Untuk mendapatkan perspektif lebih akurat tentang Islamitas, kita perlu melihat kajian-kajian lain, misalnya, Riaz Hassan (2005, 2003).

Seperti sering dibicarakan kalangan peneliti dan kaum Muslim sendiri, Hassan mengakui banyak perdebatan tentang sifat dan komitmen keagamaan (religiusitas) yang mesti dianut dan dijalankan seorang Muslim sesungguhnya (true believer).

Dalam perdebatan itu, ada argumen bahwa untuk menjadi Muslim sesungguhnya harus ada bukti ketakwaan (piety) pada tingkat tingkah laku, etika, dan kognitif.

Dalam penelitianya tentang religiusitas Muslim, salah satu wilayah kunci yang diteliti Hassan adalah sifat dan ekspresi ketakwaan Muslim (moeslem piety).

Dalam riset antara 1996-2003, Hassan melakukan survei terhadap 6.300 responden Muslim di Indonesia, Pakistan, Mesir, Malaysia, Iran, Turki, dan Kazakhstan. Meski lebih 15 tahun berlalu sejak Hassan melakukan penelitian, temuan-temuan dia tetap relavan dan sangat boleh jadi kian menguatkan sekarang ini.

Hassan mendasarkan penelitiannya pada kerangka identifikasi yang dibuat Stark and Glock (1963) ada lima dimensi inti religiusitas yang diteliti: ideologis, ritualistik, eksperiensial, intelektual, dan konsekuensial.

Dimensi ideologis terbentuk oleh keimanan fundamental yang semestinya dianut setiap orang beriman; dimensi ritualistik meliputi sejumlah perbuatan spesifik dan ibadah yang dijalankan orang beriman untuk mengekspresikan komitmen religiusitasnya.

Selanjutnya, dimensi eksperiensial yang mengacu pada pengalaman ruhani berupa persepsi dan perasaan yang dialami orang beriman yang kadang-kadang melibatkan semacam ‘komunikasi’ dengan Tuhan.

Kemudian, dimensi intelektual terkait dengan harapan bahwa seorang beriman memiliki pengetahuan tentang ajaran pokok agama dan kitab sucinya; sedangkan dimensi konsekuensial meliputi berbagai bentuk dampak keduniaan, keimanan praktik, pengalaman, dan pengetahuan keagamaan.

Berdasarkan kerangka lima dimensi ini, Hassan melakuka survei yang diikuti wawancara mendalam yang kemudian menghasilkan sejumlah temuan sangat menarik. Beberapa temuan penting dikutip di sini.

Dimensi ideologis: ketika ditanya tentang eksistensi Allah; 97 persen responden Muslim di Indonesia, Pakistan, dan Mesir menyatakan percaya; sedangkan di Malaysia 96 persen, Turki 88 persen, dan Kazakhstan hanya 31 persen.

Tentang percaya pada mukjizat Alquran, tertinggi adalan Pakistan (98 persen), Malaysia (95), mesir (94), Indonesia (84), Turki (78), Iran (70), dan Kazakhstan 13 persen saja.

Sementara, tentang kehidupan setelah kematian: Muslim Pakistan percaya 95 persen, Indonesia 93, Malaysia 93, Mesir 91, Turki 71, Iran 84, dan Kazakhstan 13 persen saja.

Sementara untuk item “hanya orang yang beriman kepada Nabi Muhammad yang bakal masuk surga;” Muslim Pakistan percaya 77 persen, Malaysia 65, Indonesia 61, Mesir 47, Turki 39, Iran 20, dan Kazakhstan 9 persen.

Dalam hal indeks ortodoksi, tertinggi lagi-lagi Pakistan 76, Malaysia 55, Indonesia 49, Mesir 39, Turki 33, Iran 14, dan Kazakhstan 1.

Bahwa Indonesia relative rendah dalam hal ortodoksi mengisyaratkan, kaum muslimin negeri ini mengimani akidah pokok, lebih toleran, dan fleksibel menghadapi kelompok lain yang berbeda agama.

Indeks ortodoksi sangat tinggi, sebaliknya mendorong munculnya sikap sektarianisme yang tinggi, seperti terlihat di Pakistan dan Malaysia.

Dimensi rutualistik: (tidak mencangkup Kazakhstan) dalam hal shalat, Muslim Indonesia paling ketat, 96 persen shalat lima waktu atau lebih dalam sehari-semalam; kemudian Malaysia 91 persen, Mesir 90, Iran 67, Pakistan 57, Turki 33, dan Kazakhstan 5 persen.

Sementara, ibadah puasa, Muslim Indonesia, mesir, dan Malaysia 99 persen, Pakistan 93 persen, Turki 82, Iran 78, dan Kazakhstan 19 persen.

Dalam membayar zakat, Muslim Indonesia tertinggi 94 persen, kemudian Mesir 87, Malaysia 80, Turki 64, Pakistan 58, Kazakhstan 49, dan Iran 31.

Mambaca Alquran sekali dalam satu hari atau sepekan, tertinggi Pakistan 32 persen, Indonesia 30, Malaysia 24, Mesir 23, Iran 12, Turki 4, dan Kazakhstan 2. Indeks ritualisme, Mesir tertinggi dengan 45, Indonesia 44, Malaysia 34, Pakistan 24, Turki dan Iran, Kazakhstan 1.

Dalam dimensi ritualistik, terlihat kaum Muslim Indonesia jauh lebih taat dibandingkan rekan-rekan mereka di kawasan lain. Hasil survei pada aspek ini mengisyaratkan tentang keimanan dan ortodoksi yang tinggi tidak selaras dengan ketaatan menjalankan berbagai ibadah seperti yang terlihat dalam kasus Pakistan khususnya.

Dengan ekspresi takwanya, Islamitas kaum Muslimin-Muslimat Indonesia relative lebih tinggi dibandingkan Muslimin-Muslimat di tempat-tempat lain.

Prof Dr Azyumardi Azra, Guru Besar Sejarah Kebudayaan Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Resonansi Koran Republika, Kamis, 31 Januari 2019.(lrf/mf)

Share This