Lingkungan sosial saya cukup majemuk dari sisi agama dan budaya. Ada beberapa nama tetangga yang bernuansa sintesa Arab-Jawa. Seperti Dulkanan, Dulkoir, Duladi, Dulkamit, Durakim, dan masih banyak yang lain. Setelah saya belajar bahasa Arab, baru tahu bahwa tulisan yang benar itu: Abdulhanan, Abdulchoir, Abdulhadi, Abdulhamid, Abdurrahim.

Bagi lidah Jawa yang tidak terlatih sejak kecil membaca huruf Arab, tidak mudah mungucapkan tulisan “ha” dan “fa”, mirip orang Arab sulit mengucapkan “parking“, berubah jadi “barking“. Tetanggaku ada juga yang bernama Patimah, Ropingah, Ngalimin, Pegodin, Ngamiri, Marpungah, kesemuanya terasa Arab campur lidah Jawa. Namun ada juga seorang teman dari Indonesia Timur cukup terkenal bernama Bedu Amang, padahal orang tuanya memberi nama asli Abdurrahman.

Kata santri dan pesantren sendiri menurut teori berasal dari bahasa Sanskrit, kental dengan pengaruh tradisi pendidikan Hindu Budha yang kemudian isinya diganti dengan ajaran Islam. Makanya mudah dimaklumi kalau orang-orang pesantren lebih toleran dengan simbol dan budaya lokal, tanpa mengorbankan substansi Islam.

Bangunan dan arsitektur masjid, misalnya, yang paling Islam adalah fungsi sholatnya, selebihnya kreasi budaya, seperti menara, kubah, bedug, kentungan, sarung, kopiah, dan lain sebagainya.

Konsep santri pun berkembang. Ada santri kilat, santri google, santri medsos, santri moderen, santri tradisional, santri post-Islamisme, dan lain sebagainya. Berbagai istilah dan konsep itu sebaiknya kita baca dan dengarkan argumen apa yang dikemukakan menyangkut istilah-istilah itu, baru diberikan respon, apakah sependapat ataukah tidak. Jangan langsung tolak atau terima.

Selamat Hari Santri. Tapi tidak perlu ada Hari Kyai. Di Kraton Yogya beberapa pusaka disebut Kyai. Di Kraton Solo ada kerbau putih juga disebut Kyai. (mf)

Prof Dr Komaruddin Hidyat MA, Guru Besar Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dikutip dari dinding fb Komaruddin Hidayat, 22 Oktober 2018.

Share This