Chongqing, BERITA UIN Online— “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China karena sesungguhnya mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” Begitulah kira-kira Sabda Nabi Muhammad SAW yang populer di kalangan masyarakat Muslim seperti diriwayatkan sejumlah perawi hadits. Beberapa diantaranya seperti al-Sakhawi dalam al-Maqasid al-Hasanah (hn. 125), al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Rihlah fi Talab al-Hadist, Ibn Abd al-Barr dalam Jami’ al-‘Ilm dan al-Daylami dalam Musnad al-Firdaws.

Pesan Nabi SAW seperti demikian sepertinya dihayati betul oleh Vania Puti Mahsa, mahasiswi semester VI Prodi Agribisnis, Fakultas Sains dan Teknologi UIN Jakarta ini. Saat mahasiswa-mahasiswi UIN Jakarta lainnya memilih Kuliah Kerja Nyata atau KKN melalui jalur KKN Kebangsaan atau KKN Mandiri, ia memilih KKN Internasional. Dan, dari beberapa negara yang jadi tujuan, Vania justru memilih KKN di Negeri Tirai Bambu, bukan India, Turki, Thailand atau Malaysia.

“Saya memilih negara China karena negara ini sangat kental dengan budayanya. Dan saya ingin mengetahui bagaimana Indonesia dimata negeri Tiongkok ini,” paparnya saat dihubungi BERITA UIN Online, Rabu (31/7/2019).

Selain itu, jelasnya lagi, ia sengaja memilih China sebagai lokasi KKN karena besarnya pengaruh budaya dan perekonomian negara tersebut terhadap perekonomian global. Maklum, China memiliki sejarah panjang peradaban dunia seperti filsafat dan etika. Sedang dari sisi perekonomian, sebutnya, China merupakan salahsatu negara dengan aktifitas bisnis yang cukup menentukan perekonomian dunia.

Tak hanya itu, Vania juga memilih China sebagai lokasi KKN untuk melihat lebih dekat tentang kehidupan masyarakat Muslim di negara tersebut. Diketahui, selain menjalankan praktek Buddhisme, Taoisme, Konfusianisme, dan religi lokal lainnya, China merupakan salah satu negara dengan komunitas Muslim berkembang di dalamnya. “Saya juga ingin mengetahui bagaimana peradaban Islam di negeri China,” jelasnya.

Vania menjelaskan, ia sendiri lolos seleksi mengikuti program KKN Internasional melalui program pengabdian masyarakat yang ditawarkan Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) UIN Jakarta. Unit pengabdian UIN Jakarta ini bekerjasama dengan organisasi kepemudaan internasional Association for the International Exchange of Students in Economics and Commerce atau AIESEC.

Berbekal informasi yang dapat dari akun instagram demaFST, Vania pun langsung mendaftar program KKN tersebut. Ia pun sempat harap-harap cemas jika proposal keikutsertaannya tidak lolos seleksi. “Saya sangat tertarik untuk mengikutinya karena ingin mencari pengalaman dan saya sudah pernah mendengar sebelumnya jika di UIN ada KKN International,” ungkapnya.

Menurutnya, mendaftar program KKN Internasional juga cukup lumayan harus bersaing. Namun ia merasa tetap bersemangat karena ini merupakan peluangnya untuk bisa mengenal masyarakat, budaya, dan negara lain. Beruntung Vania pun bisa mengikuti seleksi dengan lancar. “Saya juga diwawancara oleh perwakilan AIESEC dari negara tujuan yaitu China,” jelasnya tentang fase seleksi program yang diikutinya.

Setelah diumumkan diterima, Vania pun sudah berangkat ke China sejak pertengahan akhir Juli ini. Ia ditempatkan di wilayah Chongqing. Diketahui, Chongqing merupakan salah satu kawasan terbesar keempat di daratan China setelah Beijing, Shanghai, dan Tianjin. Daerah yang mencakup 9 distrik dan dialiri sungai Yangtze dan Jialing ini merupakan wilayah dengan bentangan pegunungan. Selain pertanian buah-buahan dan sayur-sayuran, Chongqing merupakan kawasan industri kendaraan bermotor terpenting di China.

Sejak mengawali kegiatan KKN-nya, Vania mengaku lebih banyak belajar tentang kehidupan masyarakat China sekaligus menjelaskan kebudayaan Indonesia kepada mereka. Ia bersama teman-teman peserta KKN dari FITK UIN Jakarta menginisasi beberapa program seperti program bertajuk “Sharing Culture” . Program ini dirancang untuk mengenalkan dan mengajar budaya dan kesenian indonesia seperti Tari Saman, lagu-lagu daerah, wayang, dan kerajinan tangan.

“Saya dan teman-teman juga terpikir untuk membantu melatih bahasa Inggris  anak-anaknya. Karena kemampuan bahasa Inggris mereka sangat terbatas. Apalagi kami tinggal di wilayah perdesaan,” paparnya.

Rendahnya kemampuan bahasa asing, sebutnya, menjadi kendala tersendiri saat peserta KKN harus berkomunikasi dengan mereka. Jika pun ada yang mampu, para mahasiswa harus berbicara bahasa Inggris secara perlahan sehingga mereka bisa menangkapnya. “Akibatnya sulit untuk kami bisa berkomunikasi dengan baik. Sering kami harus menggunakan body language untuk sekedar bertanya atau menjelaskan sesuatu,” katanya.

Beberapa waktu melakukan program KKN di sana, Vania menemukan hal yang unik. Jika selama ini banyak yang berprasangkan bahwa masyarakat Tiongkok individualis, justru Vania menemukan kenyataan sanngat berbeda di sana. “Yang saya rasakan di sini, justru semua orang sangat baik dan ramah dengan saya, mereka sangat menghargai orang asing. Seperti host family (keluarga angkat, red.) saya, mereka sangat menyayangi saya dan menangis saat berpisah,” katanya.

Selain itu, sebagai mahasiswi Muslimah berhijab Vania juga seringkali dihadapkan kepada banyak pertanyaan tentang kerudung yang digunakannya. Pertanyaan mereka biasanya seputar apa itu jilbab, fungsi, maupun alasan Vania menggunakannya. “Tapi setelah dijelaskan mereka sangat menghargai,” jelasnya. (vpm/zm)

Share This