Di Tanah Air ada kalangan Muslim yang keberatan dengan Islam Nusantara. Yang merupakan karakter keislaman NU yang dipopulerkan Muktamar Jombang 2015. Mereka yang tidak setuju dengan Islam Nusantara, selain terlihat tidak memahami secara doktrin, sejarah, dan dinamikanya, konteks sosio-kultural dan politiknya, juga memelintirnya sedemikian rupa.

Ada pula yang dengan sikap hostile membuat mispersepsi dan distori dengan menyatakan, jamaah Islam Nusantara sembahyang dengan bacaan Indonesia atau bahkan bahasa Jawa. Atau kalau wafat dikafankan dengan memakai kain batik. Contoh-contoh pemelintiran ini, yang sebenarnya tidak ada dalam wacana dan praktik Islam Nusantara, terus saja diedarkan dalam media sosial.

Pada pihak lain, hampir tidak ada kontroversi dengan karakter ‘Islam Berkemajuan’ yang diangkat dan dipopulerkan Muhammadiyah sejak Muktamar Makassar 2015. Agaknya gejala ini terkait dengan kenyataan, NU lebih engaged dengan politik, baik langsung maupun tidak langsung melalui para tokohnya. Sedangkan Muhammadiyah terlihat lebih mampu mengambil jarak dengan politik dan kekuasaan, khususnya Presiden Jokowi.

Terlepas dari sosial politik, NU dan Muhammadiyah adalah dua sayap besar Islam Indonesia yang saling melengkapi. Di antara keduanya juga sejak tiga dasawarsa terakhir telah terjadi rapprochement intens yang mendorong konvergensi keagamaan, pertukaran pandangan dunia, dan praksis keislaman.

Di luar kedua terbesar itu, tentu saja ada ormas-ormas lain di seluruh indonesia: Jam’iyah al-Washliyah, Perti, Mathlaul Anwar, Persis, PUI, Hidayatullah, Nahdatlul Wathan, al-Khairat, dan banyak lagi. Semua ormas ini bersama NU dan Muhammadiyah  membentuk arus utama Islam Indonesia dengan karakter Islam Wasathiyah.

Sekali lagi, Islam Wasathiyah Indonesia yang antara lain, teraktualisasi dalam bentuk atau corak Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan, kian menarik masyarakat internasional, baik Dunia Muslim maupun Dunia Barat. Karena itulah sejumlah tokoh ulama, cendekiawan, pemikir, dan aktivis Islam Indonesia sering diundang Lembaga Muslim atau pihak lain di kedua bagian dunia itu untuk menjelaskan Islam Wasathiyah yang terkonsolidasi sejak waktu lama di Indonesia.

Hasrat banyak kalangan untuk mendengar penjelasan tentang Islam Wasathiyah yang berkembang dan mapan di Indonesia itulah yang direalisasikan Duta Besar RI untuk Jerman, Arif Havas Oegreseno, dengan mendatangkan penulis Resonansi ini pada akhir Oktober 2018. Empat pertemuan seminar dan diskusi tentang subjek Islam Nusantara Berkemajuan yang terintegrasi dalam Islam Wasathiyah terselenggara dengan audiens berbeda; pofesor dan dosen kajian Islam di Jerman; imam dan pimpinan Muslim di Berlin; Institute for Islamitische Theologie, Universitas Osnaburck dan Cordoba Foundation. Juga ada seminar peringatan 90 tahun Sumpah Pemuda, Integrasi, dan Demokrasi.

Banyak kalangan akademik, profesor, dosen, dan peneliti Jerman yang berkecimpung dalam kajian Islam atau kajian Indonesia dalam tiga atau empat dasawarsa terakhir lebih intens mengikuti dinamika Islam Indonesia di tengah perubahan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Oleh karena itu, dalam berbagai forum tahunan semacam kongres orientalis (Islamisis) Jerman atau EUROSEAS selalu ada beberapa panel khusus tentang dinamika Islam Indonesia, demokrasi, radikalisme, dan subjek-subjek terkait lain.

Dalam seminar atau tepatnya ‘kolokium’ (percakapan akademik) yang dihadiri sejumlah profesor dan dosen (belum profesor) kajian Islam dan kajian Indonesia yang datang dari berbagai universitas di Jerman, Islam Nusantara NU dan Islam Berkemajuan Muhammadiyah tidak lagi terlalu asing bagi mereka. Para akademisi ini sudah mengetahui sedikit banyak tentang distingsi Islam Indonesia bercorak wasathiyah atau jalan tengah, yang inklusif, akomodatif, toleran, dan dapat hidup berdampingan dengan para penganut agama lain secara damai.

Dr Harald Viersen yang fasih dalam bahasa Arab dan pakar Filsafat Islam dari Universitas Marburg menyatakan, dengan membaca dan mendengar penjelasan tentang Islam Wasathiyah Indonesia, dia dapat merasakan distingsi Islam Indonesia, misalnya dengan Islam Mesir. Di negara terakhir ini, masyarakat Muslim –baik dari kalangan militer maupun gerakan Islam al-Ikhwan al-Muslimun- terlibat dalam konflik yang panjang sejak akhir 1950an.

Hal senada juga dikemukakan Profesor Patric Franke dari Universitas Bamberf dan Profesor Fritz Schuze dari George August Universitat. Kedua pakar kajian Indonesia dan Islam ini menilai Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan yang diusung kedua ormas Islam terbesar Indonesia memiliki peran besar dalam pembentukan dan pemeliharaan tradisi Islam Wasathiyah.

Tetapi bagi keduanya, tantangan yang dihadapi NU, Muhammadiyah, dan ormas-ormas Islam arus utama lainnya adalah peningkatan kecenderungan literalisme dan radikalisme di kalangan umat Islam Indonesia. Oleh karena itu, mereka berharap, ormas-ormas Islam Wasathiyah Indonesia tetap mawas diri dan senantiasa melakukan konsolidasi menghadapi tantangan tidak ringan itu. (mf)

Prof Dr Azyumardi Azra MA, Guru Besar Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Koran Republika, Kamis, 8 November 2018.

Share This