Tiga kata kunci dalam judul tulisan ini saling berkaitan, dan tidak mungkin dipisahkan satu sama lain. Karena berhaji sejatinya sarat dengan pendidikan sejarah untuk membentuk kesadaran historis para jamaah haji dengan “berkelana dan menapaktilasi” jejak-jejak kehidupan para Nabi teladan: Adam AS, Ibrahim AS, Ismail AS, dan Muhammad SAW. Salah satu ritual dalam manasik haji adalah melempar jamrah (ramyu al-jamarat). Pelemparan tugu jamrah di Mina itu merupakan bentuk seremoni dan aktualisasi nilai perjuangan dan pengorbanan yang pernah diteladankan oleh Khalilullah Ibrahim AS ketika diperintahkan oleh Allah SWT untuk ”menyembelih” putra yang dicintainya, Ismail AS.

Pada tanggal 10 Dzul Hijjah, para jama’ah haji seluruh dunia tumpah ruah di Mina untuk menapaktilasi “drama pengorbanan” Ibrahim dan Ismail. Mereka rela dan penuh semangat untuk melempar jamrah, mengusir setan, dan menyembelih egoisitas di lembah Mina tersebut, meskipun dengan berdesak-desakan dan bersusah payah. ”Drama cinta” dengan ploting tema penyembelihan hewan kurban sejatinya merupakan pendidikan kemanusiaan paling autentik dan menarik. Mengapa manusia, lebih-lebih anak kandung sendiri, harus dikurbankan atau harus ”disembelih” oleh ayah kandungnya sendiri?

Pada 10 Dzul Hijjah tersebut umat Islam di seluruh dunia yang tidak sedang menunaikan ibadah haji melaksanakan shalat Idul Adha atau Idul Kurban dan dilanjutkan dengan ibadah sosial berupa penyembelihan hewan kurban. Menyembelih hewan kurban, menguliti, membagi dagingnya kepada yang berhak, sambil bertakbir, bertahmid, bertasbih, dan bertahlil pada tanggal 10 dan hari-hari tasyrik (11-13 Dzul Hijjah) merupakan pendidikan kemanusiaan yang sarat nilai.

Apa yang sesungguhnya dicari dan dimaknai jamaah haji dalan prosesi ritualitas melempar jamrah, sehingga mereka rela berdesak-desakan di lembah yang dahulu sangat sunyi, namun saat ini penuh sesak dengan lautan manusia dari segala penjuru dunia? Bagaimana pesan moral dari salah satu wajib haji, yaitu ramyu al-jamarat dan penyembelihann hewan kurban dapat dikontekstualisasikan dalam pendidikan kemanusiaan dan keadilan sosial. Bukankah esensi pendidikan, apapun jenis dan ragamnya, merupakan proses humanisasi agar menjadi manusia mulia dan bahagia dunia dan akhirat, sesuai dengan visi pendidikan Islam (QS. al-Baqarah [2]: 201)

Memaknai Ritualitas Haji

Prosesi manasik ibadah haji itu sangat menarik ditelisik, terutama dalam persepektif pendidikan kemanusiaan. Kaum Muslimin yang menunaikan haji diwajibkan memakai pakaian ihram yang serba putih dan harus dimulai dari miqat (garis start sebelum memasuki zona manasik haji). Dari cara start, ucapan talbiyah (Labbaika Allahumma labbaik…) dan pakaian yang dikenakan. Talbiyah itu sarat nilai tarbiyah (pendidikan). Para jamaah haji dididik untuk hidup dengan tazkiyat an-nafs (penyucian diri), menjaga kebersihan pakaian, badan, lebih-lebih hati dan pikiran. Pakaian ihram yang dibarengi dengan talbiyah mengajarkan pola hidup berbasis tauhid, demokratis, kebersamaan dan persatuan dengan saling menghormati dan menghargai perbedaan: bahasa, warna kulit, latar belakang sosial, budaya, pendidikan ekonomi, negara, dan sebagainya.

