oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam Nashaih al-Ibad, Syaikh Nawawi Banten menulis tentang khasiat sepuluh surat. Pertama, surat al-Fatihah berkhasiat mencegah kemarahan Allah. Secara statistik, al-Fatihah adalah surat pertama dalam al-Qur’an yang diturunkan di Mekah atau sebelum hijrah karena itu tergolong makiyah. Al-Fatihah disebut juga induk al-Qur’an dan induk al-Kitab. Alasannya, karena isinya mencukup semua kandungan al-Qur’an. Ada yang menyebut al-Fatihah sebagai al-Sab’u al-Matsani karena tujuh ayat itu dibaca berulang-ulang, terutama dalam shalat.

Kedua, surat Yasin berkhasiat mencegah rasa haus pada hari kiamat. Dalam hadits Imam Tirmidzi, Nabi SAW bersabda, “Segala sesuatu memiliki jantung. Jantungnya al-Qur’an adalah surat Yasin. Siapa yang membaca surat Yasin, maka Allah akan mencatat baginya seperti membaca al-Qur’an sepuluh kali” (HR. Tirmidzi). Secara interpretatik, Syaikh Khamami Zadah dalam Tafsir Surat Yasin menggambarkan kandungan surat tersebut dipenuhi dengan kehidupan sesudah kematian, yakni perjalanan manusia mulai hari berbangkit hingga kehidupan akhirat.

Ketiga, surat al-Dukhan mencegah terjadinya kesusahan di hari kiamat. Secara sosio-historis surat ke-44 dengan 59 ayat ini turun terkait dengan perlakuan orang kafir kepada Nabi SAW yang telah melewati batas. Dalam hadits Imam Bukhari yang bersumber dari Ibnu Mas’ud Nabi SAW berdoa kepada Allah agar diturunkan azab sebagaimana yang telah diturunkan kepada orang-orang yang durhaka kepada Nabi Yusuf, yakni kemarau panjang. Akhirnya, mereka menderita kekurangan hingga mereka memakan tulang.

Setelah keadaan itu berlangsung lama, mereka menengadah ke langit dengan harapan akan turun hujan. Namun nihil, tidak ada yang mereka lihat kecuali kabut yang menutupi pandangan mereka. Lantas Allah menurunkan ayat, “Maka tunggulah hari ketika langit membawa kabut yang nyata” (QS. al-Dukhan/44: 10). Akhirnya mereka mendatangi Nabi SAW agar beliau berdoa kepada Allah mohon diturunkan hujan. Setelah hujan diturunkan Allah, mereka kembali kafir seperti semula.

Keempat, surat Waqi’ah mencegah kefakiran. Surat ke-56 yang berada di antara surat al-Rahman dan al-Hadid ini terdiri dari 96 ayat. Secara literal surat ini berarti “kiamat”. Namun begitu surat ini dikenal juga dengan surat “kaya”. Dasarnya bisa jadi dari sabda Nabi SAW, “Siapa saja yang membaca surat Waqi’ah setiap malam, dia tidak akan menderita kemiskinan selama-lamanya” (HR. Abu Ya’la dan Ibnu Asakir). Namun yang pasti jika surat ini dibaca dengan tulus, maka Allah akan memberi karunia-Nya, lebih dari sekadar kekayaan.

Kelima, surat al-Mulk mencegah siksa kubur. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa membaca surat “Tabarak Alladzi bi Yadihi al-Mulku” setiap malam, maka AllAh Azza wa Jalla menghindarkannya dari azab kubur. Dahulu kami (para sahabat) pada masa Rasulullah SAW menamainya dengan “al-Mani’ah”, (yang artinya “pencegah”). Sungguh surat tersebut ada dalam Kitabullah. Siapa saja yang membacanya dalam suatu malam, maka ia telah banyak berbuat kebaikan” (HR. Nasa’i).

