Hijrah Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah itu tidak hanya unik dan menarik, tetapi juga sarat spirit perubahan dan komunikasi penuh inspirasi.

Secara leksikal, hijrah bermakna pindah atau meninggalkan sesuatu menuju yang lain, baik fisik maupun psikis. Jika hanya dilihat secara fisik, kepindahan Nabi SAW itu hal biasa, seperti halnya traveling atau berwisata. Akan tetapi, jika dimaknai secara psikis, komunikasi politik, strategi militer, dan manajemen perubahan, hijrah profetik itu sungguh strategis, taktis, humanis, bahkan merupakan pilihan cerdas dan berbasis manajemen mutu terpadu (total quality management).

Hijrah secara moral dan spiritual sudah dimulai sejak awal komunikasi dakwah Nabi, melalui penyampaian pesan Ilahi: “Dan perbuatan dosa [menyembah berhala] tinggalkanlah!” (QS Al- Muddatstsir [74]: 5).

Ayat tersebut mengandung pesan bahwa penyucian diri (purifikasi) iman tauhid dengan menghijrahi dosa terbesar, syirik (menyekutukan Allah), merupakan basis teologis hijrah. Karena hijrah sejati itu meninggalkan segala yang dilarang dan dibenci Allah SWT menuju ketaatan kepada yang dicintai dan diridai-Nya.

Strategi Komunikasi

Hijrah merupakan jalan terjal berliku dan berduri menuju kemenangan dan kemajuan peradaban Islam. Jalan hijrah menghendaki ketulusan hati, kebulatan tekad, keberanian mengambil risiko, dan totalitas usaha menuju cita-cita mulia: mewujudkan visi dan misi Islam sebagai rahmat bagi semesta raya (rahmatan li al-’alamin).

Aktualisasi visi dan misi Islam tersebut perlu strategi efektif dan komunikasi profetik penuh inspirasi. Sebelum menetapkan destinasi hijrah (Yatsrib), “uji coba” hijrah dilakukan dua kali. Hijrah pertama dipimpin oleh Ja’far bin Abi Thalib ke negeri Habsyi (Etiopia) sukses, karena peta destinasi yang sudah diprediksi oleh Nabi terbukti benar, bahwa Raja Najasyi, seorang Nasrani, bisa menerima kedatangan komunitas mukmin dari Mekkah.

Hal ini disebabkan adanya kesamaan teologis (tauhid) dan informasi kenabian (nubuwwah) dalam Alkitab bahwa setelah Isa AS akan diutus seorang nabi dari bangsa Arab (Muhammad SAW). Uji coba hijrah kedua, ke Thaif, tidak sukses. Ketika baru memasuki gerbang pintu Thaif, Nabi SAW ditolak, bahkan dilempari batu, oleh sebagian warganya sampai berdarah.

Nabi bersabar dan tidak membalas. Bahkan ketika ma laikat Jibril menawari bantuan hukuman setimpal berupa pelongsoran Gunung Thaif ke pada mereka, beliau menolak. Beliau malah mendoakan: “Ya Allah, berilah petunjuk kepada kaumku (yang brutal itu), ka rena mereka itu belum memahami (kedamaian Islam).”

Kedua uji coba hijrah itu menjadi pelajaran penting bahwa hijrah yang sukses itu memerlukan modal sosial sebagai legitimasi berhijrah. Nabi lalu mengembangkan komunikasi lintas sosial kultural, dengan menembus batas-batas sosio-kultural dan geografis Mekkah.

Nabi bersikap proaktif menemui kafilah dagang dari Yatsrib di Pasar Ukaz, di luar Mekkah untuk diajak ber dialog dan memberi solusi da mai bagi representasi dua suku yang selalu terlibat konflik dan perang, yaitu Suku Aus dan Khazraj. Dengan komunikasi dialogisnya yang meyakinkan, setidaknya ada 12 orang dari suku Aus dan Khazraj berbaiat (berjanji setia) dengan me nya takan masuk Islam.

Kesuksesan Nabi mengislam kan 12 orang Yatsrib itu pada Baiat Aqabah pertama merupakan modal sosial komunitas muslim yang perlu dirawat dan dikembangkan. Pada tahun berikutnya, saat Baiat Aqabah kedua, modal sosial tersebut semakin menguat karena tidak kurang dari 73 orang suku Aus dan Khazraj kembali berziarah ke Mekkah, lalu masuk Islam.

Jadi, komunikasi dialogis dan inspiratif Nabi tersebut merupakan salah satu kunci kesuksesan kepemimpinan sosial politik yang menginspirasi. Ketika menyadari kehebatan strategi komunikasi Nabi dan para sahabat diinstruksikan hijrah ke Yatsrib secara diam-diam, kaum kafir Quraisy panik dan membabi-buta.

Nabi, dan sebagian sahabatnya yang masih di Mekkah, semakin ditekan, diintimidasi, diembargo, bahkan melalui rapat di Darun Nadwah diputuskan oleh para pembesar kafir Quraisy untuk mengepung rumah Nabi dengan dua opsi: menangkap hidup-hidup atau membunuhnya. Semua pemuda dan pasukan elite Quraisy dikerahkan untuk mewujudkan niat jahat tersebut.

