oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Syaikh Muhammad Nawawi Banten dalam karyanya Qathrul Ghaits berkata bahwa siapa saja yang bisa meninggalkan empat pertanyaan, niscaya imannya sempurna. Pertama, ia tidak bertanya di mana Allah? Kedua, bagaimana Allah? Ketiga, kapan Allah ada? Keempat, ada berapa Allah itu?

Namun bila ada yang mempertanyakan di mana Allah, maka seseorang harus menjawab bahwa Allah tidak ada di suatu tempat dan Allah tidak terlewati oleh waktu. Allah berfirman, “Allah menciptakan segala sesuatu” (QS. al-Zumar/39: 62). Allah lebih dahulu ada, maka tidak mungkin Allah ada di dalam ciptaan-Nya, yakni ruang dan waktu.

Begitu juga manakala ada yang mencoba bertanya bagaimana Allah itu? Hendaknya seorang yang beriman menjawab sesuai firman Allah dalam surat al-Syura/42 ayat 11, “ … Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia …”. Karena “Allah mempuyai sifat yang Maha Tinggi” (QS. al-Nahl/16: 60). Mustahil sifat Allah sama dengan makhluk-Nya.

Lalu bila seseorang ditanya kapan Allah mulai ada? Syaikh Nawawi Banten mengajarkan suatu jawaban, yakni “Allah pertama tanpa permulaan dan terakhir tanpa penghabisan”. Allah berfirman, “Dia yang awal dan yang akhir, yang dzahir yang batin. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” (QS. Hadid/57: 3).

Terakhir, seseorang harus menjawab, “Dialah Allah Yang Maha Esa” (QS. al-Ikhlas/112: 1) bila ada yang bertanya ada berapa Allah itu? Selain itu, jawab juga dengan ayat, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa” (QS. al-Baqarah/2: 163. Lalu jawab lagi dengan ayat, “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentu keduanya itu akan binasa …” (QS/al-Anbiya/21: 22).

Manusia ada dari tidak ada atau cretio ex nihilo. Berbeda dengan manusia, adanya Allah bukan karena adanya sesuatu. Allah akan tetap ada kendati yang lain tidak ada. Adanya Allah juga bukan karena adanya kata “ada”. Ada atau tidak ada kata “ada”, Allah akan tetap ada. (mf/sam)

Share This