Keenam, surat al-Kautsar mencegah terjadinya permusuhan. Secara statistik al-Kautsar adalah surat terpendek dalam al-Qur’an yang berbeda dengan al-Baqarah sebagai surat terpanjang dengan 286 ayat, 6121 kaimat dan 25.500 kuruf. Al-Kautsar itu sendiri hanya 3 ayat, 10 kalimat, dan 42 huruf. Persamaan keduanya adalah sama-sama kelompok surat makiyah. Ayat ini turun terkait Ash Ibnu Wail yang memusuhi Nabi SAW yang kemudian terputus (abtar), yakni terputus dari karunia Allah, di antaranya tidak bisa minum dari telaga surga (al-Kautsar).

Nabi SAW bersabda,“Al-Kautsar adalah sebuah sungai (telaga) yang diberikan kepadaku oleh Tuhanku di dalam surga. Padanya terdapat kebaikan yang baik. Umatku kelak akan mendatanginya di hari kiamat. Jumlah wadah-wadah (bejana-bejananya) sama dengan bilangan bintang-bintang. Diusir darinya seseorang hamba, maka aku berkata, “Ya Tuhanku, sesungguhnya dia dari umatku.” Maka dikatakan, “Sesungguhnya kamu tidak mengetahui apa yang telah dibuat sesudahmu” (HR. Ahmad).

Ketujuh, surat al-Kafirun berkhasiat mencegah kekafiran ketika dicabut ruh. Untuk itu, agar pada saat dicabut ruh diberkahi Allah dan sesudahnya begitu pula, perlu kiranya diperhatikan dialog Nabi SAW dengan isteri beliau, yakni Aisyah dalam hadits Iman Thabrani. Nabi SAW bersabda, “Barang siapa yang membaca doa ini sebanyak 25 kali selepas subuh dan maghrib. Jika ia mati, maka matinya dalam keadaan mati syahid dan kematiannya adalah husnul khatimah”

“Jadikan amalan ini setiap hari. “Allahumma barikli fil maut wa fima ba’dal maut”. Aisyah pernah bertanya kepada Nabi SAW, “Adakah ia betul itu yang syahid hanya satu siapa yang terbunuh di jalan Allah?” Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Aisyah, jika itulah yang terjadi kepada orang yang mati syahid dari umatku, maka akan menjadi sedikit. Siapa saja yang berdoa, “Allahumma barikli fil maut wa fima ba’dal maut” 25 kali setiap hari dan meninggal dunia di tempat tidurnya, Allah akan memberinya pahala syahid” (HR. Tabrani).

Kedelapan, surat al-Ikhlas mencegah kemunafikan. Secara sosio-historis, surat ini turun berdasar riwayat Ibay Ibnu Ka’ab yang bercerita ada sekelompok orang musyrik yang berkata kepada Nabi SAW, “Hai Muhammad, gambarkan kepada kami tentang Tuhanmu”. Lantas Allah menurunkan surat al-Ikhlas. Ikhlas itu artinya tulus, bersih, tidak munafik. Ada berita gembira dari Nabi SAW, “Siapa saja yang membaca surat al-Ikhlas hingga selesai 10 kali, maka Allah akan membangunkan untuknya sebuah rumah di surga” (HR. Ahmad).

Kesembilan, surat al-Falaq mencegah iri hati. Hal ini dengan mudah dapat diketahui dari ayat 1 hingga 5. “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh. Dari kejahatan makhluk-Nya. Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita. Dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul. Dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki” (QS. al-Falaq/113: 1-5). Aisyah berkata, “Sesungguhnya Rasulullah SAW merasa sakit, baginda membaca Muawwidzat (al-Falaq) lalu meniupnya…” (HR. Bukhari).

Kesepuluh, surat al-Naas mencegah was-was. Was-was berasal dari bahasa Arab, yakni al-Waswas yang artinya terlintas di dalam hati dan pikiran, seperti prasangka dan khayalan yang tidak benar. Agar terbebas dari was-was (bisikan/kejahatan) dari jin dan manusia hendaknya dibaca surat ini. “Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan manusia. Raja manusia. Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia. Dari (golongan) jin dan manusia” (QS. al-Naas/114:1-5).*(sam/mf)

Share This