Ketika thawaf (mengelilingi Ka’bah) sebanyak tujuh kali dengan sedikit berlari-lari kecil pada tiga putaran pertama, jamaah haji dididik untuk hidup dinamis, terus bergerak, terus menggapai tujuan mulia, tidak statis dan menyerah tanpa usaha. Namun, dalam dinamika hidup itu, ada Yang Maha Kekal Abadi (al-Baqy) dan harus menjadi orbit kehidupan, yaitu Allah. Semula dinamika kehidupan harus diorientasikan kepada orbit tauhidnya yang disimbolisasikan dengan Ka’bah (bangunan berbentuk kubus, kubus dengan empat sudut). Ka’bah melambangkan poros kehidupan dan keabadian, karena semua yang ada di sekelilingnya harus terus bergerak dan berputar mengitarinya. Dengan kata lain, hidup ini harus terus progresif dan berkemajuan, tetapi jangan lupa bahwa dalam dinamika dan kemajuan itu, manusia harus menyandarkan diri dan mengandalkan kekuatannya kepada Dzat Yang Maha Kuasa (al-Qadir) dan Abadi. Thawaf mendidik jamaah haji semakin beriman, berusaha, bertakwa, dan bertawakkal kepada Allah SWT.

Dinamika thawaf harus ditindaklanjuti dengan etos sa’i (usaha mulia) antara bukit shafa dan marwah. Sa`i artinya usaha atau kerja dalam rangka meraih cita-cita mulia, bukan sekadar kerja, kerja, kerja. Kerja itu harus dimulai dengan semangat shafa yang artinya kebersihan, kesucian, dan ketulusan hati. Dahulu Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, mendemonstrasikan etos sa’i karena berusaha dengan sungguh-sungguh mencari air kehidupan bagi sang bayi Ismail, anak kesayangannya, yang sedang kehausan dan kelaparan di tengah padang pasir yang terik, tandus, dan gersang. Sementara, keduanya (Hajar dan putranya) ditinggal pergi ayahnya, Ibrahim ke Palestina.

Kejernihan hati memang merupakan kunci keberhasilan dalam berusaha, apalagi usaha itu demi masa depan sang anak. Karena itu, agar usaha berguna bagi masa depan, maka berusaha perlu diakhiri dengan semangat marwah, yang artinya puncak kepuasan hati atau memberi kepuasan. Dengan kata lain, bekerja itu harus ikhlas, cerdas, optimal dan profesional agar dapat memberi kepuasan bagi diri sendiri dan orang lain. Dalam manajemen modern dikenal dengan customer satisfication, sehingga usaha Hajar itu diapresiasi dan diberkahi oleh Allah dengan dibuatkannya sumur zamzam oleh malaikat Allah, sebuah mata air paling memuaskan (dan dirindukan) airnya oleh semua jamaah haji dan keluarganya di tanah air.

Pada tanggal 8 Dzul Hijjah, para jamaah pergi ke Mina untuk mabit dalam rangka hari tarwiyah (atau ada pula yang langsung menuju Arafah) dan esok paginya pergi ke padang Arafah untuk melakukan wuquf. Prosesi wuquf di Arafah merupakan puncak ibadah haji (al-Hajju ‘arafah). Kerja (sa’i) untuk urusan dunia itu seringkat itu tidak ada habisnya (dan boleh jadi manusia diperbudak oleh pekerjaannya), maka manusia perlu wuquf yang artinya berhenti sejenak sambil merenung, bertafakkur, berefleksi, bertadabbur, beristighfar, berdoa, dan sebagainya. Wuquf mendidik jamaah haji memiliki kompetensi bermuhasabah atau introspeksi diri (inward looking): ”Apakah selama perjalanan hidup ini tamu Allah yang selalu bekerja itu telah menghiasi diri dengan arafah atau belum? Arafah berarti mengetahui dan menyadari hakikat jati diri sendiri, untuk selanjutnya bersikap arif, agar bisa mencapai ma’rifat Allah, mengenal dan meneladani sifat-sifat Allah yang terbaik (al-Asma’ al-Husna) dan mengamalkannya dalam kehidupan nyata.

Dengan kata lain, wuquf di Arafah, yang oleh sebagian ulama’ dipandang sebagai representasi atau simbolisasi mahkamah ilahiyyah (peradilan Allah) di padang makhsyar pada Yaum al-Hisab kelak, memberikan pelajaran bagi umat manusia bahwa hidup yang sebentar ini tidak cukup dengan kerja keras dan cerdas semata, yang biasanya manusia mengandalkan kecerdasan intelegensinya. Lebih dari itu, manusia dididik untuk selalu memiliki ruang keinsafan dan kearifan, sikap empati dan kesetiakawanan sosial dalam bermasyarakat dan berbangsa sekaligus memiliki kesadaran dan kecerdasan mental spiritual dalam bentuk ketaatan dan rasa tanggung jawab dalam menjalani kehidupan ini, sehingga selama hidupnya manusia terus berusaha tidak melanggar hukum-hukum Allah.

