Haji merupakan ibadah holistik integratif paling “berat dan berbiaya”, karena merupakan puncak sekaligus perpaduan antara ibadah hati, akal, jiwa, raga, harta benda, dan sosial  budaya. Ibadah bertaraf dan berwawasan internasional ini juga merupakan ibadah multidimensi dan lintas batas: geografi, sosial ekonomi, sosial politik, bahasa, budaya, dan  suku bangsa.

Semua jamaah haji pasti bercita-cita meraih prediket haji mabrur yang balasannya tidak lain adalah surga (HR Muslim). Para tamu Allah (Dhuyuf ar-Rahman) datang dari segala penjuru dunia ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan ketaatan dan kebaikan (talbiyah), menapaktilasi jalan kenabian (Adam, Ibrahim, Ismail, dan Muhammad SAW) dengan penuh keikhlasan dan kekhusyukan, demi menggapai takwa sejati dan rida Ilahi.

Sebelum, selama, dan setelah menunaikan prosesi manasik haji, para hujjaj tentu diharapkan memiliki komitmen moral dan kesadaran spiritual untuk fokus pada tujuan perjalanan spiritualnya (spiritual journey). Berhaji tidaklah sekadar menunaikan rukun Islam kelima sesuai dengan syarat dan rukunnya secara legal formal (fikih), tetapi merupakan proses pendidikan dan pembentukan kepribadian mulia, terutama pascahaji.  Dengan kata lain, ibadah haji harus membuahkan transformasi nilai pada diri  “lulusan” Tanah Suci, tidak hanya berupa kesalehan personal, tetapi juga kesalehan sosial dan kesalehan transformatif.

Menapaktilasi Jalan Kenabian

Tidak ada ibadah yang paling sarat dengan dimensi dan pelajaran sejarah selain ibadah haji. Melalui manasik haji, Islam mengajak jamaah haji untuk melakukan refleksi historis, belajar melintasi dan merenungi peristiwa masa lalu, dengan mengenal sejarah Ka’bah, Masjidil Haram, sumur Zamzam, maqam Ibrahim, mas’a (tempat pelaksanaan sa’i antara bukit Shafa dan Marwa), padang Arafah, Jabal Rahmah, Muzdalifah, Mina, masjid Tan’im, masjid Ji’ranah, dan sebagainya.

Selain itu, pendidikan sejarah yang diintegrasikan dalam ibadah haji juga berkaitan erat dengan sejarah sosial kemanusiaan, yaitu sejarah  pahlawan  kemanusiaan yang terlibat langsung dalam ibadah haji:  Nabi Adam As dan istrinya (Hawa’), Nabi Ibrahim, Hajar (istrinya), Nabi Ismail (anaknya), Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, dan sejarah bangsa Quraisy dan Arab pada umumnya.

Salah satu pelajaran sejarah yang diisyarakatkan oleh Alquran adalah ”Sesungguhnya rumah pertama yang dibangun (untuk tempat beribadah) ialah Baitullah yang ada di Bakkah (Mekkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Di dalam Ka’bah itu terdapat tanda-tanda yang nyata (di antaranya) maqam (tempat Nabi) Ibrahim membangun Kakbah; barang siapa memasukinya, ia aman (QS Ali Imran [3]:95-96)

Mengapa eksplorasi dan aktualisasi nilai-nilai historis dari ibadah haji sangat penting, tidak hanya bagi jamaah haji khususnya, tetapi juga bagi umat  Islam pada umumnya? Karena, menurut Abdurrazaq bin Abdul Muhsin al-Badr dalam bukunya, Maqashid al-Hajj,  ada 15 poin penting tujuan ibadah haji. Dari 15 poin itu, tujuan paling utamanya adalah aktualisasi tauhid (tahqiq at-tauhid), dalam arti meneguhkan keyakinan terhadap keesaan Allah SWT, sekaligus merajut dan mengokohkan tauhid (kesatuan dan persatuan) kemanusiaan, meskipun berbeda suku bangsa, latar belakang sosial ekonomi, sosial budaya dan bahasa.

