Haji dan Pendidikan Persatuan Umat

Haji dan Pendidikan Persatuan Umat

Muhbib Abdul Wahab
(Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
Wakil Ketua Lembaga Pengembangan Pesantren PP Muhammadiyah)

Perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel bukan sekadar perang memperebutkan hegemoni dan mempertaruhkan ideologi (Islam vs kapitalisme-liberalisme-despotisme Barat), tetapi juga merupakan perang yang menguji iman dan persatuan umat. Sebagai pihak yang diserang terlebih dahulu oleh AS dan Israel, secara hukum internasional Iran berposisi sebagai pihak yang membela diri dan mempertahankan harkat dan martabatnya sebagai negara berdaulat.

Sementara itu, bagi dunia Islam, agresi AS dan Israel terhadap Iran sejatinya menguji keimanan umat. Apakah umat Islam hanya menjadi "penonton perang" dan membiarkan kezaliman dan kebiadaban AS dan Israel yang selama ini selalu menerapkan standar ganda terhadap dunia Islam, khususnya terkait pendudukan Palestina oleh rezim Zionis? Atauhkah dunia Islam, masyarakat Sunni bersikap acuh tak acuh terhadap berkecamuknya perang tersebut karena negara Iran itu bermazhab Syi'ah? Apakah perang yang sudah memasuki pekan kelima (dimulai 28 Februari lalu) justeru membuat dunia Islam terbelah dan terfragmentasi, baik secara politik maupun sosial kultural karena mayoritas negara-negara Islam (Sunni) menyediakan wilayahnya menjadi pangkalan militer AS?

Tampaknya karena faktor keamanan dan alasan ekonomi, Arab Saudi, Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, Iraq, Yordania, Oman, dan Kuwait, secara langsung atau tidak langsung, turut membantu dan mendukung AS dan Israel menyerang Iran. Oleh karena itu, korps garda (pengawal) revolusi Islam (IRGC = Islamic Revolutionary Guard Corps) kemudian menargetkan sejumlah pangkalan militer dan kedutaan AS di sejumlah negara tersebut, karena bagi Iran, negara teluk yang membiarkan wilayahnya menjadi pangkalan militer AS itu merupakan target sah untuk dirudal dan dijadikan target drone kamikaze sebagai bentuk pembelaan diri dan pengusiran mereka.

Secara strategis, perang asimetris ini sejatinya telah membuat AS dan Israel mengalami kerugian yang sangat besar, baik secara ekonomi, politik, dan moral (harga diri), karena banyak tantara AS dan Israel tewas, lumpuhnya sistem pertahanan dan radar AS, rontoknya sejumlah pesawat pembom, dan rusaknya berbagai fasilitas strategis dan bangunan megah di kota-kota Israel.

Di balik perang strategi, perang mental spiritual dan kesabaran (dilakukan di bulan suci Ramadhan), perang peradaban, dan perang untuk menguasai sumber daya ekonomi dan energi (minyak, gas, dan bisnis persenjataan), ada hikmah yang harus dipetik oleh umat Islam. Perang ini idealnya menyadarkan dunia Islam bahwa apabila bersatu padu, umat (dunia) Islam pasti menjadi kuat dan hebat. Bayangkan, selama 47 tahun (sejak 1979) diembargo, dijatuhi sanksi ekonomi, dikucilkan, ditekan, dan dimusuhi oleh musuh-musuh Islam (AS dan sekutunya), Iran menunjukkan keberanian dan kekuatan mental, sosial, ekonomi, persenjataan, dan kemajuan intelektualitasnya yang patut diapresiasi.

Apabila dikaitkan dengan ibadah haji, yang tidak lama lagi, akan dijalani umat Islam dari seluruh penjuru dunia, maka kita perlu merekonstruksi dan mereformulasi pendidikan persatuan umat Islam berbasis nilai-nilai ibadah haji. Tentu saja, haji tidak dipandang sekadar menunaikan dan menggugurkan kewajiban syariah sebagai rukun Islam kelima. Nilai-nilai ibadah haji dalam semua rangkaian manasiknya sarat dengan pesan persatuan umat, persaudaraan universal, sinergi, harmoni, dan koloborasi global dalam mewujudkan pembangunan peradaban umat.