Namun, inspirasi dan instruksi Ilahi untuk hijrah disampaikan Jibril kepada Nabi, sehingga pada malam hijrah itu Nabi langsung berkomunikasi dan mengatur strategi bersama Abu Bakar. Keduanya berhasil lolos berkat bantuan mukjizat Allah. Sambil membacakan ayat 9 dari surat Ya-Sin, Nabi mengambil pasir dan menaburkannya kepada mereka yang “diiming-imingi” hadiah 100 unta bagi yang berhasil menangkap atau membunuh Nabi, sehingga mereka terlelap dan tidak bisa melihat kepergian Nabi.

Dengan Total Quality Management (TQM) hijrah, Nabi menetapkan tujuan, jalan yang harus ditempuh, dan pembagian tugas secara profesional. Tujuan utamanya menyelamatkan visi dan misi Islam dengan target tiba di Yatsrib dengan selamat. Jalan yang harus dilalui tidak langsung, tetapi harus transit di Gua Tsur, 7 km arah selatan Mekkah.

Transit ini merupakan sebuah strategi yang dapat membuyarkan konsentrasi para pasukan musuh sekaligus merupakan taktik cerdas untuk penyiapan logistik perjalanan panjang me nuju destinasi hijrah. Setelah transit selama tiga malam di Gua Tsur, Nabi dan Abu Bakar melanjutkan perjalanan menuju Yatsrib.

Nabi memerlukan pemandu jalan profesional, karena strategi perjalanan yang akan dilalui bukan jalan biasa atau jalan umum yang dilalui para kafilah dagang. Karena itu, komunikasi persuasifnya, Nabi mem percayai seorang Yahudi, Abdullah bin al-Uraiqit al-Laitsi, sebagai pemandu jalan profesional, di samping sebagai pengawal perjalanan beliau.

Dalam Atlas as-Sirah an-Nabawiyyah (2011), Syawqi Abu Khalil mengilustrasikan perjalanan hijrah Nabi itu seperti jalannya ular, semi zig-zag, tidak lurus. Strategi jalan semacam ini dimaksudkan agar musuh yang memburunya dari belakang kehilangan jejak dan tidak bisa menangkapnya.

Inspirasi Masa Depan

Setelah menempuh perjalanan melelahkan selama delapan hari, akhirnya Nabi sampai di desa Quba, disambut dengan suka cita oleh warganya. Mereka bersorak-sorai sambil mendendangkan lagu: “Thala’a al-badru alaina; wajaba asysyukru alaina …”. Pemimpin inspiratif itu telah berada di tengah-tengah kami. Kami semua harus berterima kasih ke padanya. Modal sosial dan legitimasi politik warga Quba dan Yatsrib dapat “direbut” berkat komunikasi persuasif Nabi yang sangat menginspirasi: mencerdaskan dan mencerahkan.

Hijrah memberi pelajaran akan pentingnya komunikasi profetik inspiratif. Nabi selalu berkomunikasi mencerdaskan, bukan membodohi; mendidik bukan menghardik; berempati sepenuh hati, bukan bersikap antipati; menyentuh hati dan akal budi bukan menyakiti dan memusuhi; mempengaruhi lawan menjadi kawan, memberdayakan segenap potensi, bukan mengeksploitasi dan mengingkari janji, mencerahkan dan men umbuhkan harapan, bukan mengintimidasi dan menyuramkan masa depan, memberi teladan kebaikan bukan mengumbar pencitraan.

Hijrah Nabi menginspirasi perubahan sosial politik yang didesain dan diproyeksikan menjadi peradaban yang berkemajuan dan berkeadaban. Dimulai dengan mengubah Yatsrib menjadi Madinat an-Nabi atau al-Madinah al-Munawwarah, yang secara semantik berarti “kota atau tempat berperadaban yang tercerahkan dan dicahayai nilai-nilai Ilahi”, lalu dilanjutkan dengan pembangunan masjid sebagai pusat komunikasi, konsolida si, ibadah, pendidikan dan kaderisasi umat.

Inspirasi Nabi dalam pembangunan Madinah itu bervisi masa depan, sehingga pembangunan Madinah itu bukan hanya dari, oleh, dan untuk umat Islam, melainkan untuk semua warga bangsa yang majemuk. Karena itu, inspirasi masa depan Nabi diwujudkan dengan membuat kontrak sosial politik bagi warga Madinah yang beragama Yahudi dan Nasrani untuk bisa hidup bersama dengan tertib hukum, rukun, damai, dan bersatu dengan segala hak dan kewajiban sekaligus kebebasan dalam beragama.

Sungguh komunikasi Nabi dalam berdiplomasi dan berdialog lintas sosial kultural men jadikan semua warga merasa aman, damai, dilindungi, bersatu, dan diperlakukan adil dan bijaksana di depan hukum.

Inspirasi masa depan dikukuhkan dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, sekaligus menegakkan su premasi dan keadilan hukum bagi semua, menghidupkan pasar tradisional Madinah, dan melakukan komunikasi internasional dengan mengirim surat dakwah kepada para raja dan pemimpin di luar Jazirah Arab.

Walhasil, kesuksesan hijrah Nabi dalam mewujudkan masyarakat Madinah yang berperadaban maju, adil, makmur, dan sejahtera lahir dan batin itu merupakan hasil dari strategi komunikasi persuasi dan inspirasi kenabian yang berorientasi masa depan. Selamat Tahun Baru Hijriah 1441 H.

Dr Muhbib Abdul Wahab MAg, Ketua Program Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Koran Sindo, 31 Agustus 2019. (lrf/mf)

Share This