Gedung Rektorat, BERITA UIN Online – Guna mengenang almarhum Suwito, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) menggelar doa bersama secara virtual, Jumat (23/10/2020), pukul 19.30 WIB. Ratusan akademisi ikut hadir. Tak hanya dari UIN Jakarta tapi juga dari perguruan tinggi keagamaan Islam negeri (PTKIN) lain di Indonesia.

Di antara yang hadir tampak Rektor UIN Jakarta Amany Lubis, Rektor UIN Jakarta periode 1998-2006 Azyumardi Azra, para dekan, Direktur Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Jakarta Asep Saepudin Jahar, para kepala biro, para mantan pejabat UIN Jakarta, serta para guru besar. Sejumlah kolega dekat Suwito lain juga hadir, seperti asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) Sugiyono dan Rektor IAIN Jember, Jawa Timur, Babun Suharto.

Doa bersama dipimpin Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FITK, Khalimi. Doa diawali dengan pembacaan al-Qur’an dan tahlil. Kemudian dilanjutkan dengan sambutan untuk mengenang jasa almarhum. Semua yang hadir pun mendoakan agar almarhum Suwito diampuni dosanya dan diterima amal jariyahnya semasa hidup.

Seperti diketahui, guru besar FITK yang juga dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta, Suwito (64), menghembuskan nafas terakhir di RSUD Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (23/10) siang. Suwito meninggal karena sakit yang dideritanya sejak lama. Ia dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU), tak jauh dari rumahnya di Cempaka Putih, Tangerang Selatan, Banten.

Dekan FITK Sururin dalam sambutannya berterima kasih kepada sivitas akademika yang hadir untuk mendoakan almarhum Suwito meski dilakukan secara virtual. FITK, menurutnya, merasa kehilangan atas kepergian almarhum.

“Bagi FITK keberadaan almarhum sangat berarti. Pak Suwito banyak membantu memberikan pencerahan mengenai akreditasi prodi dan pembukaan prodi baru. Insya Allah beliau husnul khatimah,” katanya.

Rektor UIN Jakarta mengaku sangat kehilangan sosok Suwito yang dikenal banyak berkontribusi bagi perubahan dan kemajuan UIN Jakarta. Suwito, menurut Rektor, adalah panutan bagi semua sivitas akademika, terutama gagasan dan pemikirannya, tak hanya di bidang akademik tetapi juga secara kelembagaan.

Rektor menambahkan, Suwito juga dikenal sebagai sosok yang telah mendidik dirinya untuk memahami UIN Jakarta. Semasa hidup, banyak ide Suwito yang positif bagi pengembangan kampus UIN Jakarta.

“Saya secara pribadi merasa kehilangan. Tapi Allah punya rencana lain, sehingga beliau dipanggil lebih cepat. Beliau insya Allah husnul khatimah,” ucapnya.

Rektor UIN Jakarta periode 1998-2006 Azyumard Azra mengatakan, Suwito memang sosok yang suka melahirkan ide-ide atau gagasan-gagasan baru di UIN Jakarta. Kontribusinya bagi pengembangan UIN Jakarta sangat nyata dan dirasakan sampai sekarang.

“Saya mengenal sosok Mas Wito (panggilan Azyumardi Azra kepada Suwito, Red) sejak semasa sama-sama kuliah di Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Jakarta.  Jadi, sudah cukup lama,” ujarnya.

Menurut Azra, Suwito telah berperan dalam mengembangkan UIN Jakarta, sejak masih IAIN hingga kemudian berubah menjadi UIN. IAIN Jakarta, katanya, merupakan PTKIN pertama yang berubah menjadi UIN. Setelah itu diikuti oleh IAIN Yogyakarta dan STAIN Malang.

Gagasan lain Suwito, lanjut Azra, adalah dengan membuat papan nama petunjuk arah kampus di jalan-jalan utama dan strategis, baik dari arah Jakarta, arah Bogor, dan arah Tangerang. Hal itu dilakukan agar masyarakat mudah mencari lokasi kampus UIN Jakarta.

Jasa Suwito, menurut Azra, juga banyak dilakukan saat menyiapkan pendirian Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan. Kemudian, saat menjadi pejabat di SPs bersama dirinya, Suwito juga banyak membuat kejutan. Hampir seisi kampus SPs, dipenuhi dengan banyak foto dan tulisan, misalnya foto-foto para mantan direktur dan asisten direktur yang dipajang di dinding-dinding gedung.

Sementara yang bersifat tulisan, Suwito membuat papan-papan informasi, terutama yang berkaitan dengan kegiatan akademik dan masalah-masalah administrasi yang harus diketahui mahasiswa.

Suwito, di mata Azra, adalah orang yang penuh dengan ide kreatif.  Ide apa pun yang muncul dari kepalanya, selagi untuk pengembangan UIN Jakarta, tidak dipersoalkannya.

“Saya tidak banyak ikut campur, kecuali meng-iya-kan saja. Kalau melarang-larang malah membuat Mas Wito kehilangan kreativitasnya,” ujar Azra.

Kesaksian yang sama tentang jasa Suwito juga dikemukakan kalangan akademisi lain yang tampil pada malam doa bersama tersebut.

“Saya juga saksi hidup, apa yang dikatakan oleh Pak Azyumardi Azra seratus persen benar. Pak Wito orangnya banyak membuat ‘bid’ah hasanah‘. Kerjanya ikhlas tanpa mengharap imbalan. Bahkan beliau juga orang yang sederhana sekali,” ujar Ketua Senat Universitas, Abuddin Nata, yang sempat menjadi Wakil Rektor Bidang Administrasi Umum bersama almarhum semasa Rektor dijabat Azyumardi Azra.

Dalam kesempatan tersebut, Abuddin Nata juga turut mendoakan agar almahum Suwito diberi tempat surga yang layak oleh Allah SWT. (ns)

Share This