Bagaimana seharusnya ibadah haji menginspirasi dan mengedukasi para tamu Allah (dhuyuf ar-Rahman) untuk memiliki spirit bersatu, bersaudara, bersinergi untuk memajukan peradaban Islam, meskipun mereka berasal dari latar belakang yang majemuk, baik dari suku, ras, warna kulit, strata sosial ekonomi, budaya, bahasa, maupun negara? Mengapa dunia Islam masih mudah dipecah belah, diadudomba, dan dibenturkan, misalnya, antara kaum Sunni dan Syi'i, antara Ahlus Sunnah wa al-jama'ah dan Salafi-Wahabi? Bagaimana mengakhiri semua konflik dan konfrontasi internal umat Islam untuk melahirkan persatuan dan persaudaran, terutama dalam menghadapi musuh-musuh Islam yang sejatinya tidak pernah lelah memusuhi kita?

Sebagai bukti awal, menarik dicermati pernyataan Menteri Perang AS, Pete Hegseth, bahwa "musuh kita itu Islam Sunni dan Syiah. Semua akan kita perangi. Lebih jauh dengan nada nyinyir dan penghinaan, dikatakan bahwa rezim gila yang memiliki ilusi kenabian tidak layak memiliki senjata nuklir." Jadi, selain untuk kepentingan ekonomi dan bisnis senjata, AS dan Israel memerangi Iran dan negara-negara Islam karena memang dalam mindset mereka, Islam Sunni maupun Syiah itu musuh, harus dimusuhi, karena dianggap radikal (teror) dan mengancam stabilitas dunia. Bukankah biang kerok (poros kejahatan dan kekacauan) dunia itu ditunjukkan terang-benderang oleh Israel dan AS yang sombong dan zhalim?

Mindset Ibadah

Tujuan beribadah dalam Islam itu tidaklah sekadar menggugurkan kewajiban. Sebab, jika tujuannya menggugurkan kewajiban, maka ruh dan hikmah dari ibadah itu tidak dapat diraih. Ibadah bisa menjadi terasa hambar, gersang makna spiritual, tidak bermakna, dan tidak membekas sedikitpun dalam jiwa orang yang beribadah.

Sebagai contoh, shalat bukan sekadar gerak fisik dan ucapan yang dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam, tetapi harus menghadirkan makna mendalam; membentuk kebiasaan positif, misalya disiplin dan fokus, dan kepribadian yang antimaksiat. Mengubah mindset shalat dari sekadar ritual-formal menjadi aktualisasi nilai-nilai spiritual yang mempribadi dalam kehidupan sehari-hari dan mengubah kualitas hidup menjadi lebih bermoral itu sangat penting, termasuk mindset beribadah haji.

Pelaksanaan ibadah haji juga bukan sekadar ritual-formal dan fisik belaka, karena di balik semua manasik ibadah, terdapat pesan nilai, hikmah, dan pelajaran moral yang sangat penting dikembangkan dalam kehidupan setelah menyelesaikan ibadah haji di tanah suci. Dalam konteks pendidikan persatuan umat, nilai-nilai ibadah haji dapat diaktualisasikan berdasarkan tempat suci yang digunakan, pakaian ihram yang dikenakan, dan manasik (amalan rukun, wajib, sunnah, dan larangannya). Semuanya dapat dimakna dalam konteks pendidikan persatuan.

Ibadah haji mengajarkan bahwa persatuan umat Islam dapat terwujud melalui kebersamaan, kesetaraan, dan sikap saling menghargai dalam kehidupan sehari-hari. Ibadah haji memang punya potensi besar untuk menumbuhkan persatuan umat. Tapi soal "melawan tirani Barat," penting diarahkan ke cara yang bijak, konstruktif, dan tidak merusak- karena tujuan utama haji adalah membentuk akhlak mulia, persaudaraan, dan pemajuan segala aspek kehidupan umat, bukan konflik, saling permusuhan, relasi sosial yang diwarnai kebencian dan kecurigaan.

