“Saya lagi super sibuk dan stress. Saat itu, saya tidak benar-benar baik-baik karena jatuh di tengah lautan dan berjuang untuk berenang sendirian di tengah samudera. Tolong doakan saya agar segera sampai di tepian pantai dengan selamat”.

KALIMAT di atas diungkapkan Hasnul Insani Djohar, Ketua Program Studi Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora UIN Jakarta, saat menceritakan pengalamannya menempuh gelar doktor dalam bidang sastra Inggris di University of Exeter, Inggris, kepada BERITA UIN Online, Senin (10/8/2020). Hasnul resmi menyandang gelar PhD dari universitas tersebut pada 2019 lalu setelah menjalani masa perjuangan yang cukup panjang dan berat.

Sebelum bertolak ke Inggris melanjutkan studi doktoralnya, Hasnul terlebih dahulu singgah di Central Michigan University, Amerika Serikat, untuk mengambil gelar Master pada bidang yang sama pada 2013. Pendidikan Master yang ditempuhnya diperoleh dari beasiswa Fulbright yang berpusat di Amerika, dan untuk program doktornya, Hasnul memperoleh beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan RI.

Sebagai mahasiswa baru yang masih memiliki keterbatasan dalam sastra Inggris, Hasnul mengaku haru dan bangga dapat diterima di kedua universitas bergengsi tersebut hingga berhasil menyandang gelar Master dan PhD. Namun, usaha yang diperoleh Hasnul tentu tidak sia-sia karena semua ditempuh berkat kerja kerasnya belajar Ilmu Susastra. University of Exeter, tempat Hasnul meraih gelar PhD, merupakan salah satu dari 100 universitas terbaik di dunia dan 10 universitas terbaik di Inggris.

Hasnul Insani Djohar berada di halaman kampus University of Exeter, Inggris, saat belajar mengambil gelar PhD..

Hasnul mengungkapkan, saat dirinya diterima di Exeter, proses belajarnya tak semudah yang dibayangkan. Konon, tuntutan utamanya, setiap mahasiswa harus memiliki kemampuan bahasa Inggris yang nyaris sama dengan “native” dan mampu membaca cepat dan menulis kritis.

“Kendala pertama saya saat belajar di Exeter dituntut untuk membaca jutaan teks dan menulis makalah argumentatif. Hampir setiap malam, saya menangis dan berjuang untuk belajar lebih keras lagi,” katanya.

Kendala yang sama juga pernah ia alami saat mengambil gelar Master di Central Michigan University.  Di universitas ini, menurut Hasnul, setiap semester dirinya harus mengambil tiga kelas sastra, seperti sastra Amerika, sastra Victoria, dan sastra dunia. Untuk setiap kelas, ia harus memiliki setidaknya 11 novel untuk dibaca, sehingga jika tiga kelas berarti ada tiga novel yang wajib dibaca per minggunya.

Hasnul sendiri sempat mengalami kepanikan saat harus membaca novel-novel yang menjadi tuntutan belajarnya dan memahami “perdebatan” di artikel-artikel tentang isi novel-novel tersebut. “Saya panik dan tidak tahu bagaimana cara membaca serta menamatkan tiga novel tebal dalam sepekan,” keluhnya.

Beruntung, saat dirinya panik, ia bertemu dengan seorang profesor dari Inggris, Desmond Harding, yang berasal dari Birmingham dan mengajar di Michigan University.  Dia menyarankan agar Hasnul membeli novel dan kemudian mencatatnya seusai membaca. Saran lainnya Hasnul juga diminta meminjam buku audio dari perpustakaan agar bisa membaca sambil mendengarkan isi novel-novel tersebut. Apalagi, setiap novel membutuhkan setidaknya 17 jam untuk dibaca. Itu berarti hanya butuh waktu dua hari untuk membaca dan memahami isi novel tersebut.

“Jadi, untuk ketiga novel itu, saya perlu sepekan membaca dan menulis laporan tentang penulisan kritis untuk setiap novel. Saya harus mempersiapkan dan berbicara tentang isi novel yang dibaca setiap pertemuan, karena hanya ada 12 mahasiswa dalam satu kelas,” ujar penulis buku Gender, Minority, and Globalization in Women’s Literature of the Ummah yang diterbitkan Ohio State University (2021) itu.

