Di bulan Mei ini ada peringatan Hari Keluarga Internasional (15/5), Hari Buku Nasional (17/5), dan Hari Keluarga (29/5). Hubungan keluarga dan buku sangat erat, sebab budaya membaca anak dimulai dari rumah. Orangtua merupakan kunci dalam melahirkan tradisi membaca anak.

Keluarga pembaca akan melahirkan anak yang hobi membaca, buku, majalah, maupun koran. Akan tetapi, di era digital ini, literasi membaca menghadapi tantangan yang tidak ringan, di antaranya dari internet dan media sosial: penyebaran hoax, baik tulisan, gambar, maupun video.

Membaca Hoax

Buku sudah lama ditinggalkan, digantikan telepon pintar (smart phone). Muda dan tua tidak membaca buku tetapi membaca media sosial: facebook dan whatsapp. Hampir semua orang memiliki akun media sosial. Mereka membeli paket kuota internet dengan perasaan ringan, tetapi sangat berat membeli buku.

Informasi dalam buku berbeda dengan konten media sosial. Buku berisi pengetahuan yang benar, sementara media sosial sebagiannya hoax. Sebelum terbit, sebuah buku mengalami proses koreksi yang berlapis. Di medsos, konten apa pun bisa dengan mudah masuk, tanpa koreksi sama sekali.

Penulis buku dapat dipercaya, sedangkan penulis di medsos bisa siapa saja dengan latar belakang yang kadang ditutupi, serta motif yang beragam. Singkatnya, pengetahuan di medsos belum tentu benar sehingga perlu tabayun (check and recheck). Akan tetapi, banyak orang mudah percaya dan menyebarkannya melalui facebook dan whatsapp.

Hobi Menonton

Budaya baca yang diharapkan tumbuh di kalangan anak-anak dan remaja, kalah oleh budaya menonton. Dibanding membaca dan membeli buku, orang lebih suka menonton di bioskop, youtube, instagram, dan internet. Ada juga sebagian anak-anak dan remaja yang hobi main game dibanding belajar dan membaca.

Menonton akting aktor pujaan dan mendengarkan musik penyanyi idola lebih diminati dibanding membaca buku, majalah, dan koran. Tontonan begitu dekat dan akrab karena berada dalam hp, sementara buku makin menjauh karena bukan tidak ada, tetapi tidak menarik bagi anak-anak dan remaja.

Beberapa buku dikemas dalam bentuk daring, berbayar maupun gratis, agar menarik minat pembaca. Upaya ini belum banyak menarik pembaca, khususnya untuk buku-buku ilmiah atau nonfiksi. Berbeda dengan buku fiksi. Dalam beberapa kasus, novel-novel tertentu dibaca oleh sampai enam (6) juta pembaca secara daring. Setelah sukses meraup pembaca daring, novel itu kemudian diterbitkan versi cetak.

Berpikir Kritis

Lebih banyak mengkonsumsi informasi dari media sosial daripada buku akan melahirkan generasi dan masyarakat yang berpikir pendek. Nalar kritisnya akan mati. Mereka akan mudah percaya dan ditipu oleh tulisan, gambar, dan video yang provokatif dan seolah benar padahal bohong.

Oleh karena itu, sekolah dan keluarga harus melatih anak-anak berpikir kritis (critical thinking) dan berliterasi. Sekolah membiasakan siswa membaca buku di kelas, di perpustakaan, dan di lingkungan sekolah. Perpustakaan diisi dengan beragam genre buku, fiksi dan nonfiksi. Di setiap kelas ada rak buku sebagai pojok baca.

Metode dan penilaian belajar melatih keterampilan tingkat tinggi siswa. Siswa diposisikan sebagai subjek belajar, dan dirangsang untuk berani menyatakan pendapat di depan teman-temannya. Siswa dibiasakan mengkritisi dan mencari solusi problem-problem sosial di lingkungannya.

Keluarga menghabituasikan pembelian buku sebagai hadiah untuk anak atau pada momen-momen tertentu. Menyediakan perpustakaan di rumah. Memberi teladan membaca di setiap kesempatan kepada anak. Tidak semua anak suka membaca, tetapi orangtua tetap harus menunjukkan pentingnya membaca. Kesadaran membaca anak tidak boleh melalui paksaan tetapi melalui teladan orangtua.

Di rumah, anak-anak dibiasakan menyatakan pendapat dalam pengambilan keputusan tertentu, seperti sekolah di mana dan apa alasannya. Anak-anak juga dibiasakan mendapatkan penjelasan alasan orangtua mengapa hal ini boleh dan mengapa hal itu tidak boleh.

Membaca buku meluaskan pengetahuan seseorang, sehingga ia mampu berpikir kritis. Sebaliknya, pikiran pendek adalah ciri sedikitnya pengetahuan seseorang sehingga ia mudah termakan hoax dan provokasi. Jika orangtua menjadi teladan membaca dan mencintai buku, maka literasi membaca buku anak akan berhasil.

Dr Jejen Musfah MA, Ketua Prodi Magister Manajemen Pendidikan Islam FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: www.ispi.or.id, 08 Agustus 2019. (lrf/mf)

Share This