Gedung Rektorat, BERITA UIN OnlineHimpunan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (Himahi) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Jakarta menggelar Webinar Internasional dan peluncuran buku berjudul Diplomasi: Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara secara virtual, Kamis (8/4/2021).

Buku ditulis oleh para diplomat dan mantan diplomat, antara lain Darmansjah Djumala (Duta Besar di Slovenia merangkap Austria), Agus Sriyono (Duta Besar di Vatikan periode 2016-2020), dan Bagas Hapsoro (Duta Besar di Swedia periode 2016-2020).

Webinar menghadirkan pembicara Abdurrahman Mohammad Fachir (Wakil Menteri Luar Negeri periode 2014-2015), Nazaruddin Nasution (dosen Prodi HI FISIP UIN Jakarta dan Duta Besar RI untuk Kerajaan Kamboja periode 2000-2003, serta Darmansjah Djumala dan Agus Sriyono sebagai penulis buku.

Sedang sebagai pembicara kunci menampilkan Rektor UIN Jakarta Amany Lubis dan Dekan FISIP Ali Munhanif. Webinar dipandu Riana Mardillah dari Prodi HI FISIP.

Secara umum, isi buku mengupas mengenai pengalaman para diplomat saat bertugas di negara tujuan masing-masing. Mereka menceritakan pengalaman tersebut dalam berbagai perspektif, terutama mengenai peran diplomasi Indonesia di mancanegara.

Topik yang dibahas dalam buku tersebut di antaranya mengenai pembagian isu, dimulai dari isu kewilayahan: Asia, Pasifik, Timur Tengah, Amerika, dan kemudian Eropa. Sedangkan tulisan yang bersifat cross-regional ditempatkan pada bagian akhir buku.

Setiap topik yang dibahas dipetik dan digali dari pengalaman paling berharga selama masa kerja para penulis di Kementerian Luar Negeri dalam kurun waktu antara 1985 sampai sekarang.

Agus Sriyono mengatakan, buku tersebut dapat menjadi sarana pengayaan pola pikir bagi mahasiswa, pebisnis, dan pemerhati hubungan internasional. Dia juga merekomendasikan agar buku Diplomasi: Kiprah Diplomat Indonesia di Mancanegara itu penting dimiliki dan dibaca bagi para mahasiswa, khususnya di Prodi HI.

Sementara menurut Darmansjah Djumala, gagasan awal penerbitan buku tersebut dilandasi oleh keinginan para penulis untuk berbagi pengalaman dan memberi kontribusi  pemikiran bagi masa depan diplomasi Indonesia.

Ia juga berharap agar buku yang mengulas tentang pengalaman para diplomat tersebut dapat membantu para mahasiswa dan dosen untuk mengembangkan ilmu HI, khususnya di FISIP UIN Jakarta.

AM Fachir mengatakan, dalam berdiplomasi dengan negara-negara di dunia, Indonesia selalu mengedepankan kemaslahatan dunia daripada kepentingan nasional. Hal itu terlihat dari diselenggarakannya Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung tahun 1955 yang dihadiri oleh 29 pemimpin negara di Asia dan Afrika.

“Bahkan Indonesia juga pernah menjadi salah satu dari 10 negara penyumbang pasukan perdamaian terbesar di dunia,” tutur AM Fachir, yang juga mantan Wakil Menteri Luar Negeri itu. (ns)

Share This