Idul Adha dirasakan karena memiliki nilai dan pesan kemanusiaan yang sangat luhur,  yaitu mengakhiri tradisi pengorbanan dan penumbalan manusia. Diganti dengan menyembelih hewan, membunuh sifat negatif dan karakter kebinatangan pada diri manusia.

Idul Adha mengedukasi umat Islam untuk memiliki kesatupaduan kurban yang secara semantik berarti dekat. Yaitu, kedekatan vertikal kepada Tuhan, sekaligus kedekatan horizontal dengan sesama. Dengan berbagi dan mengasihi.

Sejarah mencatat bahwa tradisi perbudakan, penumbalan, dan pengorbanan manusia dimasa Nabi Ibrahim AS (Abad ke-18 SM) dan sebelumnya begitu mendarah daging. Para raja dan dan penguasa tidak jarang menjadikan manusia sebagai tumbal untuk melanggengkan kekuasaannya. Tradisi kemanusiaan yang memilukan ini perlu dilawan dan diakhiri. Idul Adha sarat pesan pemanusiaan manusia dengan mulia.

Ujian iman

Melalui misi suci profetik yang diteladankan kekasih Allah, Ibrahim AS, Allah SWT memerintahkannya menyembelih putra tercinta, Ismail, dalam beberapa kali mimpinya. Sang ayah pun berdialog dari hati ke hati dengan putranya, saat ayahandanya meminta pendapatnya mengenai perintah Allah untuk menyembelihnya. Sang anak justru mengukuhkan keyakinan ayahnya, “Wahai ayahanda, lakukanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. InsyaAllah engkau akan mendapati diriku termasuk orang yang sabar.” (QS Ash-Shaffaat [37]: 102)

Drama pengorbanan pun dilakukan Ibrahim AS di lembah Mina yang sepi dan sunyi, tetapi setan gencar merayunya agar Ibrahim AS mengurungkan niatnya untuk menyembelih anaknya sendiri. Godaan setan yang demikian kuat ini membuat Ibrahim harus berpindah tempat tiga kali. Yang kemudian dinapakstilasi jamaah haji dengan melempar tiga tugu jumrah di Mina.

Drama teologis ini menunjukkan berkurban itu merupakan ujian iman yang mengharuskan keikhlasan, kesabaran, keberanian, dan ketangguhan mental spiritual.

Akhirnya, ujian iman ini dimenangi Ibrahim AS. Ismail tidak jadi disembelih dan sebagai gantinya yang dikurbankan ialah hewan sembelihan. Ibrahim sukses menjadi hamba Allah yang taat, tulus, tabah, dan takwa dalam menjalankan perintah Allah.

Jadi secara Amtropologi, teladan Ibrahim AS dalam mengorbankan buah hati yang sangat dicintainya merupakan bentuk edukasi harmonis untuk mengenyahkan budaya mengorbankan manusia. Mengakhiri tradisi kekerasan dan menyudahi pelanggaran terhadap HAM, khususnya hak hidup dan merdeka dari segala bentuk perbudakan dan penjajahan.

Selain itu, berqurban hewan di hari Raya Idul Adha dan hari-hari Tasyrik merupakan ekspresi rasa syukur kepada Allah atas segala karunia-Nya. Oleh sebab itu, perintah solat dan berqurban dinarasikan dengan didahului penegasan “Sungguh kami telah memberimu (Muhammad) nikmat dan karunia yang luar biasa banyak.” (Q.S Al-kautsar [10] 1).

Afirmasi teologis dan humanis dalam ayat ini menujukkan bahwa berkurban itu sarat dengan pesan edukasi filantropi atau pendidikan kedermawanan, sehingga mukmin yang berkecukupan mestinya merasa malu dan merugi apabila tidak mensyukuri karunia-Nya dengan berbagi daging hewan kepada sesama, khususnya fakir dan miskin.

Edukasi Filantropi

Esensi edukasi filantropi ialah aktualisasi sikap peduli etos berbagi dan spirit mengasihi sesama yang tidak berkecukupan, terutama asupan gizi hewani. Ibadah-ibadah sunnah dalam Islam, seperti zakat, infak, sedekah, wakaf, dan berkurban. Sesungguhnya sarat dengan nilai edukasi filantropi. Karena itu, spirit yang dikembangkan ialah aktualisasi kedermawanaan sosial dengan menyantuni, mengasihi, dan memberdayakan kaum lemah, tidak mampu dan tidak berdaya.