Oleh karena itu, mindset beribadah haji dapat diorientasikan kepada pengembangan literasi dan pendidikan persatuan umat. Dengan demikian, jamaah haji perlu memahami literasi tentang persatuan dan persaudaraan umat, tidak sekadar belajar manasik haji dari segi fiqihnya. Aspek historis dan khutbah Wada' Nabi SAW yang berisi pesan-pesan tentang hak-hak asasi manusia juga perlu diintegrasikan dalam kurikulum manasik haji. Sebab, haji itu merupakan puncak dan manifestasi multiibadah: ibadah jismiyyah (ibadah fisik), ibadah maliyyah (finansial), ibadah aqliyyah wa ruhiyyah (ibadah mental spiritual), ibadah ijtima'iyyah wa tsaqafiyyah (ibadah sosial kultural), ibadah qalbiyyah (ibadah hati), dan ibadah tarbawiyyah (ibadah Pendidikan).

Esensi dan Tujuan Pendidikan Persatuan

Esensi ajaran Islam itu berbasis tauhid, ajaran tentang keesaan Tuhan. Allah itu Maha Esa, tiada tuhan yang berhak disembah dan diibadahi selain-Nya. Tauhid itu menjadi poros dan jiwa dari kehidupan Muslim. Selain berarti mengesakan, tauhid juga bermakna menyatukan, memadukan, dan mengintegrasikan. Pandangan hidup Muslim dibentuk dan dibingkai tauhid. Pandangan dunia (world view) Muslim dalam memaknai kehidupan ini juga dilandasi oleh tauhid yang otentik. Tauhid al-ibadah dan tauhid al-ummah (tauhid dalam beribadah dan penyatuan umat) merupakan cita-cita mulia hidup Muslim. Tauhid al-ibadah akan membuahkan tauhid al-ummah apabila ibadah dimaknai tidak hanya dalam konteks pembentukan kesalehan personal, tetapi juga dimuarakan menjadi kesalehan sosial.

Karena itu, esensi pendidikan persatuan melalui ibadah haji adalah upaya membentuk pola pikir (mindset), sikap (attitude), dan perilaku (behavior) jamaah agar mampu hidup rukun dalam keberagaman serta menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi atau golongan. Berbasis konsep dasar tersebut, tujuan pendidikan persatuan adalah menanamkan nilai kebersamaan (misalnya memulai ibadah haji dari miqat, titik start, yang sama; mengenakan pakaian ihram yang sama (berwarna putih), bertawaf (mengelilingi ka'bah) yang sama. Kebersamaan menjadi nilai dasar dalam membangun masyarakat yang harmonis.

Esensi pendidikan persatuan adalah membentuk jamaah haji yang bersikap peduli terhadap pentingnya kebersamaan, toleransi, kepedulian, dan pola/budaya hidup harmonis dalam keberagaman demi terciptanya masyarakat yang damai dan kuat. Lulusan pendidikan persatuan berbasis ibadah haji di tanah suci tentu saja diharapkan memiliki wawasan sosial yang menghargai perbedaan karena mereka sudah dibiasakan dalam ekosistem perbedaan (kebhinekaan).

Dalam konteks Indonesia yang memiliki beragam suku, ras, agama, strata sosial ekonomi, dan budaya, pendidikan persatuan menekankan pentingnya toleransi dan saling menghormati satu sama lain. Melalui praktik tawaf dan sa'i, jamaah haji diedukasi untuk tidak bersikap egois, tetapi lebih mengutamakan kepentingan komunitas, menjaga ketertiban bersama.

Selain itu, pendidikan persatuan umat juga bertujuan agar pelaksanaan ibadah haji berbasis literasi ilmiah (saintifik), didasari pemahaman dan penghayatan nilai-nilai haji yang memadai tentang ibadah haji, sehingga dapat menghasilkan jamaah yang mandiri, memiliki sikap gotong royong sebagai fondasi penting dalam memperkuat persatuan. Sejak di tanah air, terutama saat menunggu pemberangkatan, jamaah haji mulai belajar "mengurus diri sendiri", memahami regulasi, dan belajar berkolaborasi satu dengan yang lain dalam banyak hal, mulai dari tertib antri makanan, minuman, pemanfaatan kamar mandi, dan sebagainya.

Wallahu a'lam bi ash-shawab! (Bersambung)

Artikel ini telah diterbitkan di Majalah Tabligh Edisi No. 04/XXV.