Kearifan dan kesadaran spiritual memang sangat diperlukan agar manusia selalu dekat dengan Allah. Karena ma’rifatullah (kenal dekat dengan Allah dan mencintai-Nya) merupakan kunci kedamaian dan kebahagiaan hidup. Sementara cinta dunia dengan segala pernak-perniknya (wanita, harta, tahta, permata, dan pesta) hanyalah kesenangan semu yang bisa membuat manusia tertipu. Oleh karena itu, episode manasik selanjutnya adalah bermalam di Muzdalifah. Muzdalifah berarti dekat atau mendekatkan diri. Setelah manusia itu meraih `arafah insaniyyah dan ‘arafah ilahiyyah, tahapan berikutnya adalah berusaha dekat dengan sesama sekaligus mendekati Sang Penguasa jagad raya. Mengapa demikian? Karena untuk mendapatkan cinta Ilahi yang sejati itu perlu ada perjuangan, pengorbanan, dan pendekatan diri terlebih dahulu.

Esensi Kurban: Pendidikan Kemanusiaan dan Keadilan

Mengapa yang diminta oleh Allah untuk dikurbankan itu adalah yang paling dicintainya, putra terkasihnya? Karena, manusia seringkali terjebak pada cinta dunia: cinta harta, cinta wanita, cinta kekuasaan, cinta tahta, cinta pesta, cinta permata, dan sebagainya sementara manusia cenderung lupa adanya cinta abadi, yaitu cinta Ilahi. Mencintai Allah itu merupakan jalan keabadian, jalan pendakian menuju ridha dan surga-Nya. Karena itu, diperlukan adanya pengorbanan; dan dalam pengorbanaan pasti ada godaan dan halangan. Mencintai Allah dengan tulus dan ikhlas meresponi panggilan perjuangan dan pengorbanan merupakan pendidikan kemanusiaan dan keadilan yang luar biasa autentik dan heroik yang pernah diteladankan oleh sang kekasih Allah, Khalilullah, Ibrahim AS.

Ternyata kadar cinta Nabi Ibrahim kepada Allah yang luar biasa tulus itu membuahkan cita-cita yang indah. Anaknya, Ismail, tidak jadi disembelih, namun diganti oleh Allah dengan domba yang besar. Hal ini bernilai pendidikan kemanusiaan bahwa manusia, seperti Ismail, yang dicita-citakan ayahnya untuk menjadi generasi penerus perjuangannya, tidak layak dikorbankan. Terlalu mahal manusia dijadikan korban (tumbal) atas nama apapun. Biarlah hewan-hewan saja yang dikorbankan, agar manusia tidak lagi berperilaku seperti hewan kurban. Walhasil, pengorbanan Ibrahim menunjukkan kepada kita bahwa manusia harus dihormati, dihargai, dicerdaskan dan diberdayakan, bukan disikapi dengan kekerasan, penindasan, pelecehan, apalagi dijadikan sebagai korban pembunuhan.

Jadi, pendidikan  ini berorientasi untuk penyelamatan dan pembebasan hidup manusia dari segala bentuk arogansi (termasuk arogansi dan egositas kekuasaan), penindasan, perbudakan, pembulian, penzaliman, dan pembunuhan. Pendidikan kemanusiaan dan keadilan melalui ibadah penyembelihan hewan kurban sejatinya dimaksudkan agar manusia tidak lagi dikorbankan atas nama kekuasaan, pembangunan, kepentingan ideologi dan politik tertentu, dan sebagainya seperti yang pernah dilakukan oleh Raja Namrud atau Fir’aun di masa kedigjayaan kekuasaannya.

Oleh sebab itu, esensi Idul Kurban dengan penyembelihan hewan kurban bukanlah terletak pada darah yang dialirkan dan daging yang dimakan atau dibagikan kepada fakir miskin dan pekurban sendiri, melainkan pada kemurnian (keikhlasan) cinta, kepasrahan, dan ketakwaan sejati kepada Allah. “Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi takwa dari (lubuk hati)-mu-lah yang dapat mencapainya.” (QS. al-Hajj [22]:37).