Melalui haji dengan menapaktilasi jalan kenabian, semua manusia disadarkan pentingnya bertauhid ketuhanan (hanya beribadah dan memohon pertolongan kepada Allah, QS al-Fatihah [1]: 5) dan bertauhid kemanusiaan, karena semua umat manusia memiliki “fitrah universal” yang sama: bertauhid dan bersatu di bawah edukasi dan supervisi para Nabi dan Rasul yang pernah diutus oleh Allah kepada mereka pada zamannya masing-masing. Dengan kata lain, nilai-nilai pendidikan sejarah yang  terintegrasi dalam manasik haji merupakan strategi efektif untuk menumbuhkan kesadaran ketauhidan dan kemanusiaan universal dengan kesediaan menapaktilasi jalan kenabian, bukan jalan kemaksiatan, kemungkaran, dan kehinaan seperti yang pernah dilakukan oleh para musuh Allah, seperti: kaum Nabi Luth, Namrud, Fir’aun, Haman, Karun, Bal’am, Kaum ‘Ad, kaum Tsamud, Abu Jahal, Abu Lahab, dan sebagainya.

Aktualisasi Kesalehan Transformatif

Melalui kesadaran historis yang ditanamkan dalam ritualitas manasik haji, sesungguhnya Allah menghendaki umat manusia memiliki tujuan dan orientasi hidup yang jelas. Berbasis   tauhid  ilmi (tauhid keilmuan bahwa Allah itu Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya) dan tauhid amali (tauhid sikap dan perilaku yang dimanifestasikan dalam beribadah, bermuamalah, dan berakhlak mulia), para jamaah haji tidak hanya menapaktilasi jalan kenabian, tetapi juga berniat dengan ikhlas dan berkomitmen kuat untuk melakukan aktualisasi kesalehan transformatif.

Kesalehan transformatif itu dimulai dari niat yang ikhlas karena mengharap rida Allah. Karena satu-satunya ibadah yang perintahnya dimulai dan diakhiri dengan lillahi adalah haji (QS al-Baqarah [2]: 196 dan Ali Imran [3]: 97). Ibadah haji idealnya membuahkan kesalehan transformatif, sehingga kemabrurannya terjaga pascahaji.  Karena itu,  ibadah haji harus dilakukan dengan superikhlas, lillahi Ta’ala, bukan sekadar lelah. Keikhlasan membelanjakan harta, meninggalkan keluarga, dan menyempurnakan semua manasik haji dengan penuh ketaatan dan kekhusyukan merupakan kunci kemabruran haji dan kesalehan transformatif.

Keikhlasan berhaji itu dimulai dengan menanggalkan segala macam pakaian dan atribut keduniaan dengan mengenakan dua helai pakaian ihram takberjahit. Pakaian ihram yang serba putih bersih itu melambangkan ketulusan hati dan kejernihan pikiran untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan kesediaan bertalbiyah, meresponi panggilan ketaatan kepada Allah. Berpakaian ihram dan bertalbiyah dapat ditransformasikan dalam kehidupan sosial dalam bentuk autentisitas kepribadian (jujur dan benar dalam perkataan dan tindakan, tanpa pencitraan),  kerendahatian, kesetaraan, dan penegakan keadilan.

Tawaf (mengelilingi Ka’bah) merupakan simbolisasi dinamika keteraturan dan kedisiplinan dalam menjalani kehidupan yang berporos tauhid. Kesalehan transformatif yang harus diaktualisasikan dari tawaf adalah reorientasi dan dinamisasi tujuan hidup yang senantiasa dikoneksikan dan disandarkan kepada Allah yang Maha Segala-galanya. Dalam buku Min Madrasat al-Hajj dijelaskan bahwa tawaf mendidik hamba keluar dari zona nyaman (comfort zone) menuju zona tauhid yang penuh dengan dinamika dalam ketundukan, keteraturan, dan kedisiplinan dalam rangka meraih hidup mulia dan bahagia bersama Allah dan Rasul-Nya.

