Oleh: Syamsul Yakin
Dosen Magister KPI FIDIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan Penulis Buku “Milir”

Iman itu adalah hidayah. Kesimpulan ini dapat dipahami dari firman Allah SWT, “Jika mereka masuk Islam, maka sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk” (QS. Ali Imran/3: 20). Bagi Syaikh Nawawi Banten dalam Tafsir Munir, petunjuk adalah keberuntungan yang diraih oleh seseorang dalam bentuk keselamatan hidup di akhirat.

Oleh karena itu, apa yang disampaikan Nabi SAW harus dibenarkan dengan hati bahwa itu berasal dari Allah SWT. Selanjutnya iman harus diartikulasikan dengan lisan dan diimplementasikan dengan perbuatan. Inilah yang disebut oleh Syaikh Nawawi Banten dalam Qathrul Ghaits sebagai seorang mukmin yang murni imannya.

Menurut Abu al-Laits, hidayah atau petunjuk itu buatan Allah SWT. Tak ada seorang pun yang dapat memberi hidayah. Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi hidayah (petunjuk) kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi hidayah kepada orang yang Dia kehendaki” (QS. al-Qashash/28: 56).

Karena hidayah adalah berasal dari Allah, buatan-Nya, dan pemberian-Nya, maka bagi Abu al-Laits, hidayah itu adalah qadim (terdahulu), sementara pembenaran dan artikulasi iman yang dilakukan seorang hamba adalah hadits atau baru. Dengan kata lain qadim adalah bukan makhluk, sedangkan hadits adalah makhluk.

Rumusnya, lanjut Abu al-Laits, segala sesuatu yang datang dari Yang Maha Qadim menjadi qadim (bukan makhluk). Sedangkan segala sesuatu yang datang dari yang baru menjadi baru juga. Jadi, karena iman itu adalah hidayah, sementara hidayah itu adalah qadim, maka dapat disimpulkan bahwa iman itu adalah bukan makhluk.

Namun soal iman itu makhluk atau bukan makhluk terdapat sejumlah pendapat ulama yang berbeda-beda yang dikutip oleh Syaikh Nawawi Banten. Pertama, menurut Abu Muin al-Nasafi, tak perlu menyatakan iman itu makhluk atau bukan makhluk. Tetapi soal iman yang terpenting adalah menyatakan dengan lisan dan membenarkan dengan hati.

Kedua, pandangan yang diungkap oleh al-Bajuri yang berbeda dengan Abu al-Laits. Kalau Abu al-Laits mengatakan iman itu bukan makhluk, karena berasal dari Yang Maha Qadim, Yakni Allah SWT, maka al-Bajuri menyatakan bahwa iman itu makhluk. Alasannya, karena iman itu adalah menyatakan dengan lisan dan membenarkan dengan hati.

Bagi al-Bajuri, karena iman itu adalah menyatakan dengan lisan dan membenarkan dengan hati, maka iman itu adalah makhluk atau yang diciptakan oleh Allah SWT. Dengan demikian al-Bajuri juga mengungkapkan bahwa hidayah itu sendiri adalah perkara baru atau hadits. Jadi iman dan hidayah adalah makhluk.

Namun, di akhir pembahasan masalah ini, Syaikh Nawawi Banten membuat sebuah kesimpulan yang menengahi kedua pendapat ini. Menurutnya, iman sebagai artikulasi dan perbuatan seorang hamba adalah makhluk. Sedangkan hidayah sebagai perbuatan Allah SWT adalah bukan makhluk. Selebihnya, Allah SWT yang lebih mengetahui.(sam/mf)

Share This