Salah satu kisah menarik yang dinarasikan Alquran adalah kehidupan Ashabul Kahfi (Penghuni Gua). Mereka adalah pemuda yang gigih berjuang menyelamatkan akidah tauhid dari penguasa zalim. Keteguhan sifat dan idealisme yang tinggi itu dinarasikan Alquran. Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk.“ QS Al-Kahfi [18]:131

Ayat tersebut mengisahkan pemuda Ashabul Kahfi yang bergerilya dan bersembunyi di dalam gua untuk menyelamatkan akidah tauhidnya, menghindari kekerasan dan kezaliman rezim penguasa saat itu. Para pemuda itu berkomitmen untuk tidak mengikuti jalan kesesatan penguasa. Mereka adalah pemuda inspiratif yang gagah berani dan pantang menyerah dalam memegang teguh iman dan kebenaran.

 Merupakan sunatullah tampilnya para pemuda tangguh dengan visi tranformasi, idealisme tinggi, dan gerakan perubahan menuju masa depan yang lebih baik. Pemuda merupakan elemen potensial bangsa yang selalu menyuarakan pembaruan. Islam menempatkan pemuda pada posisi sangat strategis dalam melakukan berbagai perubahan menuju kejayaan umat dan bangsa.

Ada dua kata kunci yang menjadi inspirasi pemuda Ashabul Kahfi. Para pemuda yang dikisahkan “tertidur atau dibuat tidur” dalam gua selama lebih dari 300 tahun itu tetap beriman dan tetap berpegang teguh kepada petunjuk jalan kebenaran. Mereka sedikitpun tidak gentar dalam mempertahankan iman. Kedua aset spiritual ini dipertahankan mati-matian, tanpa pernah digadaikan hanya untuk berkompromi dengan kepentingan kekuasaan.

Mengapa iman dan petunjuk kebenaran itu sumber inspirasi yang harus dirawat dan dikuatkan? Pertama, iman itu nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT kepada manusia. Iman ibarat akar tunjang sebuah pohon besar yang berfungsi sebagai fondasi yang menjaga tegaknya pohon itu dari terpaan angin kencang.

Menurut Said Nursi, iman tauhid tidaklah sekedar keyakinan dalam hati dan ikrar dengan lisan, tetapi harus diaktualisasikan berupa amal kebaikan. Caranya adalah berpikir, bersikap, bertutur kata, berkarakter, dan berprilaku mulia. Kedua, iman itu merupakan salah satu penentu diterimanya amal saleh.Ketiga, iman dan ilmu merupakan aset personal dan spiritual paling berharga. Keduanya bersifat iluktuatif, kadang naik, kadang turun, bergantung pada kesucian hati dan pemeliharaannya.

Iman bisa naik dan menguat jika dirawat dengan selalu mengingat Allah, membaca ayat-ayat-Nya, dan beramal saleh [QS al-‘Anfal {8}:2]. Sebaliknya, kualitas iman menurun apabila tergoda setan dan terjerembap dalam kubangan kemaksiatan.

Keempat, petunjuk [huda, hidayah] Allah SWT merupakan anugerah terindah dan paling bernilai bagi hidup manusia. Petunjuk jalan kehidupan yang benar dan lurus mengantarkan kepada kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat. Karena itu, doa yang waib dibaca setiap Muslim dalam shalat adalah Tunjukilah kami jalan yang lurus dan benar” [QS al-Fatihah [1]:6]. Doa tersebut petunjuk kebenaran, kemashlatan, kedamaian, dan kebahagian, bukan jalan kemaksiatan, kerusakan, kemungkaran, dan kesengsaraan.

Kelima, iman dan petunjuk [syariat] yang diturunkan Allah melalui Rasul-Nya merupakan tiket masuk surga. “Dan barang siapa yang mengerjakan kebajikan, baiki laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia dalam keadaan beriman maka mereka akan masuk surga. Mereka diberi rezeki di dalamnya tidak terhigga. “(QS Ghafir [40];40]. Iman dan petunjuk itu ibarat dua sisi mata uang yang merupakan satu kesatuan yang utuh [QS Yunus [10] 9].

Jadi, inspirasi pemuda Ashabul Kahfi itu bernilai tinggi dan abadi agar para pemuda masa kini tetap beriman. Beretos jihad tinggi dalam memaknai kalimat tauhid, dan membumikan petunjuk syariat dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai “ilmu semakin bertambah, tetapi petunjuk jalan kebenaran yang dijalani tidak bertambah maka hal ini membuat manusia semakin jauh dari Allah SWT” (HR Ibri Mardawaih dari Anas).

Iman dan petunjuk syariat harus makin mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. (mf)

Dr Muhbib A Wahab MA, Kepala Prodi Magister Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Koran Republika, 1 November 2018.

Share This