Sa’i adalah simbol perjuangan dan pengorbanan berbasis cinta suci dan kasih sayang dari seorang ibu (Hajar) dalam mencari “air kehidupan” bagi anaknya yang sedang kehausan dan kelaparan.  Sa’i (usaha, bekerja, berkarya) harus dimulai dari shafa (ketulusan dan kejernihan hati) dengan mengerahkan segala daya upaya (lari dari Shafa ke Marwa berulang kali). Sa’i mengajarkan kesalehan dalam mengoptimalkan etos kerja dan prestasi kinerja hingga mencapai level marwa (kepuasan hati, prestasi tinggi). Air zamzam yang memancar di dekat kaki bayi Ismail itu merupakan bentuk apresiasi Allah atas  usaha optimal tanpa mengenal lelah sekaligus memberikan  marwa sepanjang masa dari seorang ibu yang menaruh harapan masa depan mulia bagi anaknya. Bahkan marwa berupa air zamzam  merupakan satu-satunya mata air terbaik dan abadi yang dapat dinikmati oleh semua jamaah haji dan umrah. Etos sa’i mendidik umat untuk berkarya hebat, berprestasi tinggi dan dikenang sepanjang masa.

Wukuf di Arafah sarat dengan sejarah “cinta yang bersemi kembali” antara Adam AS dan Hawa, setelah lama berpisah dan bertemu kembali di “bukit kasih sayang” (Jabal Rahmah). Wukuf di Arafah merupakan puncak ibadah haji. Para tamu Allah itu diajak berdiam sejenak, melakukan refleksi, bermenung, dan bermuhasabah dengan memperbanyak dzikir, doa, istighfar dan ibadah lainnya, untuk mengenali, menyadari, dan mengadili diri sendiri sebelum diadili oleh Allah yang Maha Adil di padang Makhsyar kelak. Pengadilan diri sendiri ini sangat penting sebagai proses menuju takwa sejati, yaitu: takut kepada Tuhan, bukan takut kepada atasan; takut mendapatkan siksa dan tidak masuk surga, bukan takut tidak meraih kekuasaan dan kenikmatan dunia, yang tidak jarang dilakukan dengan menghalalkan segala cara.

Mabit (bermalam) di Muzdalifah dan Mina mengedukasi pentingnya perjuangan dan pengorbanan demi meraih cinta sejati dari Allah SWT, di samping membuktikan cinta kemanusiaan. Kesalehan transformatif dari ritual mabit dan melempar jamrah di Mina merupakan aktualisasi keteladanan, totalitas kepasarahan dan cinta Ibrahim AS kepada Allah SWT yang dimanifestasikan dalam bentuk kesediaan “mengorbankan” putra terkasihnya. Kecintaannya kepada Allah mengalahkan dan mengatasi segala bentuk godaan duniawi, sehingga beliau tetap “mempersembahkan” kurban yang paling dicintainya, yaitu anak kandungnya sendiri. Mina merupakan representasi “drama kehidupan” yang mengajarkan bahwa cinta suci dan murni semata-mata karena Allah itu merupakan kunci sukses perjuangan meraih masa depan. Karena itu, cinta dunia (harta, tahta, dan wanita) hanya akan menghinakan dan memperbudak manusia.

Walhasil, ibadah haji itu harus dijalani dengan spirit keikhlasan, ketaatan, kekhusyukan, kedisiplinan, etos perjuangan dan pengorbanan sepenuh hati agar membuahkan kesalehan sosial tranformatif yang mempribadi dan mempengaruhi peningkatan kualitas hidup para hujjaj sepulang dari Tanah Suci. Di antara indikator kesalehan transformatif pascahaji yang dijelaskan oleh Nabi SAW adalah mau berbagi dalam pengentasan kemiskinan (ith’am at-tha’am) dan menjaga tutur kata yang baik (thib al-kalam) sehingga umat dan bangsa menjadi lebih berkeadaban dan berperadaban maju, adil, makmur, dan sejahtera di dunia dan akhirat. Selamat menjadi tamu Allah, semoga meraih haji mabrur!

Dr Muhbib Abd Wahab MA, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Koran Republika, Senin, 18 Juli 2019. (lrf/mf)

Share This