Kemunduran Islamisme di Timur Tengah bisa dilihat paling jelas dalam beberapa fenomena utama: Pertama, represi pemerintah Jendral Abdel Fatah El-Sisi terhadap para pemimpin dan aktivis al-Ikhwan al-Muslimin (IM); kedua, kekalahan ISIS di berbagai front pertempuran di wilayah Irak dan Syria; ketiga, arah baru kebijakan Pemerintah Arab Saudi di bawah komando putra mahkota, Pangeran Muhammad bin Salman; keempat, Krisis Turki yang masih di bawah kekuasaan Presiden Erdogan.

Sejak Jendral El-Sisi memegang kekuasaan, IM kelihatan tidak berdaya sama sekali dalam sejarahnya setelah tumbangnya kekuasaan Presiden Husni Mubarak pada 2012. Pada masa El-Sisi lebih dari 2.000 aktivis IM dijatuhi hukuman mati tanpa pengadilan yang adil dan berlangsung rata-rata hanya tiga menit.

Selain itu, rezim penguasa juga menahan banyak sekali orang yang terduga berafiliasi dengan IM dijatuhi; menutup semua lembaga milik IM, seperti rumah sakit, klinik, dan sekolah; lalu membekukan rekening bank milik anggota atau simpatisan IM.

Menghadapi persekusi ini, tidak ada pihak di Timur Tengah atau internasioanal lebih luas yang membela IM. Sejauh ini tampak tidak ada yang bisa dilakukan IM. Tidak diketahui pasti sampai kapan IM mampu bertahan menghadapi masa-masa sangat sulit seperti itu.

Kemunduran ideology Islamisme yang mengusung khilafah dan syari’ah di Timur Tengah juga terlihat dengan kekalahan ISIS. Hampir seluruh wilayah yang pernah ditaklukkan ISIS kini sudah kembali dikuasai Pemerintah Irak dan/atau Pemerintah Syria. Kekuatan internasional sejak dari Rusia, Iran, Turki, dan AS yang juga ikut main di wilayah tersebut terlalu kuat untuk bisa dihadapi ISIS.

Sejauh ini tidak terlihat tanda-tanda ISIS (Da’is/Dawlah Islamiyah) bisa bangkit kembali. Bayak Muslim dan Muslimat dari berbagai negara yang pernh bergabung dengan ISIS ramai-ramai meninggalkan wilayah yang dulu dikuasai Da’is. Mereka terlunta-lunta; sebagian negara menolak mereka, dan sebagian lagi menerapkan pembatasan sangat ketat.

Namun, setback yang dialami Da’is tidak serta-merta membuat ideologi dan gerakan Islamisme radikal mengalami kemunduran. Banyak diantara mereka kini tiarap-menjadi laten untuk kemudian bisa bangkit sewaktu-waktu jika ada faktor pemicunya.

Pada spectrum lain, kemunduran Islamisme terlihat dengan perubahan politik dan ideologis di Arab Saudi. Sangat giat menyebarkan ideology Islamisme-Wahabisme khususnya sejak awal tahun 1998-an ke berbagai pejuru dunia, sejak tiga tahun terakhir putra mahkota Muhammad bin Salman (MbS) melakukan banyak perubahan drastis.

Pangeran MbS menyatakan ideologi Wahabime yang dipegang  dan disebarkan Arab Saudi selama ini telah menciptakan berbagai masalah semacam literalisme, ekstremisme, dan radikalisme di berbagai negara. Saudi ingin meninggalkan sejarah gelap itu. oleh karna itu, Saudi mau kembali ke akarnya, yaitu ‘Islam wasathiyah’. Tidak begitu jelas ‘Islam wasathiyah’ seperti apa yang dimaksudkan pangeran MbS.

Pangeran MbS juga melakukan berbagai reformasi dan liberalisasi dalam kehidupan warga Saudi. Pangeran MbS mencabut larangan bagi kaum perempuan menyetir mobil dan memiliki rekening bank. Dia melonggarkan pembatasantentang cara berpakaian Muslimah; membolehkan menonton sepak bola di stadion. Dia mengizinkan pembukaan diskotik di Jeddah.

Representasi ‘Islamisme lunak’ (soft Islamism) juga tengah mengalami kemunduran. Ini adalah Turki di bawah kepemimpinan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Berkuasa pertama kali sebagai persdana mentri sejak 2003 kemudian menjadi presiden sejak 2014, tulang punggung islamisme lunaknya adalah Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP/Adalet va Kalkinma Partisi).

Erdogan dengan Islamisme lunak berhasil memajukan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Turki. Tetapi dalam beberapa tahun berakhir, berbagai masalah mulai berdagangan; mulai dari ‘kudetra’ yang disebut didalangi Fatullah Gulen (16 juli 2016) sampai pada kesulitan ekonomi. Kini Turki disebut memasuki resesi karena pertumbuhan ekonomi yang negatif.

Erdogan membangkitkan euforia banyak kalangan muslim. Dia sering dipandang sebagai model pemerintah yang berorientasi Islam yang berhasil memajukan Turki. Tetapi dengan krisis politik dan ekonomi Turki sekarang, menjadi tanda tanya besar tentang masa depan soft Islamism.

Ditengah kemunduran Islamisme di banyak front di dunia Muslim, kenestapaan dan kepedihan umat Islam terus berlanjut. Konflik yang tidak terselesaikan, baik internal satu negara muslim tertentu maupun di antara beberapa negara Muslim membuat agenda pembangunan untuk memajukan warga tidak bisa terlaksana. Dengan demikian, mendung masih terus menggayuti banyak kawasan dunia Muslim.

Prof Dr Azyumardi Azra MA, Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Resonansi Koran Republika, Kamis, 26 September 2019. (lrf/mf)

Share This