Dari mana seseorang mengenal dan meyakini sebuah iman? Lalu apakah dampak riil dari iman seseorang dalam panggung sejarah? Dua pertanyaan itu mengawali buku saya yang terbit Nopember 2018 ini, yang berjudul: Iman Yang Menyejarah.

Saya memulai dengan membaca perjalanan hidup yang saya jalani. Pertama, setiap orang terlahir dan tumbuh tidak saja diasuh oleh orangtuanya, melainkan juga disambut dan diasuh oleh budayanya. Kalau kita menemukan masyarakat berbeda bahasa, budaya, agama dan iman, hal itu logis saja karena sejak lahir yang berperan sebagai pengasuh budaya, bahasa dan agama memang berbeda-beda.

Dengan kata lain, kita semua ini adalah anak kandung tradisi dan tidak bisa keluar dari rumah tradisi, sekalipun kita bisa saja mengritisi tradisi. Tradisi yang paling fenomenal adalah bahasa ibu. Sedangkan dalam bahasa terkandung nilai-nilai yang sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian seseseorang, termasuk paham dan perilaku keberagamaannya.

Bayi terlahir dan tumbuh dengan modal nature atau insting, lalu tumbuh bertemu asuhan kultur. Natur adalah sebuah insting yang melekat sebagai bawaan primordial, bukan produk sekolahan, sedangkan kultur adalah produk pendidikan, pembiasaan dan budaya. Misalnya saja, mulut bersuara itu natur, tetapi ketika berbahasa itu kultur. Naluri untuk makan dan minum itu natur, tetapi mengapa lidah orang Jawa senang masakan gudeg, misalnya, itu adalah pengaruh kultur

Lalu, apakah iman itu merupakan natur atau insting bawaan? Dalam ranah psikologi paling jauh hanya bisa dinyatakan bahwa dalam diri manusia terdapat the will to believe, dorongan untuk mencari dan percaya adanya Adi Kuasa, yang mengatasi kekuatan dirinya dan alam semesta. Dorongan ini pada urutannya melahirkan kepercayaan pada kekuatan gaib dan mitos-mitos.

Masyarakat primitif mempercayai banyak dewa yang menguasai hidup manusia. Ketika logos berkembang dan melahirkan sains moderen, mitos-mitos itu berguguran, bahkan banyak pemikir moderen yang kemudian tidak percaya pada dewa-dewa, bahkan tidak percaya pada Tuhan, karena semua kebutuhan hidupnya merasa bisa terpenuhi tanpa melibatkan Tuhan. Jasa sains dan teknologi dirasakan dan diyakini lebih besar dalam menyelesaikan beban hidup ketimbang agama. 

Dalam kajian tasawuf terdapat keyakinan bahwa manusia itu memiliki dimensi dan kekuatan ruhani, yang terpancar dari ruh yang ditiupkan Tuhan ke dalam diri manusia. Sebelum masuk ke jasad, ruh itu sudah bersaksi atau bersyahadat tiada apapun dan siapapun yang mau disembah kecuali Dia Yang Maha Absolut, yang disebut Allah.

Jadi, sesungguhnya benih iman pada Tuhan itu sudah bersemayam dan hidup dalam setiap diri manusia, namun banyak yang lupa, terkalahkan oleh nafsu jasmani dan nafsani. Ruh yang pada dasarnya sudah membawa iman itu tetutup (covered), orangnya disebut kafir. Lalu Tuhan mengirimkan RasulNya sebagai juru ingat karena manusia mengalami amnesia eksistensial.

Penutup dan penghambat pertumbuhan iman agar selalu terhubung dengan Tuhannya sebagai sumber cahaya itu banyak ragamnya. Bisa jadi sikap sombong atau Fir’anisme yang merasa dirinya serba hebat tak lagi memerlukan Tuhan. Mungkin juga tertutup oleh kebodohannya, atau bisa juga terkurung oleh hegemoni budaya yang atestik.

Dalam konteks masyarakat moderen, hegemoni kapitalisme yang dibangun di atas fondasi rasionalisme-postivisme sangat intensif dan ekstensif menghalangi tumbuhnya benih dan pohon iman dalam diri seseorang dan ranah sosial. Kehidupan sosial lalu tersekulerkan, oksigen dan energi iman tidak mengalir ke seluruh sendi dan denyut kehidupan.

Di abad tengah kekuatan dan cahaya iman itu telah menorehkan jejak-jejaknya dan meletakkan fondasi moralitas berbasis spiritual dalam kehidupan sosial. Monumen gereja, candi, masjid, dan kuil, misalnya, merupakan prasasti betapa kuatnya iman ikut mengarahkan jalannya sejarah. Iman dan budaya saling menopang, bagaikan hubungan ruh dan jasad. Ketika ruh iman telah hilang, maka jasad berubah jadi mayat.

Kini ruh iman digantikan oleh software kapitalisme-materialisme yang selalu mengejar pertumbuhan, manusia menjadi desiring machine yang mengejar kepuasan pribadi tanpa mempedulikan prinsip keadilan dan pemerataan.

Kapitalisme mengkondisikan masyarakat moderen bagaikan berlari di atas papan treadmail, secepat apapun dia berlari tetap saja berada di tempat yang sama. Ketika income meningkat, berapapun besarnya, kebutuhan yang lebih besar sudah menghadang di depannya, hidup tak pernah terpuaskan, dan lama-lama akan menemui kelelahan dan kehampaan ketika menginjak garis finish, mungkin seperti yang terjadi pada Freddy Mercury dalam film Bohemian Rhapsody.

Prof Dr Komaruddin Hidayat, Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Yayasan Pendidikan Madania Indonesia, 22 November 2018.

Share This