Saat ini banyak pemerintahan kota berbenah melakukan berbagai penyegaran kotanya. Melimpahnya informasi, beragamnya flatform media yang bisa mengapungkan identitas dan kelebihan (termasuk juga kekurangannya) menjadikan kota-kota seperti anak-anak yang mengalami pertumbuhan massif.

Tentu saja, bertumbuhnya kota-kota secara massif ini bisa dimaknai secara positif. Di mana pertumbuhan dan perkembangan kota didorong oleh potensi yang ada di kota tersebut.

Contoh di Kota Ternate, tempat yang baru saya kunjungi untuk tugas Negara. Kota kecil nun jauh di timur tersebut terlihat sedang berbenah untuk menjadikan kotanya indah, bersih, dan nyaman. Mungkin saja basisnya ingin menjadikan kota ini sebagai kota yang berkarakter dalam bidang tertentu. Slogan “Kotaku” menjadi semacam penahbis identitas di tengah kontestasi tidak terlihat sesama kota. Di beberapa titik destinasi ada media kampanye suatu event kreatif berbasis kota. Slogan kota kreatif, warga kreatif, dan sebagainya, ditemukan di beberapa titik. Berbagai spot wisata ditawarkan. Para penjaga tempat wisata ramah menyapa para pelancong. Menjelaskan setiap kronologi kawasan, sampai ke detilnya.

Tentu saja, Kota Ternate tidak sendirian. Banyak kota lain juga melakukan hal sama atau mirip. Prinsip ATM (amati, tiru, modofikasi) untuk bidang kreatif sudah lumrah dilakukan berbagai kalangan. Keinginan untuk melambungkan citra kota seperti suatu gelombang ombak yang menggedor-gedor beragam pihak, untuk melakukan reorientasi kota. Sebab, jika hanya mengandalkan kemampuan keuangan dan imajinasi para birokratnya, bisa jadi kota akan mengalami stunting atau obesitas tidak terkendali.

Manusia sebagai Inti

Beberapa pemerintah kota kemudian mulai menyadari bahwa ada berbagai potensi yang selama ini kurang dipahami dengan tepat. Potensi ini melekat pada manusia.
Apapun pekerjaannya, kualifikasinya dalam kehidupan sosial, maupun posisinya dalam kebudayaan masyarakat, tetap saja bahwa manusia merupakan inti dari segala dinamika. Manusia ini yang mengeja harapan. Mereka, bersama-sama yang lain, mengejawantahkannya dalam ruang kehidupan. Dengan harapan yang demikian besar, tidak jarang, apa yang ditanam hari ini, dimaksudkan untuk dipetik generasi mendatang.

Kota-kota kreatif, sebagaimana sering saya sampaikan dalam beragam kesempatan, kemelekatannya justru pada manusianya. Oleh karena sektor kreatif itu energinya adalah akal budi. Akal budi yang terasah untuk menghasilkan sikap dan tindakan positif berkecenderungan melahirkan jiwa-jiwa kreatif.

Jiwa atau pribadi kreatif ini merupakan jangkar kota kreatif. Sebab di tangan mereka, sesuatu yang biasa, akan berubah menjadi luar biasa secara sosial, budaya, ekonomi, bahkan spiritual.

Kekurangpahaman akan ontologi dan epistemologi kreativitas pada pemerintah maupun para pihak di suatu kota, berpotensi menghasilkan destruksi sosial. Destruksi ini hadir karena ketidakpuasan atas harapan yang ditetapkan, dengan realitas yang didapatkan. Apalagi jika didera budaya instan yang akut, sehingga selalu ingin tanpa tahu proses.

Agar tidak kehilangan momentum, berikut beberapa langkah strategis yang bisa dilakukan olah pemerintah kota dalam menumbuhkan, merawat, dan mendifusikan energy kreatif di kota-kota.

Pertama, kader kreatif. Sebelum mengeksekusi program kreatif pada suatu kota, adakah tokoh atau kelompok kreatif yang benar-benar idealis untuk membangun kultur kreatif di kota tersebut. Jika ada, maka mereka bisa dijadikan subyek kreatif. Biasanya para kader kreatif ini selalu tertantang untuk menghasilkan sesuatu yang baru, yang mendobrak, distingtif, dan diterima “pasar”.

Kedua, lembaga ilmu pengetahuan yang mensupport energi kreatif ini. Akan sangat baik jika levelnya perguruan tinggi lokal. Sehingga partisipasi dan kualifikasi unsur kreatif berbasis lokal bisa muncul dengan kualitasnya.

Ketiga, event berkelanjutan. Kreativitas yang merupakan proses jangka panjang, harus diendorse terus menerus. Mungkin tidak perlu sampai massif, tetapi agendanya harus jelas, terencana, dan memang dilangsungkan dalam rentang waktu yang panjang: misalnya per sebulan sekali selama dua atau tiga tahun. Kegiatan ini dilangsungkan untuk menyadarkan dan sekaligus merawat memori public akan tindakan-tindakan kreatif.

Keempat, kolaborasi dan kemitraan. Kemitraan tidak selalu hanya dengan perusahaan (sponsor), tetapi lebih jauh dengan berbagai pihak (pebisnis, pemerintah, akademisi, komunitas, dll.) yang memiliki kesadaran yang sama dengan agenda dan road map kota. Kemitraan dan kolaborasi ini bisa jadi ajang pembelajaran mengenai agenda menumbuhkan industri atau ekonomi kreatif berbasis kawasan budaya, atau kawasan lainnya.

Dr Tantan Hermansah SAg MSi, Dosen Sosiologi Perkotaan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Koran Sindo, Kamis, 5 September 2019. (lrf/mf)

Share This