oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pada masa jahiliyah, Abu Bakar As-Shiddiq, menurut Syaikh al-Ushfuri dalam Mawaidz al-Ushfuriyah, adalah seorang pedagang.

Dalam Fathush Shamad, Syaikh Nawawi Banten mengatakan nama asli Abu Bakar adalah Abdullah. Laqabnya (julukannya) adalah “‘atiq” karena dua hal. Pertama, karena ia terbebas dari neraka.

Kedua, karena wajahnya yang sangat tampan. Gelar As-Shiddiq di belakang namanya diberikan karena ia adalah orang yang paling cepat dalam membenarkan apapun yang diutarakan Nabi SAW.

Menurut Syaikh al-Jaizi dalam Tuhfah al-Khawwash, seperti dikutip Syaikh Nawawi Banten, gelar As-Shiddiq diberikan kepada Abu Bakar karena ia senantiasa beriman. Ia telah lebih dulu beriman kepada Allah SWT sebelum Nabi SAW diangkat menjadi rasul.

Oleh karena itu tidak pernah tertanam pada diri Abu Bakar masa-masa kekufuran kepada Allah SWT.

Tentang hal ini Abu Hurairah bercerita bahwa Abu Bakar berkata, “Demi kehidupanmu wahai Rasulullah, sungguh aku tidak pernah sama sekali bersujud kepada berhala”.

Mendengar pengakuan Abu Bakar, spontan Umar bin Khattab naik pitam, “Selama setahun kamu pernah berbuat begini dan begitu. Itu kamu lakukan pada masa jahiliyah. Sekarang kamu berani bersumpah “demi kehidupanmu wahai Rasulullah”.

Abu Bakar menjawab, “Sungguh, ayahku memang pernah mengajakku menemui berhala-berhala. Ia juga pernah berkata, “Ini adalah tuhan-tuhanmu, maka sujudlah kepadanya”. Setelah berkata begitu, ayahku meninggalkanku”.

Kemudian aku mendekati berhala yang paling besar dan aku berkata kepadanya, “Sungguh, aku sedang merasakan lapar. Berikan makanan untukku. Sungguh, aku telanjang. Berikan pakaian untukku”. Berhala itu tidak memberikan apapun untukku.

Lalu aku mengambil seonggok batu besar dan berseru, “Aku akan melemparkan batu besar ini kepadamu. Maka menghindarlah dari batu ini (jika kamu mampu). Akupun melemparkannya hingga wajah berhala itu tersungkur berantakan”.

Ketika ayahku datang aku menceritakan semua yang terjadi dengan lengkap. Ayahku akhirnya mengadukan perbuatanku itu kepada ibuku.

Ibuku berkata, “Tak perlu diperdulikan kejadian itu. Karena ketika aku mengandungnya, aku mendengar suara yang berkata, “Wahai hamba Allah, dengan sebenarnya aku berikan kabar gembira ihwal anakmu. Namanya di dunia adalah As-Shiddiq. Kelak ia akan menjadi sahabat dan teman dekat Muhammad”.

Usai Abu Bakar bercerita, Jibril turun dan berkata hingga tiga kali, “Benar apa yang dikatakan Abu Bakar”.*(sam/mf)

Share This