Komaruddin Hidayat

SECARA sederhana, humanisme adalah pemikiran filsafat yang sangat menghargai kapasitas manusia dalam mengukur dan menentukan konsep kebenaran, kebaikan, dan keindahan dalam hidup ini. Jika ditarik jauh ke belakang, benih pemikiran ini sudah dirintis sejak Socrates (399 SM).

Dalam dunia politik, moral dan sosial, humanisme sangat menjunjung tinggi dan membela hak-hak individu atau pribadi. Kemerdekaan (freedom, liberty) merupakan hak dan kekayaan termahal setiap pribadi yang mesti dihargai dan dilindungi oleh hukum.

Dalam ranah politik, humanisme memberikan amunisi spirit terhadap demokrasi liberal, yaitu demokrasi yang membuka peluang bagi ekspresi kebebasan setiap orang yang kemudian mesti ditata dan dipagari oleh hukum yang rasional, sebab kebebasan tanpa etika sosial dan penegakan hukum hanya akan membunuh hak kemerdekaan manusia.

Humanisme berpandangan bahwa yang paling tahu apa yang benar dan baik bagi seseorang adalah dirinya sendiri. Maka itu, humanisme juga pelopor filsafat rasionalisme dan individualisme.

Perlu dibedakan antara individualisme dan egoisme. Keunggulan nalar, rasa seni, dan kesadaran moral menjadi rujukan utama humanisme dalam menata kehidupan, tanpa membutuhkan campur tangan Tuhan.

Mereka percaya pada nalar universal, meskipun proses pencapaiannya tidak pernah berhenti, sebagaimana ditunjukkan dalam penalaran empiris dalam bidang sains dan teknologi yang terus-menerus mengembangkan risetnya.

Di Barat, humanisme merupakan saudara kandung sekularisme. Salah satu prestasi yang menonjol dari ideologi ini adalah secara sangat serius mengelola kehidupan sosial dan lingkungan untuk kebahagiaan hidup “hari ini dan di sini” -now and hero– tidak perlu menunggu, atau bahkan tidak percaya, janji surga setelah kematian.

Jika orang berbuat kejahatan sosial, hukumannya diproses hari ini berdasarkan kaidah hukum rasional. Tidak relevan memutihkan kejahatan dengan ritual untuk melobi Tuhan.

Konsep di atas berbeda dari paham humanisme religius. Dalam tradisi Islam, misalnya, diyakini bahwa dalam diri manusia terdapat unsur lahut dan nasut. Ada jiwa ilahi dan jiwa insani. Alquran menyebutkan bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan terbaik, ditiupkan ke dalam jasadnya roh ilahi, sehingga setiap manusia memiliki potensi sifat-sifat ilahi.

Maka itu, logis kalau tanpa campur tangan Tuhan pun manusia bisa membangun peradaban yang hebat, karena hanya manusia yang bisa menampung dan meniru sedikit dari kehebatan Tuhan. Dalam diri manusia, ada roh ilahi yang mampu menangkap cahaya kebenaran dan kebaikan Tuhan yang kemudian diaktualisasikan dalam perilaku kemanusiaannya.

Jadi, paham humanisme dalam tradisi agama-agama besar dunia bukanlah humanisme sekularistik yang menolak peran Tuhan dalam diri manusia.

Sesungguhnya fisika kuantum berhasil melacak jejak-jejak Tuhan dalam diri manusia. Misalnya dalam kajian DNA (deoxyribonucleic acid) dikatakan bahwa dalam tubuh manusia terdapat sedikitnya 60 triliun sel, dan dalam setiap inti sel menyimpan sekitar tiga miliar informasi genetik. Artinya, penghuni sel dalam tubuh kita jumlahnya jauh berlipat-lipat dibandingkan penduduk manusia di muka bumi.

Semua sel itu bekerja sesuai dengan perintah untuk melayani kebutuhan tubuh kita. Semua bekerja harmonis, tak ada yang sabotase, tidak seperti manusia yang saling bertikai dan membunuh.

Pertanyaannya, siapa Penata Agung yang mengatur semua sel itu bekerja sesuai dengan tupoksinya? Apakah sekadar terjadi secara kebetulan?

Temuan ilmiah yang juga menarik, sel-sel itu ada yang on-off yang dipengaruhi oleh nutrisi, olahraga, dan yang tak kalah pentingnya adalah dipengaruhi oleh emosi seseorang. Orang yang jiwanya optimistis, pemaaf, senang membantu orang lain, sel-selnya akan hidup (on) dan terjauh dari sakit akibat banyak sel yang off.

Dikatakan, orang yang sedang jatuh cinta dan dirinya merasa bermakna bagi orang lain sel-selnya akan lebih aktif. Dari sudut pandang ilmiah sekuler, tentu saja semua itu tak lebih sebagai kinerja fisik yang terkait dengan hukum alam dan medan energi yang berada di alam semesta ini.

Tetapi bagi orang yang beriman, dalam diri manusia terdapat jejak-jejak dan ayat Tuhan sebagai penunjuk jalan bagi orang yang mau merenung untuk melakukan leap of faith. Sebuah loncatan iman, ketika nalar mentok tak berdaya. (zae)

Penulis adalah Guru Besar Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah. Artikel dimuat Koran SINDO, Jumat 8 Februari 2019.

Share This