Auditorium Harun Nasution, BERITA UIN Online Dalam rangka kegiatan Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), Dewan Mahasiswa (DEMA) FITK mengundang Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siradj pada Rabu, (28/8/2019) di Auditorium Harun Nasution.

Acara dibuka Dekan FITK Dr Sururin MAg dihadiri Rektor UIN Jakarta Prof Dr Amany Lubis MA, Ketua Program Studi Himpunan Pidana Islam Fakutlas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Jakarta, sejumlah alumni UIN Jakarta, dan ribuan mahasiswa baru yang terdiri dari 3 fakultas, yaitu FITK, FSH dan Fakultas Ushuludin (FU).

KH Said dalam paparannya menyampaikan tentang moderasi beragama dengan tema “Terwujudnya Mahasiswa Akademis, Kritis, Inovatif dalam Mengamalkan Nilai-Nilai Keislaman dan Keindonesiaan.“

KH Said menegaskan bahwa kecerdasan adalah hal utama yang diperlukan untuk bisa bersikap moderat. Dicontohkannya, ada ulama kelahiran Palestina yang membangun pondasi moderatisme pada syariah, yaitu al-Imam Muhammad ibn Idris al-Syafi’i, merupakan seorang ulama pendiri mazhab Syafi’i dan salah satu tokoh moderat dalam bidang Fiqih.

Ia juga menjelaskan tentang lahirnya prinsip-prinsip wasathiyah fis syariah yang dipelopori oleh Imam Syafi’i sebagai bentuk peletakan dasar washatiyah di syariah tersebut.

“Ulama yang wafat dan dimakamkan di Mesir itu menggabungkan nash-nash yang termaktub dalam Alquran dan Hadits dengan akal,” ujar KH Said.

Dalam bidang akidah, lanjutnya, terdapat satu orang yang berjasa dalam meletakkan dasar moderatisme, yaitu Imam Abul Hasan Ali al-Asy’ari, yang menggabungkan nash-nash Alquran dan Hadits dengan akal.

Ditambahkannya, di dalam Alquran tidak disebutkan bahwa salah satu sifat wajib Allah adalah wujud. Sedangkan, menurut Imam al-Asy’ari dinyatakan bahwa sifat wajib pertama di antara 20 sifat wajib lainnya Allah adalah sifat wujud.

Dalam bidang politik, ujar alumni Universitas Ummul Quro Mekah itu, seorang ulama yang berhasil meletakkan moderatisme adalah Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari yang termasyhur sebagai ulama moderat dan cerdas. Salah satu tokoh pendiri NU tersebut merasakan bahwa khilafah Islam sudah mulai terkikis, sehingga dalam perjuangannya beliau sempat mengeluarkan kalimat ‘Hubbul Wathon Minal Iman,” yaitu Nasionalisme bagian dari Iman.

Sementara itu, dalam sesi tanya jawab, KH Said menanggapi tiga pertanyaan tentang pembatasan dalam pembaharuan Islam, penanggulangan radikalisme di kampus, dan Alquran dan Hadis sebagai teks.

Dijawabnya, batas pembaharuan seperti bayan (doktrin) itu tidak bisa dirasionalkan atau diperbaharui. Terkait radikalisme di kampus, ia memberikan himbauan kepada mahasiswa jangan sampai terprovokasi oleh gerakan tersebut karena akan sangat membahayakan persatuan negara.

Selanjutnya dijelaskan juga bahwa Alquran dan Hadits merupakan teks yang sakral dan akal harus digunakan untuk memahami nash-nash Alquran.

“Ijtihad menggunakan akal itu dalam rangka memahami Alquran dan Hadis,” pungkasnya. (lrf/mf/afy)

Share This