Dr Muhbib Abdul Wahab MA, Dosen Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Tauhid merupakan ajaran Islam paling fundamental. Akidah tauhid itu diformulasikan dalam kalimat singkat, tetapi sangat dahsyat, yaitu kalimat tahlil: la ilaha illa Allah (tiada tuhan selain Allah). Kalimat ini menegasikan segala jenis Tuhan sekaligus menetapkan keesaan dan keagungan Allah SWT.

Kalimat tauhid merupakan kunci pembuka surga. Rasulullah SAW bersabda: ”Kunci surga adalah kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah” (HR Ahmad). Disabdakan bahwa “Tiada seorang hamba yang menyatakan la ila illah Allah lalu meninggal dalam keadaan bertauhid, melainkan dia akan masuk surga” (HR Muslim).

Keagungan kalimat tahlil tidak hanya terletak pada dampaknya yang luar biasa bagi mukmin, tetapi juga terlihat dalam struktur kalimatnya. Kalimat La Ilaha illa Allah itu hanya terdiri atas tiga huruf: alif, lam, dan ha’. Bayangkan, tiga huruf dapat membentuk ajaran paling sentral dalam Islam.

Struktur kalimat tahlil tersebut begitu agung, singkat, padat, dan bernas. Artinya, ajaran tentang keesaan Allah itu lugas, sederhana, rasional, mudah dipahami, tidak ambigu, dan tidak rumit. Apabila kalimat tahlil itu dipadatkan, esensi tiga huruf dalam la ilaha illa Allah adalah Allah (yang juga terdiri atas tiga huruf).

Secara semantik, kata Allah dalam bahasa Arab berasal dari alaha-ya’lahu yang bermakna: menyembah, melindungi, menolong. Jadi, Allah adalah Dzat yang paling layak disembah, paling berhak dimintai perlindungan dan pertolongan. Oleh karena itu, setiap shalat, terutama saat membaca surah al-Fatihah, komitmen bertauhid itu selalu diulang.

Oleh karena keagungan kalimat tahlil, zikir paling afdal adalah membaca, menghayati, dan mengamalkan makna kalimat tahlil. Menurut fitrahnya, manusia sangat merindukan keesaan dan kasih sayang Allah karena rahmat Allah itu mahaluas, tak terbatas, menjangkau, memenuhi, dan menjamin segala kebutuhan makhluk-Nya (QS al-A’raf [7]: 156).

Menurut Said Nursi, kalimat tahlil berisi tauhid uluhiyah dan tauhid ma’budiyah. Tauhid yang pertama menghendaki pemurnian akidah dalam menuhankan Allah. Dialah satu-satunya Tuhan, Dia Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan tiada selain-Nya yang layak dituhankan. Karena itu, dosa terbesar adalah syirik, penuhanan selain Allah, karena bertentangan dengan tauhid uluhiyyah.

Tauhid yang kedua, ma’budiyah, mengharuskan totalitas kepasrahan, penyerahan diri, dan penghambaan kepada Allah. Menjadi hamba Allah itu esensinya adalah bersikap sami’na wa atha’na, mau belajar, memahami, dan menaati syariat Allah. Dengan beribadah hanya kepada Allah, hamba dapat meraih derajat takwa (QS al-Baqarah [2]: 21).

Dengan bertakwa kepada-Nya sebagai modal terbaik, hamba dapat meraih kasih sayang Allah (QS al-Hujurat [49]: 10), mendapat keberuntungan di dunia dan akhirat (QS Ali Imran [3]: 200), dan menjadi hamba yang pandai bersyukur (QS  Ali Imran [3]: 123).

Sumber: republika.id. (sm/mf)

Share This