Jika diibaratkan sebuah is tana, surah al-Fatihah adalah pintu gerbangnya. Kemegahan istana dapat dinilai melalui keindahan pintu gerbang nya. Surah al-Fatihah, secara harfiah berarti pembukaan (the Opening, the Prologue), mengesankan adanya jalan terbuka bagi hamba siapa pun yang hendak mendekati diri-Nya.

Allah SWT mencipta kan manusia dengan cinta dan langsung ditunjuk sebagai khalifah, meskipun para malaikat mempertanyakan keberadaanya, sebagai mana disebutkan dalam ayat: Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadi kan seorang khalifah di muka bumi”.

Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menum pah kan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS al-Baqarah [2]:30).

Allah SWT terus memberikan berbagai kekhususan dan kelebihan kepada manusia. Allah Swt Maha Sadar dan Maha Memahami sifat dan karakter manusia yang sewaktu-waktu bisa melakukan halhal seperti dikhawatirkan malaikat. Yaitu, melakukan kerusakan alam, pertumpahan darah, dan berbagai kelemahan lainnya. Namun, Allah SWT tetap menegaskan kepada segenap hamba-Nya untuk tetap optimistis menjalani kehidupannya.

Ia menyeru hamba-Nya dengan ungkapan kasih sayang: Katakanlah: “Hai hambahamba- Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS az-Zumar [39]: 53).

Ayat ini sangat mengesankan kita, meskipun hamba-Nya pendosa, suka melampaui batas (israf) tetap dipanggil mesra “wahai hamba-Ku” (ya ‘ibadi), diminta tidak perlu pustus asa dari rahmat-Nya, dan Allah SWT menyatakan kesediaan- Nya untuk mengampuni dosa-dosa (al-dzunub bentuk jamak dari dzanbun) lalu ditegaskan dengan kata jami’an berarti keseluruhan dosa, kemudian ditutup ayat-Nya dengan dua nama yang termasuk dalam induk sifat (umm al-shifah) Allah SWT, yakni al-Gafur al-Rahim (Maha Pengampun dan Maha Penyayang). Ayat ini senapas dengan ayat-ayat surah al-Fatihah yang lebih mencitrakan Allah SWT sebagai Maha Pengasih dan Maha Penyayang, bukan kombinasi namanama seperti Maha Pendendam dan Mahaangkuh (al-Muntaqim, al- Mutakabbir).

Kalangan ulama tasawuf pernah menghitung dan membuat kategori terhadap Nama-nama Indah (Asma al-Husna), di antara 99 nama-nama tersebut sekitar 80 persen termasuk kategori nama-nama feminine (jamaliyyah), dan hanya sekitar 20 persen yang masuk kategori namanama maskulin (jalaliyyah). Lebih khusus lagi, yang paling sering berulang di dalam Alquran ialah nama-nama feminine Allah SWT. Sebagai contoh perbandingan, kata al-Rahman terulang 57 kali dan kata ar-Rahim terulang 114 kali di dalam Alquran.

Bandingkan dengan nama-nama maskulin-Nya, seperti kata al- Muntaqim (Maha Pendendam) dan al-Mutakabbir (Maha Angkuh) hanya masing-masing terulang satu kali di dalam Alquran. Yang bertaburan di dalam halaman demi halaman Alquran ialah nama-nama feminine. Dari segi inilah Prof Sachiko Murata dalam buku monumentalnya, The Tao of Islam, menyimpulkan Allah SWT lebih menonjol sebagai “Tuhan Keibuan” (the Mother of God) daripada Tuhan Kebapakan (the Father of God).

Penempatan letak surah al- Fatihah sebagai awal atau permulaan Alquran tentu memiliki rahasia di mata Allah SWT. Menurut Syekh Muhammad Abduh dalam Tafsir Al-Manar, surah al-Fatihah bukan hanya penempatannya yang pertama, tetapi surah ini paling awal diturunkan oleh Allah SWT. Hal ini tidak bertentangan dengan riwayat yang mengatakan ayat yang pertama turun ialah lima ayat pertama dari surah al-‘Alaq. Betul sebagai ayat yang pertama turun, tetapi sebagai surah pertama utuh turun sekaligus ialah surah al-Fatihah.

Basmalah memiliki banyak kekhususan. Basmalah bukan hanya populer bagi Nabi Muhammad SAW dan para umatnya tetapi juga populer di kalangan nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.

Bahkan ada yang mengatakan semenjak Nabi Adam sudah familiar dengan basmalah. Dalam suatu riwayat dikatakan Nabi Ibrahim AS sebelum membaca doa ia membaca basmalah. Yang dibaca Nabi Isa ketika menghidupkan orang mati ialah basamalah, Nabi Nuh menjalankan perahunya dengan basmalah, dan surat sakti yang membuat Ratu Balqis takluk kepada Nabi Sulaiman ialah suratnya yang berisi basmalah.

Prof KH Nasaruddin Umar, Guru Besar Ilmu Tafsir Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Imam Besar Masjid Istiqlal. Sumber: https://republika.co.id/berita/qg0ci4483/kedudukan-surah-alfatihah, (mf)

Share This
Beasswa Mahasiswa Terdampak Covid 19 STF