Dari uraian tersebut dapat ditegaskan bahwa ibadah haji dan Idul Kurban sarat dengan pendidikan kemanusiaan dan keadilan sosial bagi seluruh umat manusia. Figur teladan yang telah berjasa dalam memberikan contoh aktualisasi ibadah kurban adalah Ibrahim AS dan putra tercintanya, Ismail AS. Ibrahim, sebagai bapak para Nabi, telah berjasa besar, tidak hanya dalam rekonstruksi Ka’bah sebagai poros tauhid dan orientasi ibadah kita (QS al-Baqarah [2]: 127), tetapi juga menemukan dan memberikan fondasi yang kokoh dan arah jalan yang jelas bagi kehidupan, yaitu tauhid atau agama yang hanif (benar dan lurus).

Pendidikan kemanusiaan dan keadilan yang diwariskan Ibrahim AS kepada kita merupakan legasi (warisan) yang sangat berharga dalam menentukan masa depan umat manusia. Sikap terbuka, ketulusan, keikhlasan, transparansi, keberanian, kegigihan, dan kesabaran beliau dalam menerima ujian iman diresponi dengan ketundukan dan ketaatan prima dan bulat, tanpa ragu dan tanpa menawar sedikitpun. Beliau sangat terbuka menyampaikan mimpi berupa perintah penyembelihan anak kandungnya yang sangat dicintainya itu (QS ash-Shaffat [37]: 102). Bersamaan dengan itu, beliau juga menunjukkan sikap demokratisnya terhadap Ismail, melalui dialog penuh kasih-sayang antara sang ayah dan sang anak. Dialog berbasis kasih sayang merupakan manifestasi dari humanisasi, pendidikan kemanusiaan dan kesetaraan (keadilan).

Ibadah kurban merupakan ujian dan tolok ukur cinta yang perlu dihadapi dengan penuh ketulusan dan kesabaran. Pendidikan kemanusiaan itu akan membuah hasil yang manis dan menggembirakan semua, apabila dilandasi ketulusan, autentisitas aspirasi dan suara hati nurani, bukan kepura-puraan dan pencitraan palsu yang kerap dipertontonkan oleh para badut politik dan pemimpin boneka. Dalam konteks ini Ismail berhasil meneguhkan komitmen tauhid ayahnya, sehingga proses penyembelihan kurban itu berhasil dilaksanakan. Kedua-duanya pasrah dan tunduk terhadap perintah Tuhan, sebagai realisasi cinta dan harapannya yang hanya dipasrahkan kepada Allah SWT. Jadi, pekurban dengan kadar cinta murni yang sejati kepada Allah pasti tidak akan pernah terperangkap dengan cinta dunia, cinta kuasa, cinta tahta, cinta harta, cinta wanita, dan cinta pesta.

Pendidikan kemanusiaan dan keadilan sesungguhnya merupakan manifestasi tauhid murni yang mantap, bulat, dan tulus hanya kepada Allah SWT. Dalam konteks ini, Ibrahim suk ses mengorbankan egoisitasnya berupa anak atau harta benda yang dimilikinya, sehingga menjadi hamba sekaligus kekasih Allah.

Dengan kata lain, pendidikan kemanusiaan dan keadilan sosial dengan mengorbankan nafsu kebinatangan dan egoisitas keduniaan, yang notabene bersemayam dalam diri setiap manusia idealnya; dapat berorientasi dan mengantarkan cinta sejati kepada Allah. Oleh karena itu, melalui Idul Kurban, umat Islam sangat diharapkan dapat mereformasi dan meneguhkan ketauhidan dan keimanan dalam hati, menumbuhkan semangat berkurban menuju cita-cita kemanus iaan (humanisasi) yang adil dan beradab, dan menghiasi hidup ini dengan penuh cinta, kearifan, ketulusan, persaudaraan, kesatuan, keharmonisan, dan kedamaian.

Dr Muhbib Abd Wahab MA, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: MAJALAH TABLIGH NO. 08/XVII 22 DZULHIJJAH 1440H/15 AGUSTUS-15 SEPTEMBER 2019 M. (lrf/mf)

Share This