Thailand, BERITA UIN Online— Kuliah Kerja Nyata (KKN) acapkali jadi kegiatan paling ditunggu mahasiswa setelah sebagian besar mata kuliah telah terselesaikan. Mengabdikan diri secara langsung ke tengah-tengah masyarakat dengan berbagai aktifitas sosial seperti mengajar anak-anak dan gotong royong adalah ragam kegiatan menarik KKN. Selain bisa belajar hidup di tengah-tengah masyarakat, mahasiswa juga bisa memahami keunikan dan permasalahan kehidupan sosial masyarakat.

Karenanya, selain memilih mengabdikan diri di tengah-tengah komunitas yang masih guyub seperti di perdesaan via KKN Mandiri, tidak sedikit dari mahasiswa memilih pengabdian di jalur KKN Kebangsaan. Di UIN Jakarta, KKN pertama dilakukan di banyak perdesaan Kabupaten Bogor, Kabupaten Tangerang, hingga pesisir wilayah Kota Tangerang. Sedang KKN kedua dilakukan di berbagai wilayah kepulauan Indonesia.

Demikian pula halnya Ayu Erfiana, mahasiswi semester VI Jurusan Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin, UIN Jakarta. Setelah sebagian besar mata kuliah telah ia selesaikan, kali ini gilirannya untuk ikut melakukan KKN. Namun alih-alih memilih KKN Mandiri atau KKN Kebangsaan, Ayu memilih KKN di negeri orang, Negeri Gajah Putih Thailand.

Saat Pusat Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) UIN Jakarta membuka peluang KKN Internasional 2019, Ayu tanpa berpikir panjang langsung mengajukan diri sebagai peserta program KKN tersebut. Dari beberapa negara yang ditawarkan, Ayu lebih memilih melakukan KKN di Thailand. Beberapa mahasiswa UIN Jakarta lainnya memilih KKN Internasional di berbagai negara seperti India, Turki, Tiongkok, atau Malaysia.

Program KKN Internasional sendiri merupakan program kerjasama UIN Jakarta dan organisasi kaum muda dunia atau Association Internationale Des Étudiants En Sciences Économiques Et Commerciales (AISEC). “Alhamdulillah proposal KKN saya ke Thailand diterima,” syukurnya.

Thailand, sengaja dipilih Ayu karena latarbelakangnya sebagai mahasiswi Studi Agama-Agama. Di jurusan ini ia mempelajari keunikan kebudayaan dan keberagamaan masyarakat berbagai bangsa. Dan Thailand sendiri adalah satu dari sekian negara dengan mayoritas masyarakat mempraktikan ajaran Buddha, sedang pemeluk Islam, Kristen dan umat agama lainnya hanya minoritas.

Sejak akhir pertengahan Juli ini, Ayu sendiri sudah berangkat ke Thailand. Bersama mahasiswa dari negara-negara lain, Ayu ditempatkan di distrik Nakhon Rachotsima, Provinsi Nakhon Rachotsima. Daerah ini terletak di barat laut Thailand. Jika ditelisik sejarahnya, daerah yang juga disebut Khorat ini berbatasan langsung dengan Laos dan Kamboja, sampai saat ini pun masyarakatnya dikenal sebagai orang Thailand berbahasa Lao, atau disebut juga sebagai Orang Isan.

Ayu menuturkan, untuk menjangkau wilayah ini, ia membutuhkan perjalanan darat dengan kendaraan pribadi selama 4-5 jam. Dikenal sebagai wilayah yang masih asri di Thailand, pemukiman yang Ayu tempati di distrik Nakhon Rachotsima ini sebagian besar kawasan tinggal di perkebunan dan pertanian. Masyarakatnya lebih banyak bertani sayur-sayuran dan buah-buahan seperti semangka dan sebagainya.

“Hanya di sini, cuacanya lebih panas. Di atas 30 derajat celcius. Mungkin panasnya seperti terik siang hari di pasar Ciputat,” terang Ayu tertawa.

Ayu menuturkan, untuk program KKN-nya, ia ditempatkan di Nang Boa Noi School, sebuah sekolah di perdesaan Nakhon Rachotsima. Sekolah ini terdiri dari Kinder garden (taman kanak-kanak) sampai Primary School (sekolah dasar) dengan puluhan murid yang diajar tujuh orang guru, termasuk seorang kepala sekolah. Uniknya, dari sekian banyak guru tidak ada guru yang bisa mengajar bahasa Inggris.

“Mereka pernah memiliki guru bahasa Inggris akan tetapi sekarang sudah tidak mengajar lagi disekolah ini. Memang, ada dua guru saja yang bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris dengan kami. Itupun terkadang pengucapan bahasa Inggrisnya susah difahami,” terangnya.

Otomatis, dengan kondisi demikian, Ayu pun diminta mengajar bahasa Inggris. Namun mengajar mereka juga bukan hal mudah, tuturnya, sebab untuk mengajarnya Ayu pun harus bisa menjelaskannya ke dalam bahasa Thai. Akibatnya, Ayu pun mau tak mau harus belajar kilat bahasa Thai.

“Para murid tidak banyak bisa berbicara bahasa inggris, maka dari itu saya mengajar mereka menggunakan bahasa Thai meskipun saya sebelumnya tidak bisa berbicara bahasa Thai bahkan tidak mengerti tulisan Thai,” tuturnya.

Beruntung, Ayu sempat mendapat pelatihan bahasa Thai dasar saat ditempatkan di AIESEC Assumption University Thailand beberapa hari sebelum ditempatkan di wilayah KKNnya. Namun tetap saja, Ayu pun harus bekerja keras belajar bahasa mereka. “Perbedaan bahasa ini sangat menantang banget,” imbuhnya.

Selain mengajar bahasa Inggris, Ayu juga mengaku banyak belajar tentang kebudayaan masyarakat Thailand. Diantaranya, sikap penghormatan terhadap raja dan sikap religius mereka untuk selalu berdoa dan bersyukur saat memulai hari atau menutup aktifitas di malam hari. Praktik dan ajaran Buddhisme di perdesaan tempatnya KKN sangat kental dilakukan masyarakatnya.

“Saya sangat bersyukur mereka sangat welcome dengan saya yang berbeda agama dengan mereka. Bahkan mereka sangat baik sekali kepada saya setelah tahu bahwa saya Muslimah,” katanya.

Ada banyak peristiwa unik saat pertama kali Ayu menginjakan kaki ke perdesaan tempatnya KKN. Salahsatunya mereka sangat heran dengan jilbab yang ia gunakan. “Mereka terheran, (kerudung, red.) ini untuk apa? Mengapa repot-repot menggunakannya. Setelah dijelaskan, mereka pun mengerti,” tambahnya lagi.

 

Ayu menambahkan, saat mengajar di kelas dan berinteraksi dengan para guru sekolah, ia juga banyak memberikan informasi tentang Indonesia dan kebudayaan Nusantara. Penjelasannya bahwa peradaban Nusantara yang turut diwarnai semangat Hindu-Buddha dan adanya kebebasan beribadah bagi umat agama Buddha di Indonesia yang mayoritas Muslim saat ini menarik perhatian mereka tentang harmoni umat agama di Indonesia.

“Semoga saya bisa melaksanakan KKN ini dengan lancar hingga akhir Agustus nanti. Terpenting, saya juga bisa belajar banyak hal positif di sini sekaligus menjelaskan kebudayaan Indonesia dan UIN Jakarta kepada masyarakat Thailand,” pungkasnya. (ayu e/zm)

Share This