International Conference on Education in Muslims Society (ICEMS) dengan tema New Perspective on STEM Education in Muslim Society: Current Issues from different lenses di Auditorium Utama, Kampus I UIN Jakarta, Rabu-Kamis (24-26 Oktober 2018).

Konferensi dibuka Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada. Konferensi juga mengundang sejumlah pembicara, yaitu Dr Naseer Mansour (Universitas Exeter, Inggris), Dr Andrew J. Howes (Universitas Manchester, Inggris), Prof Simon Leonard (Universitas Australia Selatan), Prof Dr Hans-Dieter Barke ( University of Munster, Jerman), dan Prof Dr Aida Surayya MD (Universitas Putera Malaysia).

Dalam sambutannya, Dekan FITK UIN Jakarta Prof Dr Ahmad Thib Raya mengatakan seminar dengan tajuk New Perspective on STEM Education in Muslim Society: Current Issues from different lenses mencoba menggali berbagai aspek dari kedua pemikiran dan temuan penelitian tentang pendidikan STEM di negara-negara Muslim. Diantaranya kurikulum, penelitian dan pengembangan, pedagogi baru dan andragogy, teknologi baru dalam pendidikan.

“Selain untuk menyebarluaskan pemikiran dan temuan penelitian, konferensi ini juga diharapkan dapat memberikan kesempatan yang sangat berharga untuk pengembangan jaringan antar peserta konferensi, baik individu maupun kelembagaan,” katanya.

Di tepi lain, Rektor UIN Jakarta Prof Dr Dede Rosyada MA mengatakan bahwa ICEMS ke-4 2018 diharapkan mampu memberikan kesempatan bagi berbagai pemangku kepentingan pendidikan STEM terutama di Masyarakat Muslim di seluruh dunia untuk berbagi karya, opini, dan pengalaman mereka dalam membuka forum akademik.

“Konferensi ini dirancang tidak hanya untuk berbagi temuan penelitian tetapi juga mampu menawarkan rekomendasi untuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan STEM. Kami juga mengundang para cendekiawan, peneliti, pembuat kebijakan, guru, dan siswa dari berbagai negara untuk berpartisipasi dan bekerja sama untuk meningkatkan kualitas pendidikan STEM di komunitas Muslim,” kata Rektor.

Selain sesi pleno, ICEMS 2018 juga diisi dengan sesi paralel sesuai dengan sub-topik yang ditentukan. Diantaranya adalah Kurikulum dan Kebijakan dalam Pendidikan STEM, Pedagogi Baru dan Andragogi dalam Pendidikan STEM, Metodologi Pembelajaran / Pengajaran dan Penilaian, Media Baru dan Teknologi untuk Pendidikan STEM, Pendidikan STEM dan Kebutuhan Khusus, Pelatihan Pendidik STEM dan Pengembangan Profesi, STEM Islam dan Masyarakat, Pendidikan STEM dalam Pengaturan Informal, Pendidikan STEM di Abad 21, dan Topik Terkait Pendidikan Matematika & Pendidikan Sains (Biologi, Fisika, Kimia). (farah nh/yuni nk/usa/zm)

Share This