Salah satu “paket ibadah Ramadhan” yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah selama berpuasa Ramadhan sembilan kali adalah iktikaf. Menurut riwayat Ibn Umar, Anas, dan Aisyah RA, Rasulullah SAW selalu melakukan iktikaf pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan hingga beliau wafat. (HR al-Bukhari dan Muslim). Bahkan pada puasa terakhir di tahun wafatnya,  beliau melaksanakan iktikaf selama 20 hari (HR al-Bukhari).

Apa yang diteladankan Rasulullah tersebut menunjukkan bahwa iktikaf merupakan amalan mulia yang tak terpisahkan dari puasa Ramadhan. Dengan kata lain, puasa Ramadhan tanpa iktikaf itu kurang sempurna ibadahnya. Oleh karena itu, iktikaf itu ibadah yang indah di mata Allah SWT, karena dilakukan di saat banyak orang mulai kurang “bersemangat” dalam beribadah atau mulai teralihkan perhatiannya kepada urusan duniawi, seperti: persiapan lebaran, belanja pakaian baru, mudik ke kampung halaman, dan sebagainya.

Aisyah RA meriwayatkan bahwa  “Jika memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka Rasulullah SAW selalu mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (HR al-Bukhari dan Muslim). Hadis ini mengandung pesan bahwa 10 hari terakhir Ramadhan merupakan waktu paling indah dan paling nikmat untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan beriktikaf di malam-malamnya.

Iktikaf sejatinya merupakan proses pendakian spiritual melalui jalan sunyi di rumah Allah yang Suci. Melalui iktikaf, kita dilatih untuk keluar dari zona nyaman (comfort zone), yaitu rumah tinggal kita masing-masing, dengan berdiam diri di rumah-Nya. Pesan utama dari meninggalkan zona nyaman adalah bahwa sebelum akhirnya diantar ke peristirahatan terakhir, kita harus merasakan nikmat dan indahnya berdiam diri sambil beribadah di rumah-Nya. Iktikaf melatih para calon penghuni kubur untuk merasa nyaman dan “berpamitan” dari rumah-Nya. Karena pada akhirnya setiap Muslim pasti “transit” di masjid untuk disalatkan sebelum dikuburkan.

Sungguh iktikaf itu indah, karena kita mengindahkan teladan Nabi SAW. Indahnya iktikaf di malam hari tercermin dalam kesucian hati untuk berniat mendatangi dan berdiam beberapa waktu lamanya di rumah Allah. Kesucian hati dan diri itu menjadi awal keindahan “bercengkerama” dengan Sang Kekasih, sembari melepas segala kepenatan urusan duniawi yang tidak pernah mengenal kata selesai. Iktikaf itu menyegarkan hati dan pikiran dari segala hirup pikuk orientasi duniawi yang membebani dan seringkali melupakan diri dari mengingat-Nya.

Jadi, hikmah iktikaf itu sungguh indah dijalani dan dijadikan sebagai gaya hidup setiap Muslim. Pertama, iktikaf mendidik Muslim mencintai masjid. Jika hati setiap Muslim terkoneksi dan cinta hati kepada masjid, insyaa Allah, persatuan, persaudaraan, dan perdamaian dengan mudah dikembangkan. Spirit kebersamaan dan berjamaah di masjid melahirkan energi positif dan kekuatan yang dahsyat dalam menyelesaikan segala persoalan umat dan membangun peradaban Alquran.

Kedua, iktikaf melatih disiplin dan khusyuk dalam beribadah kepada Allah, karena niat dan tujuan utama berdiam diri di masjid adalah beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Khusyuk beribadah: salat, zikir, berdoa, bertaubat, beristighfar, bertadarus Alquran, bersedekah, dan sebagainya merupakan kunci ketenangan dan kebahagiaan hakiki. Dengan iktikaf, Muslim dapat merasakan nikmat dan indahnya “mendekap” dan bermesraan dengan Sang Kekasih, Allah SWT.

Ketiga, iktikaf merupakan sarana spiritual yang dapat melipatgandakan ketaatan dan amal kebaikan, karena melalui iktikaf dapat dipastikan amalan-amalan sunah banyak diintensifkan, seperti: salat tahiyat al-masjid, qiyam al-lail (tahajud), tadarus, zikir, istighfar, tobat, sedekah, dan sebagainya. Semua itu akan terasa indah dan sarat makna, karena melalui iktikaf Muslim belajar beristiqamah dalam berislam. Apabila amalan-amalan yang sunah saja dijalankan dengan penuh istiqamah, apalagi amalan yang wajib.

Keempat, iktikaf melatih kesabaran dalam menapaki jalan pencarian yang dapat mengantarkan Muslim menuju pintu gerbang Lailatul Qadar. Karena penuturan Aisyah RA, Rasulullah SAW bersabda: “Carilah kemuliaan Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh terakhir Ramadhan.” (HR al-Bukhari). Artinya, iktikaf menawarkan mega bonus kebaikan dan pahala bagi para pencari Lailatul Qadar yang bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya.

Kelima, iktikaf itu indah karena merupakan penyempurna perjuangan (mujahadah) dan perjalanan spiritual untuk menggapai ampunan dari Allah SWT. Karena itu, Rasulullah SAW mengajarkan doa yang sangat dianjurkan dibaca dalam malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan: “Ya Allah, Engkau adalah Maha Pemaaf. Engkau sangat mencintai permaafan hamba. Karena itu, maafkanlah aku.” (HR al-Bukhari). Buah terindah dari ibadah Ramadhan adalah mendapatkan ampunan dan permaafan dari Allah SWT.

Jadi, indahnya iktikaf terletak pada kesucian hati, kesucian rumah Allah, kesucian orientasi, penyucian diri, dan kesucian suasana spiritual yang mengedukasi orang-orang yang beriktikaf untuk belajar ikhlas, khyusu’, tunduk, disiplin, dan tekun beribadah karena semata-mata mengharap ridha-Nya. Iktikaf merupakan ibadah penyempurna kemenangan dan kedamaian Ramadhan yang akan dirayakan dengan Idul Fitri, dengan saling memaafkan dan saling bersilaturrahmi sesama hamba-Nya di hari yang fitri.

Dr Muhbib Abd Wahab MA, Kepala Prodi Magister PBA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Hikmah Ramadhan Republika, Selasa, 28 Mei 2019. (lrf/mf)

Share This