“Saya perlu berbicara di depan kelas, karena semua orang tahu bahwa saya seorang “sarjana Fulbright” yang mewakili pemerintah AS dan Indonesia. Saya juga harus “berpura-pura” bahwa saya memang cerdas, terlepas dari kesulitan belajar dan hampir tidak ada akhir pekan untuk saya,” lanjut Hasnul yang di sela-sela belajar kerasnya mengaku kerap menghabiskan waktu pergi ke gym atau berenang di pusat olahraga universitas tersebut secara gratis.

Tuntutan belajar sastra Inggris lebih keras ternyata tak hanya saat di Michigan University. Di University of Exeter, Hasnul harus kembali menghadapi hal serupa. Meskipun ia sendiri sempat memiliki pengalaman belajar keras di lembaga-lembaga Amerika, namun dirinya masih berjuang untuk mampu membaca secara cepat dan efektif serta menulis secara argumentatif dengan pemikiran kritis.

Hasnul mengatakan, di hari-hari pertamanya di Michigan, jika sebagian besar teman kuliah postgraduate-nya dapat membaca sepuluh buku berbahasa Inggris dalam sehari, namun tidak bagi dirinya. Ia hanya mampu membaca satu bab untuk sepanjang hari, bahkan kadang-kadang ia merasa kehilangan arah dan tidak tahu apa yang diperdebatkan penulis buku tersebut.

Dari pengalamannya yang terbatas membaca dan menulis ilmiah inilah, Hasnul kemudian memaksakan diri untuk berlatih lebih banyak membaca dan menulis setiap hari. Apalagi tuntutan untuk menulis thesis master and doctoral di universitas tersebut memiliki standar sangat tinggi.

Selama belajar itu, Hasnul kemudan banyak membaca beberapa buku praktis dan bermanfaat, seperti cara membaca secara efektif, cara menulis disertasi secara produktif, dan bagaimana mempraktikkan manajemen waktu. Melalui banyak membaca buku tersebut, ia berharap akan membantu menyelesaikan masalah kebahasaannya.

“Saya juga mengikuti beberapa seminar dan lokakarya secara gratis pula, seperti bagaimana melakukan penelitian dan beberapa lokakarya seperti buku yang saya baca sebelumnya,” ucap Hasnul.

Pada awal studi untuk meraih PhD-nya itu, supervisor Hasnul, Prof Sinead Moynihan dan Prof Florian Stadtler, yang ahli dalam studi Amerika dan Postkolonial, lalu memintanya untuk menulis jadwal selama menempuh pendidikan di University of Exeter. Dalam jadwal, ia harus menyerahkan makalah antara 7.000-10.000 kata evaluasi kritis pada debat dari setiap topik di bidang yang digelutinya selama ini, yakni “Women’s Literature of the Ummah” atau Sastra Umat Perempuan. Jadi, untuk tahun pertama selama menempuh pendidikan, setiap bulan ia harus menyerahkan makalah sekitar 7.000 kata dengan beberapa topik, seperti feminis Muslim, studi Diaspora, Pascakolonialisme, sastra Amerika, sastra Muslim-Amerika, Sastra Muslim-Inggris, 9/11 Novel, Gender, Migrasi, dan Globalisasi.

Sedangkan untuk tahun keduanya, ia harus membaca dan menulis semua tinjauan literatur yang relevan dengan disertasinya, yang menegosiasikan identitas dalam Sastra Umat Perempuan, khususnya karya-karya yang ditulis oleh wanita Muslim-Amerika, wanita Muslim-Inggris, dan wanita Muslim Asia, terutama wanita Muslim Indonesia, termasuk Okky Madasari.

“Untuk tahun ketiga, saya perlu menulis seluruh disertasi sekitar 100.000 kata dan dibagi menjadi lima bab. Sedangkan untuk tahun terakhir, saya perlu merevisi dan memoles seluruh disertasi serta menyerahkan untuk viva terakhir,” katanya.

