Dalam artikel terdahulu dijelaskan berbagai pendapat para saintis tentang asal usul alam semesta. Demokritus (460-390 SM) mengatakan, asal-usul alam semesta adalah atom, sebuah makhluk terkecil yang tak dapat lagi diurai, Thales (625-545 SM) berpendapat dari air (water), Anaximenes (548 SM) dan Anaximenes (548 SM) berpendapat dari udara (air).

Pendapat lain lagi mengatakan asal-usul alam semesta ialah enrgi. Pendapat ini relative baru dibandingkan dengan pendapat sebelumnya. Pendapat ini dipopulerkan oleh Thomas Young (1773-1829), seorang fisikawan Inggris. Ia mendukung dan sekaligus memopulerkan pendapat yang mengatakan asal-usul alam semesta ialah energi.

Energi berasal dari bahasa latin, energos berarti ‘aktif’, ‘bekerja’. Energi dianggap  sebagai realitas primordial (primordial reality) yang menjadi sumber, termasuk keseluruhan yang menjadi alam semsta, termasuk apa yang disebut kalangan fisikawan sebagai the singularity atau kalangan mistikus disebut energi ilahi (Divine energy) yang menyebabkan dntuman awal (the big bug) yang melahirkan particular yang terus berkembang (expanding universe).

Energi  mendapatkan pembahasan dari dua perspektif yang berbeda.  Pertama , energy diwancanakan sebagai unsur materi awal yang tanpa bentuk dan tak terlihat. Energy dilukiskan bagaikan maya (illusion) yang kemudian mewujud menjadi substansi alam semesta (universal energy). Dari energy ini lah terbentuk materi dasar dan kemudian membentuk alam semesta.

Energy bagi para fisikawan dapat di bagi menjadi beberapa bagian dengan sifat dan karaternya masing-masing, seperti potensi energy (potential energy), energy penggerak (kinectik energy), energy kimia (chemical energy), energy listik (electronical energy), energy nuklir (nuclear energy), dll. Kita tahu bahwa energy itu ada tetapi tidak bisa menjelaskan definisi energy. Kita hanya bisa mengenal apa yang terjadi dengannya (what it is). Kita kenal energy sebagai suatu kekuatan untuk mendukung kinerja yang lebih kuat.

Didalam pembahasan teologi energy dianggap sebagai ‘kesadaran mendalam’(eternal consciousness) kemudian melahrkan kekuatan dalam pikiran dan mengahsilkan berbagai fenomena, baik dalam dunia fisik maupun nonfisik. Dalam pandangan teologis atau metafisik , energy memiliki dua aspek, yaitu aspek primer (primary aspek) yang bersifat transenden, abadi, dan tidak tersentuh oleh kesadaran fisik (unchanging consciousness). Kalangan teologi menyebut aspek sebagai Yang Maha Esa (The One), Godhead, Syiwa, Brahma,  Purusha, Theos, Tuhan dan beberpa nama besar lainnya.

Aspek kedua yaitu aspek imanen atau energy kosmos yang aktif, yang biasa disebut Nous, Sang Pencipta (creator), Shakti, Maya, Prakrti, Logos, atau dapat dihubungkan dengan konsep al-Asma’ al-Husna atau Wahidiyah dalam dunia tasawuf. Dari segi ini, energy bisa dianggap sebagai sumber dari segala sumber yang terwujud menjadi alam semesta. Dalam bahasa sederhananya , energy tidak lain adalah apa yang disebut Tuhan dan level Wahidiyah, bukan dalam level Ahadiyah yang dalam perspektif teologi Islam.

Kita tidak bisa menemukan padanan energi di dalam Alquran. Namun, jika yang dimaksud energi adalah sumber kekuatan dan sekaligus adalah bentuk asal-usul segala bentuk material atau apa yang disebut dengan entitas permanen (al-aýan al-tsabitah), maka bisa dijelaskan bahwa alam semesta ini tidak lain adalah manivestasi (tajalli) atau sesautu dalam mana Tuhan mewujudkan dirinya (madhhar). Masih perlu penjelasan lebih panjang untuk mengatakan energi adalah asal-usul alam semesta, apalagi jika mengatakan energi tak lain adalah the power of God, apalagi untuk mengatakan Energy is the God.

Prof Dr Nasaruddin Umar MA, Guru Besar Ilmu Alquran Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Dialog Jumat Republika, Jumat, 20 September 2019. (lrf/mf)

Share This