Ketika diseru oleh Allah SWT untuk mendakwahi dan mempersuasi Fir’aun, Raja Mesir yang otoriter saat itu, Nabi Musa AS memohon kepada-Nya agar saudaranya, Harun AS, diikutsertakan sebagai juru bicara (komunikator) karena dirinya merasa kurang fasih dalam berbahasa. Karena dakwah yang itu memang menghendaki strategi komunikasi yang efektif pula.

Musa AS juga menyadari bahwa untuk menghadapi diktator Fir’aun, bekal mukjizah fisik (tongkat) saja tidaklah cukup. Musa memerlukan mitra dakwah yang memiliki keterampilan sosial memadai dalam berkomunikasi dan berdiplomasi (QS Thaha [20]: 24-32). Dia perlu mitra dakwah yang berkompeten dalam beradu argumentasi dan berdiplomasi di hadapan Fir’aun dan para pembesar-pembesarnya.

Kisah dakwah Musa AS tersebut mengandung pesan bahwa sertiap Muslim perlu memiliki keterampilan sosial dan kompetensi komunikasi, di samping keterampilan hidup (life skill). Kompetensi komunikasi tidak hanya dibutuhkan dalam berdakwah, tetapi juga dalam membina rumah tangga, mendidik anak, peserta didik di lingkungan institusi pendidikan, dan memberi pelayanan publik. Pemimpin yang sukses dalam memajukan dan menyejahterakan rakyatnya sangat ditentukan oleh cara berkomunikasi yang santun, bermakna, persuasif, dan efektif. National Association of Colleges and Employers, USA melakukan survei terhadap 457 pimpinan, dan menempatkan kemampuan komunikasi dan kejujuran atau integritas sebagai kriteria utama kesuksesan seorang pemimpin.

Nabi Muhammad SAW pernah dinobatkan sebagai pemimpin paling berpengaruh di muka bumi sepanjang sejarah oleh Michael H Hart, antara lain dari kujujuran (shidq) dan kompetensi brilian dalam berkomunikasi persuasif (tabligh) terhadap masyarakat dan didakwahinya. Beliau menampilkan model komunikasi profetik yang meyakinkan, sekaligus mencerdaskan dan mencerahkan masa depan umat manusia. Beliau tidak mengobral janji dan harapan palsu, melainkan memberikan bukti nyata berupa akhlak mulia dan teladan kebaikan bagi semua.

Komunikasi profetik dalam berdakwah merupakan salah satu manifestasi dari integritas moral dan multikecerdasan: intelektual, emosional, sosial, dan spritual. Beliau sangat hati-hati dalam bertutur kata, rendah hati dalam bersikap, santun, dan lemah lembut dalam bergaul. Beliau tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tetapi berkomunikasi dengan penuh kesantunan, kelemah-lembutan, kedamaian, kearifan, dan kasih sayang (QS Ali Imran: 159).

Komunikasi profetik itu humanis: menyeru tanpa hinaan, kebencian, dan perundungan; mengajak tanpa mengejek; menasehati tanpa harus menggurui; mengedukasi tanpa mempersekusi; dan memberi teladan kebaikan dalam kehidupan tanpa membodohi umat dengan pencitraan berlebihan. Komunikasi profetik itu menghadirkan solusi bukan ilusi; memberi bukti kinerja unggulan berbasis gagasan cerdas bukan bekerja tanpa gagasan dan perencanaan yang jelas; dan membebaskan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya iman, ilmu pengetahuan, dan peradaban yang berkeadaban.

Dr Muhbib Abdul Wahab MAg, Ketua Program Magister Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: HIKMAH REPUBLIKA, 20 September 2019. (lrf/mf/rr)

Share This