Judul              : Islam Kontemporer di Indonesia dan Australia

Penulis          : Subhan Setowara, dkk.

Editor             : Jamhari Makruf, Badrush Sholeh, dkk.

Penerbit        : Australia Global Alumni, didukung oleh PPIM UIN Jakarta

Terbit             : September 2017

Halaman       : xvii + 584 halaman

Buku yang diluncurkan dalam acara Presentasi Islam Kontemporer di Indonesia dan Australia pada 20 September 2017 di Gedung FISIP UIN Jakarta ini berformat kompendium, tersusun dari berbagai karya ilmiah alumni pelbagai perguruan tinggi Australia di Indonesia yang tergabung dalam Australia Global Alumni. Tulisan yang berupa esai, makalah, maupun pengamatan pribadi ini disajikan untuk memberikan perspektif hubungan Indonesia dan Australia, khususnya dalam bidang kajian Islam.

Dalam pengantarnya, Rektor UIN Jakarta Prof. Dr. Dede Rosyada MA. menuturkan bahwa muslim Indonesia memiliki peran strategis dalam keamanan dan pembangunan di kawasan Asia Pasifik. UIN Jakarta sebagai institusi perguruan tinggi Islam turut membentuk paradigma muslim Indonesia yang moderat, bersama dengan seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Perspektif yang disuguhkan dalam buku ini diharapkan menjadi alat memperkuat relasi antara Australia dan Indonesia.

Buku ini yang terdiri dari 56 esai ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama bertajuk Islam, Pendidikan Multikultural dan Harmoni Sosial ini berusaha menyajikan pengalaman menjadi muslim di Australia yang begitu multikultural. Seperti yang dituliskan Subhan Setowara, memberikan data dari tempat tinggalnya di Nusa Tenggara Timur yang pernah mengalami konflik agama, dan dikaitkan dengan konteks Australia. Ia mengajak untuk merasakan bagaimana rasanya Islam menjadi minoritas di Australia, yang di Indonesia, selalu menjadi mayoritas.

Selanjutnya bagian kedua berjudul Demokrasi, Radikalisme dan Kontra-Terorisme. Sembilan artikel ini menghadirkan bagaimana Islam dihadapkan dengan demokrasi, serta problem esktremisme dan terorisme. Roswita M. Aboe, menunjukkan bahwa demokrasi di Indonesia bisa tetap sinergi dengan nilai-nilai Islam. Kemudian, sebagaimana ditulis oleh Fahd Pahdepie, untuk melawan narasi ekstremisme beragama, pendekatan humanistik bisa digunakan.

Kemudian di bagian ketiga, Islam, Institusi Keagamaan dan Hubungan Indonesia-Australia, Amelia Fauzia, direktur STF (Social Trust Fund) UIN Jakarta menjelaskan bahwa lembaga sosial dan filantropi Islam, memiliki peluang untuk turut menggerakkan ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat, baik melalui pengelolaan zakat maupun infak. Di artikel lainnya, disebutkan juga bahwa peluang lembaga seperti bank syariah, pesantren, maupun madrasah untuk menghadapi peluang zaman.

Pada bagian terakhir, berjudul Jender, Perempuan dan Kaum Muda, artikel-artikel yang ada berusaha mendudukkan keterlibatan perempuan dalam Islam, sehingga terhindar dari diskriminasi, bahkan kekerasan yang seakan mendapat legitimasi agama. Seperti contoh yang ditulis Farinia Fianto, menjelaskan bahwa pelatihan sepak bola untuk santri perempuan bisa menjadi ajang sosialisasi kesetaraan gender dalam Islam. Ia mengambil kasus Assmaah Helal, pesepak bola berhijab asal Sydney, Australia.

Buku ini berusaha menambah perspektif untuk menyemarakkan kajian Islam moderat di Indonesia, berdasarkan pengalaman multikulturalisme Australia. Pengalaman dan beragam kajian yang diberikan adalah simbol keeratan hubungan regional Indonesia dan Australia. (Farah NH/Iqbal Syauqi/ZM)

Share This