Kajian-kajian Riaz Hassan (2005, 2003) memberikan perspektif lebih akurat tentang tingkat Islamitas masyarakat Muslim berbeda dengan kajian Askari dan Rehman (2010). Hassan mengakui berlanjutnya perdebatan di kalangan ahli baik Muslim maupun non-Muslim tentang bentuk, indikator, dan ekspresi Islamisitas.

Dalam penelitiannya tentang religiositas Muslim, salah satu wilayah kunci Islamisitas yang diteliti Hassan adalah bentuk, sifat, dan ekspresi  ketakwaan Muslim (Moeslem piety).

Melanjutkan berbagai bentuk ketakwaan yang diungkapkan dalam Resonasi pekan lalu (31/1/2019) adalah dimensi eksperiensial. Dalam dimensi ini, Muslim Indonesia paling yakin dengan kehadiran Allah (63 persen), kemudian Pakistan 57, Iran 42, Turki 41, Malaysia 37, dan Mesir 35.

Hassan tidak menjelaskan mengapa Muslim Indonesia paling tinggi dalam hal omnipre-sence Allah. Menurut penulis Resonansi ini, hal tersebut terkait banyak dengan kuatnya tasawuf di kalangan umat islam Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Muslim lain. Tasawuf -baik yang diamalkan secara pribadi dan kelompok maupun yang diamalkan melalui tarekat sangat menekankan kesadaran tentang ‘kehadiran’ Allah SWT dalam berbagai aspek kehidupan.

Begitu juga soal ‘takut’ kepada Allah: Muslim Indonesia 83 persen, Pakistan 82, Malaysia 76, Iran 69, Turki 53, dan Mesir 51 persen. Dalam indeks eksperiensial: Pakistan 22, Mesir 21, Indonesia 17, Malaysia 15, Turki 12, dan Iran 16.

Terkait dengan kuatnya pengalaman tasawuf yang menumbuhkan kesadaran kuat tentang Allah Yang Omnipresent, tak heran kalau kaum muslim Indonesia memiliki perasaan ‘takut’ tertinggi dibandingkan kaum Muslim di negara-negara lain. Psikologi ‘takut’ ini terlihat jelas dalam ceramah banyak ustaz yang sering justru memperkuat rasa ‘takut’ jamaahnya pada Allah SWT; sisi lain Allah SWT yang Maha Pengasih, Maha Pengampun jarang sekali ditekankan.

Terlepas dari hal terakhir ini, sekali lagi dalam dimensi eksperiensial kaum Muslimin Indonesia menujukkan pengalaman beragama lebih intens. Hal ini jelas terkait banyak dengan kuatnya penekanan kehidupan Islam Indonesia pada aspek pengalaman keberagamaan, lewat tasawuf dan tarekat khususnya.

Selanjutnya adalahdimensi konsekuensial. Dalam hal ini, mayoritas Muslim di Indoesia (84 persen), Malaysia (71), dan Mesir (89) setuju bahwa orang yang tidak percaya pada Allah sangat mngkin memiliki pandangan berbahaya; Turki 46 persen, dan Iran 37.

Temuan Hassan ini bisa dijelaskan bahwa kaum Muslimin Indoenesia mencapai skor sangat tinggi dalam hal ini dapat pula dilihat dalam berbagai gejala sosio-kultural poilitik sampai hari ini. Kaum Muslimin Indonesia, misalnya, sangat alergi pada ateatatis; merajalelanya ketidakpercayaan mereka pada Allah SWT dianggap sebagai salah penyebab utama musibah semacam bencana Islam.

Soal teori evolusi Darwin, mayoritas Muslim Indonesia (61), Pakistan (60), Turki (56), Malaysia (54), dan Mesir, (52) menyatakan bahwa teori itu ‘keliru’; kontras dengan Muslim Kazahstan 14 persen. Indeks konsekuensial, tertinggi Indonesia 53, Mesir 48, Pakistan 46, Malaysia 40, Kazakhstan 3.

Penting dicatat, meski kaum Muslimin Indonesia paling keras menolak teori Darwin, mereka hampir tidak pernah melakukan gerakan atau aksi misalnya membakar buku-buku yang mengandung teori Darwin. Sikap ini berbeda dengan kalangan fundamentalis Kristen di Amerika Serikat  yang pernah aktif melakukan razia buku-buku yang mengandung teori Darwin di perpustakan dan toko buku untuk kemudian membakarnya.

Akhirnya Hassan menampilkan Indeks Komitmen Agama dan Pengembangan Sumber  Daya Manusia (HDI) di negara-negara tadi. Empat negara ‘’very strong’’ dalam Komitmen Agama: Indonesia (Indeks HDI .682), Malaysia (.792), Pakistan (.499), dan Mesir (.648). Kemudian, dua negara mencapai indeks  ‘ strong’: Iran (.719), Turki (734); sedang Kazakhstan mendapat indeks ‘weak’ (HDI .765).

Temuan Hassan ini menujukkan, pengembangan SDM di Indonesia selalu mempertimbangkan, bahwa menekankan orientasi penguatan komitmen pada agama. Karena Mayotritas mutlak penduduk Indonesia adalah Muslim (88,2 persen dari kini/2018 diestemasi 266,79 juta), mau tak mau penguatan komitmen keagamaan itu terkait dengan Islam. Hasilnya adalah kian menonjolnya ekspresi Islam di ranah publik.

Prof Dr Azyumardi Azra MA, Guru Besar Pengkajian Islam Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Opini Koran Republika, Kamis, 7 Januari 2019. (lrf/mf)

Share This