Sebelumnya, Hasnul sendiri harus mengambil pertahanan viva atau ujian proposal disertasi pada akhir tahun pertamanya atau setelah selesai mengevaluasi beberapa perdebatan di bidang yang ditulisnya. Ia akhirnya melewati viva minor tersebut dengan meraih penghargaan tinggi dari kedua penguji, yakni Prof Regenia Gagnier dan Prof Laura Salisbury pada Maret 2015. Selain itu, Hasnul juga melewati ujian viva atau disertasi terakhirnya dengan mendapat apresiasi tinggi terhadap orisinalitas disertasi dirinya oleh dua penguji, yakni Prof Regenia Gagnier dan Prof Ruth Maxey pada 11 Januari 2019.

Hasnul mengutarakan, keberhasilannya menempuh pendidikan di luat negeri, baik saat meraih Master di Amerika maupun PhD di Inggris, semua diraih dengan linangan air mata hingga “berdarah-darah”. Karena itu ia berharap perjuangannya dapat diikuti oleh murid-muridnya kelak meski banyak badai menghadang.

Demi meraih PhD-nya, Hasnul selama belajar setiap hari harus membuat jadwal ketat. Ia mulai bangun pagi pukul 03.00 waktu setempat setelah tidur pukul 21.00. Setiap subuh, setelah berdoa dan membaca al-Qur’an, ia lalu menulis selama dua jam tanpa berhenti. Pada pukul 07.00 ia pergi ke pusat kebugaran di kampus, baik untuk berenang atau mengambil kelas olahraga, seperti yoga dan Zumba. Kadang-kadang, ia juga harus berjalan kaki atau bersepeda mengelilingi kampus. Pada pukul 08.00, ia tiba di “kantor” untuk melanjutkan menulis dan membaca beberapa buku dan artikel yang berkaitan dengan penelitiannya.

“Selama saya menempuh pedidikan di University of Exeter, pihak kampus memang memberi saya ruangan khusus plus komputer canggih, sehingga saya lebih  fokus studi,” ungkapnya.

Beruntungnya lagi, pihak kampus juga menyediakan sebuah ruangan shalat kecil bagi mahasiswa Muslim yang dilengkapi dengan dapur dan ruang tamu. Hasnul mengatakan, salah satu kunci sukses meraih PhD di University of Exeter adalah soal bagaimana memanajemen waktu. Karena untuk belajar di Inggris, yang mengharuskan penulisan disertasi dengan 100.000 kata selama 3-4 tahun. Berbeda dengan mengejar gelar PhD di AS, yang mengharuskan mengambil kelas selama 4-6 semester dan menulis tesis atau disertasi selama 2-3 tahun.

Kegiatan lain yang menantang, menurut Hasnul, ketika mengajukan permohonan untuk mengajar sebagai asisten dosen. Syaratnya, mahasiswa harus membagi waktu untuk melakukan penelitian dan mempersiapkan pengajaran, setidaknya satu jam setiap hari. Meskipun Hasnul sendiri hanya mengajar dan membimbing 15 mahasiswa untuk mata kuliah “Approaches to Criticism” atau pendekatan kritik, namun ia masih harus mempersiapkan dan membaca semua buku dan artikel untuk kelas tersebut, serta mengoreksi makalah dan tugas mahasiswa. Meski hanya 15 mahasiswa, namun Hasnul merasa justru seperti mengajar ratusan mahasiswa karena persiapan dan koreksi tulisan mereka sangat menyita waktu.

“Saya tidak dapat membayangkan jika saya seorang profesor sejati di sini mengajar tiga kelas, mengawasi mahasiswa Master dan PhD, dan memimpin beberapa peneliti pada saat yang bersamaan,” ujarnya.

Hasnul juga melihat bahwa di University of Exeter banyak profesor yang hidup seperti diburu hantu. Mereka harus berjalan dan berbicara cepat karena banyak tenggat waktu yang harus dikejar. Sepertinya, hampir tidak ada waktu bagi mereka untuk jalan-jalan dan mengobrol. Sebaliknya, setiap hari mereka sibuk dengan membaca dan menulis. Namun, sebut Hasnul, sebagian besar dosen di University of Exeter sangat baik dan sangat menghargai para mahasiswanya, termasuk dirinya.

“Semoga kebiasaan ini memengaruhi hari-hari saya untuk selalu produktif menulis artikel dan menerbitkan buku,” ungkapnya. (ns)

Foto-foto: Istimewa

Share This