Kedermawanan sosial dalam berkurban diteladani Nabi Muhammad SAW ketika berada di Madinah, setelah hijrah dari Mekkah. Setiap Idul Adha beliau selalu menyembelih sendiri dua ekor hewan kurbannya, lalu membagikan dagingnya kepada yang berhak menerimannya, selain sebagian kecil dagingnya dikonsumsi keluarga Nabi sendiri.

Edukasi filantropi melalui kurban sejatinya tanda bukti ketakwaan hamba karena panggilan iman dan takwa yang autentik itu pasti dapat menggerakkan hatinya untuk tulus berbagi. “Daging dan darah (dari hewan yang dikurbankan) itu sama sekali tidak sampai kepada Allah. Akan tetapi, yang sampai dan diterima oleh Allah adalah kualitas takwa yang ada pada diri kalian yang berkurban.” (QS Al-Hajj [22] : 37)

Jadi, selain eliminasi sifat-sifat buruk binatang seperti rakus, tamak, kemaruk, ibadah kurban merupakan pendidikan transformatif menuju kesalehan filantropis yang autentik mencintai dan mengasihi sesama dengan berbagi.

Edukasi filantropi diteladankan Nabi Ibrahim AS dengan memperoleh bahkan yang paling baik dan paling dicintainya yang buruk sekalipun. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi filantropi melalui kurban, menghendaki ketulusan dan kebaikan tingkat tinggi dalam beredukasi berkontribusi untuk bangsa dan negeri. Karena filantropi ialah cinta kebaikan dan kebajikan demi kemanusiaan

“Kamu sekali-kali tidak akan mencapai kebajikan (yang sempurna) sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS Al-Imran [3] : 42).

Dalam konteks ini Nabi Muhammad SAW Juga menerangkan bahwa “Seseorang tidak layak disebut mukmin selama belum mencintai sesamanya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Sejarah kegemilangan peradaban Islam sarat pelajaran filantropi. Bahkan ketika masih berdakwah di Mekkah Nabi Muhammad SAW telah menunjukkan edukasi filantropi kepada para sahabatnya. Salah satu ayat yang turun beberapa waktu setelah Nabi Muhammad SAW diangkat menjadi Rasul ialah, “dan janganlah kamu memberi dan berbagi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.” (QS Al-Mudatsir [74]: 6)

Etos filantropi dipelopori dan digerakkan Nabi Muhammad SAW dan istri tercinta Khadijah RA, yang mendermakan dan mewakafkan hampir seluruh hartanya untuk misi mulia dan kemajuan peradaban Islam. Dengan kata lain, edukasi filantropi salah satu kunci kesuksesan dunia Islam dalam membangun peradaban Islam Berkemajuan.

Sejarah membuktikan edukasi dan tradisi filantropi merupakan salah satu sakaguru ekonomi umat sekaligus menjadi solusi yang dahsyat dalam mengatasi berbagai persoalan umat dan bangsa seperti pengurangan kemiskinan terlahir ekonomis dan pendidikan mahasiswa al-Azhar di Kairo Mesir yang berusia lebih dari seribu tahun diberikan dan dikembangkan dari edukasi filantropi terutama wakaf.

Jadi Idul Adha dan ibadah kurban sangat penting dijadikan dapat dijadikan model strategis untuk menumbuhkan kesadaran dan etos filantropi dengan edukasi filantropi umat dan bangsa dapat bersinergi mencari dan memutuskan aneka solusi terhadap berbagai persoalan umat dan bangsa.

Edukasi filantropi perlu diurus bahkan sejak dini dengan partisipasi peserta didik di lingkungan pesantren, madrasah, sekolah, dan perguruan tinggi untuk belajar mengasihi sesama melalui kurban berjamaah secara patungan, sehingga edukasi filantropi selalu mengispirasi NKRI untuk berbudaya memberi dan berbagi, bukan meminta-minta. Tangan di atas (memberi itu lebih baik dan mulia) daripada tangan di bawah (meminta-minta). (mf)

Dr Muhbib Abdul Wahab MA, Ketua Prodi Magister PBA FITK UIN Jakarta. Sumber: Opini Media Indonesia, Kamis, 23 Agustus 2018.

Share This