Auditorium, BERITA UIN Online – Secara nasional, industri keuangan syariah yang telah mewarnai industri keuangan di Indonesia lebih dari dua dekade terus mengalami pertumbuhan cukup tinggi. Pada tahun 2017, misalnya, industri keuangan syariah tumbuh sebesar 27 persen dan sampai dengan Juni 2018, dengan segala dinamika yang terjadi, industri keuangan syariah tumbuh pada kisaran 17 persen secara year-on-year.

Demikian dikatakan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro saat menjadi pembicara kunci pada Konferensi Internasional tentang Keuangan Islam, Ekonomi dan Bisnis yang digelar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Jakarta di Auditorium Harun Nasution, Senin (29/10/2018).

“Pada posisi tersebut, total aset keuangan syariah Indonesia tercatat sebesar Rp 1.204 triliun atau setara dengan 8,47 persen aset keuangan Indonesia secara keseluruhan,” katanya.

Menurut Bambang, dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2018, pemerintah sendiri tengah mengupayakan pengembangan keuangan syariah di Indonesia. Setidaknya ada lima yang dikembangkan, yaitu percepatan pengembangan sektor keuangan syariah dengan melaksanakan sosialisasi dan edukasi mengenai keuangan syariah;  meningkatkan peran lembaga keuangan syariah dalam pelaksanaan program pemerintah dan sistem pembayaran; meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya manusia; serta mendorong perbaikan dalam transparansi, akuntabilitas, kepemilikan, dan profesionalisme dalam pengelolaan dana sosial keagamaan.

Sementara di sisi lain, pemeritah juga mengupayakan untuk menguatkan peran sektor jasa keuangan syariah dalam Master Plan Sektor Jasa Keuangan Indonesia. Di antara upaya tersebut adalah meningkatkan ekspansi usaha, jaringan, dan produk keuangan syariah; meningkatkan fair playing field bagi sektor jasa keuangan syariah; penguatan kerja sama pengembangan sektor jasa keuangan syariah melalui sinergi kebijakan dengan pemerintah, otoritas dan pemangku  kepentingan  terkait; mengembangkan  kualitas  pelaku  sektor  jasa keuangan syariah; dan melaksanakan promosi dan edukasi mengenai keuangan syariah.

Bambang juga mengatakan, selain makin meningkatnya pertumbuhan keuangan syariah, Indonesia berada di posisi strategis bagi Halal Superhighway Link dalam Global Halal Supply Chain. Oleh karena itu, Indonesia berpeluang menjadi pasar produk halal terbesar di dunia dan menjadi produsen produk halal. Beberapa strategi di sektor perdagangan, setidaknya akan memperluas akses pasar dan diversifikasi produk sehingga perlu difokuskan pada beberapa pasar tujuan potensial produk halal selain meningkatkan kuantitas produk yang dapat dipasarkan.

Untuk itulah, jelas Bambang, keuangan syariah ke depan perlu diintegrasikan sekaligus juga diekspansikan. Potensi pengintegrasian keuangan syariah, misalnya, dilakukan melalui pengembangan financial technology. Sedangkan dalam hal ekspansi, keuangan syariah dapat diperluas ke dalam pengembangan industri halal.

“Jika berhasil, pengintegrasian tersebut akan dapat meningkatkan aktivitas dan kontribusi usaha kecil dan menengah (UKM) serta masyarakat dalam perekonomian di masa mendatang,” ujarnya. (ns)

Share This