oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bersumber dari Jabir, diungkap bahwa Jibril berseru, “Wahai Muhammad, hiduplah sekehendakmu. Namun pasti kamu akan mati. Cintailah orang sekehendakmu. Namun pasti kamu akan berpisah. Berbuatlah sekehendakmu. Namun pasti kamu akan mendapat balasan” (HR. Baihaqi).

Hadits yang sangat terkenal ini, minimal memberi tiga pelajaran. Pertama, kehidupan akan diakhiri dengan kematian. Karena itu Rasulullah SAW berpesan, “Perbanyaklah kalian dalam mengingat penghancur segala kelezatan dunia, yaitu kematian” (HR. Tirmidzi). Allah SWT tegaskan, “Semua yang ada di bumi itu akan binasa” (QS. al-Rahman/55: 26).

Bahkan sebelum kehidupan, di dalam al-Qur’an termaktub Allah SWT lebih dahulu menciptakan kematian. Misalnya, “Dialah Allah yang menciptakan kematian dan kehidupan, untuk menguji siapa di antara kalian yang terbaik amalnya” (QS. al-Mulk/67: 2). Bukan paling banyak amalnya. Namun mutu keimanan dan amal lebih diutamakan.

Oleh karena itu, kematian tidak harus ditakuti namun harus disiapkan dengan memperbanyak kebajikan. Sebab Allah SWT berpesan, “Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (QS. al-Nisaa/4: 78). “Setiap yang bernyawa itu pasti akan mengalami kematian” (QS. Ali Imran/3: 185).

Kedua, mencintai sesuatu akan berakhir dengan meninggalkannya atau ditinggal olehnya. Oleh karena itu Nabi SAW ingatkan, “Tidaklah seorang hamba mencintai hamba yang lain karena Allah kecuali ia akan dimuliakan oleh Allah” (HR.Ahmad). Jadi, ujung dari mencintai adalah memperoleh kemuliaan.

Allah SWT berfirman, “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya” (QS. al-Taubah/8: 24).

Ayat di atas memberi pelajaran bahwa Allah saja yang wajib dicintai secara mutlak. Selain Allah, boleh dicintai sekadarnya saja. Nabi SAW berpesan, “Cintailah orang yang kamu cintai sekadarnya saja, boleh jadi orang yang kamu cintai suatu hari kamu akan membencinya. Dan bencilah orang yang kamu benci sekadarnya saja, boleh jadi orang yang kamu benci suatu hari kamu akan mencintainya” (HR. Tirmidzi).

Ketiga, seharusnya setiap perbuatan berbuah balasan kebaikan . Oleh karena itu, hanya perbuatan baik yang seharusnya dikerjakan. Memang manusia bebas melakukan apa saja. Tetapi kebebasan manusia sejatinya tidak tak terbatas. Terkait hal ini, minimal ada tiga kebebasan semu manusia dalam al-Qur’an.

Pertama, kendati terdapat kebebasan untuk beribadah kepada selain Allah SWT, namun Allah berfirman, “Tidak sepantasnya seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah serta hikmah dan kenabian, kemudian menyeru kepada manusia, “Jadilah kalian penyembahku dan bukan penyembah Allah…” (QS. Ali Imran/3: 79).

Kedua, kendati terdapat ayat yang memberi pilihan iman atau kafir, namun manusia akan mendapatkan konsekuensinya jika tidak beriman. Allah SWT tegaskan, “Dan katakanlah, ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.

“Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek” (QS. al-Kahfi/18: 29).

Ketiga, kendati manusia memiliki akal bebas, namun akal manusia sudah ditakar oleh Allah SWT. “Dan ingatlah ketika Ibrahim berkata, “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang yang telah mati’. Allah berfirman, “Apakah kamu belum percaya?” Ibrahim menjawab, “Tentu saja aku percaya, tetapi supaya hatiku bertambah mantap” (QS. al-Baqarah/2: 260).*(sam/mf)

Share This