Jakarta, BERITA UIN Online— Kedutaan Perancis bekerja sama dengan UIN Jakarta akan menyelenggarakan seminar yang mengusung tema Some Natural Disasters Through Indonesian Literature. Seminar tersebut akan digelar pada, Rabu (29/08), bertempat di Kedutaan Besar Perancis, Jalan MH Thamrin No 20 Jakarta.

Dari press reales yang diterima BERITA UIN Online Selasa (28/08) dijelaskan, bahwa seminar tersebut digelar dalam upaya mengupas sekaligus menjawab pertanyaan tentang bagaimana peristiwa-peristiwa alam seperti meletusnya gunung Krakatau (1883), Tsunami Aceh (2004) dicitrakan dalam kesusastraan Indonesia, serta informasi apa yang akan didapatkan dari karya-karya tulis tersebut.

Adalah Etienne Naveau, seorang doctor dalam bidang bahasa, sastra, dan peradaban Indonesia yang mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui analisis beberapa novel karya dua penulis produktif: Kwee Tek Hoay dan Taufiq Ismail.

Masih dari sumber yang sama, dijelaskan bahwa Kwee Tek Hoay, tertarik pada teosofi. Ia menulis Drama dari Krakatau pada 1929. Novel ini terinspirasi dari novel The Last Day of Pompeii karya Edward Bulwer-Lytton dan mengandung banyak dokumentasi ilmiah mengenai peristiwa alam tersebut.

Dalam buku tersebut, terdapat drama sentimental yang bertokohkan seorang dukun Baduy keturunan Raja Hindu Padjajaran dan mengagungkan dewa pelindung Wisnu, dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana mutasi budaya dan agama, terlebih peristiwa-peristiwa alam, menggoreskan trauma pada penduduk Nusantara.

Sementara itu, Taufiq Ismail lebih menggunakan pendekatan yang menganut teodisi Islam menggunakan peristiwa-peristiwa alam dalam novel-novelnya untuk merenungkan makna penderitaan manusia.

Sebagai informasi, Etienne Naveau adalah doktor di bidang bahasa, sastra, dan peradaban Indonesia yang penelitian-penelitiannya dibuat berdasarkan kajian terhadap teks-teks autobiografi Indonesia. Sejak 2003, ia bekerja sebagai guru besar bahasa dan sastra Indonesia di INALCO (Institut Nasional Bahasa-bahasa dan Peradaban Oriental), serta menjadi anggota Cerlom (Pusat Kajian dan Penelitian Sastra dan Tradisi Lisan Dunia).

Kemudian, November 2017, ia mendapatkan gelar HDR-nya melalui penelitian berjudul “Identitas dan Pidato-Pidato Para Pendiri Indonesia (sastra, filsafat, agama)”. Di Inalco, Etienne Naveau mengampu kelas penerjemahan, sastra, dan analisis wacana agama dan politik Indonesia. Ia penerjemah antologi puisi Paris Pasar Malam (2015), antologi puisi dwibahasa Debu di Atas Debu karya penyair Taufiq Ismail (penerbit Horison,2015), buku puisi dwibahasa Di Luar Katakarya Acep Zamzam Noor (penerbit Presses de la Sorbonnes nouvelle, 2016), serta dua novel karya Eka Kurniawa yang berjudul Manusia Harimau (penerbit Folio, 2017), serta Cantik Itu Luka (penerbit Sabine Wespieser, 2017). (lrf)

Share This