Hadir dari Berbagai Sekolah dan Madrasah se-Indonesia, 260 Pelajar Ikut Grand Final Olimpiade PAI Syarif Hidayatullah 2026

Hadir dari Berbagai Sekolah dan Madrasah se-Indonesia, 260 Pelajar Ikut Grand Final Olimpiade PAI Syarif Hidayatullah 2026

Jakarta, Berita UIN Online--- Sebanyak 260 pelajar terbaik dari berbagai madrasah, sekolah, dan pesantren di Indonesia mengikuti Grand Final Olimpiade PAI Syarif Hidayatullah (OPSH) 2026 yang digelar Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Wisma Syahida, Rabu (28/10/2026). Para finalis merupakan peserta terpilih dari lebih dari 2.000 pelajar yang mengikuti tahapan seleksi sebelumnya.

Para peserta datang dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Banten, Kepulauan Riau, Jambi, Bengkulu, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatera Utara, dan Riau. Keberagaman asal peserta tersebut menegaskan jangkauan nasional Olimpiade PAI Syarif Hidayatullah sekaligus menjadi ruang silaturahmi akademik yang mempertemukan generasi muda berprestasi dari berbagai latar sekolah, madrasah, dan pesantren dalam semangat “Cerdas dalam Ilmu, Luhur dalam Akhlak.”

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi PAI FITK UIN Jakarta bekerja sama dengan Lembaga Bina Prestasi Nusantara itu dihadiri lebih dari 500 peserta dan tamu undangan, terdiri atas pimpinan sekolah dan madrasah, guru pendamping, mahasiswa, serta orang tua peserta. Kehadiran para pemangku kepentingan pendidikan tersebut mencerminkan tingginya dukungan terhadap pengembangan prestasi pelajar sekaligus penguatan pendidikan agama Islam di Indonesia.

Ketua Program Studi PAI FITK UIN Jakarta, Prof. Dr. Suwendi, M.Ag., menegaskan bahwa olimpiade bukan sekadar ajang untuk meraih kemenangan, tetapi juga sarana membangun kepercayaan diri, mengukur kemampuan, dan menumbuhkan budaya berprestasi di kalangan pelajar.

“Melalui olimpiade ini, kita ingin meningkatkan kepercayaan diri anak-anak kita, sekaligus memberikan ruang bagi mereka untuk mengukur kemampuan dan mengukir prestasi yang lebih baik. Kita berharap mereka terus berkembang, berani berkompetisi, dan memiliki motivasi untuk meraih capaian yang lebih tinggi,” ujar Suwendi.

Menurutnya, penyelenggaraan olimpiade merupakan bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan pendidikan Islam sekaligus mempererat hubungan antara kampus dengan sekolah dan madrasah sebagai mitra strategis dalam menyiapkan generasi masa depan.

Suwendi menjelaskan bahwa tema “Cerdas dalam Ilmu, Luhur dalam Akhlak” dipilih sebagai penegasan bahwa pendidikan agama Islam harus mengintegrasikan kecerdasan intelektual dan pembentukan karakter secara seimbang.

“Cerdas dalam ilmu dan luhur dalam akhlak merupakan dua hal yang tidak semestinya dipisahkan. Kita ingin melahirkan generasi yang memiliki kualitas intelektual yang tinggi, sekaligus menunjukkan perilaku yang santun, berkarakter, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral,” tegasnya.

Ia menilai tantangan zaman saat ini menuntut lahirnya generasi yang tidak hanya unggul dalam prestasi akademik, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab sosial, serta kemampuan menghadirkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan bermasyarakat.

Lebih lanjut, Suwendi mengingatkan bahwa Prodi PAI FITK UIN Jakarta memiliki akar sejarah yang panjang dalam perkembangan pendidikan tinggi Islam di Indonesia. Program studi ini tumbuh dari tradisi Akademi Dinas Ilmu Agama (ADIA), kemudian berkembang menjadi IAIN dan selanjutnya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

“Sebagai salah satu program studi tertua dan terbesar di lingkungan UIN Jakarta, PAI memiliki tanggung jawab untuk terus berkontribusi dalam pengembangan pendidikan Islam, termasuk menyiapkan generasi penerus yang berdaya saing, berintegritas, dan memiliki kepedulian terhadap masyarakat,” ujarnya.

Menurut Suwendi, kontribusi Prodi PAI juga tercermin dari kiprah sejumlah alumninya yang berperan dalam berbagai bidang kehidupan. Di antaranya almarhum Prof. Dr. Azyumardi Azra, cendekiawan Muslim terkemuka Indonesia, Mamah Dedeh yang dikenal luas sebagai pendakwah nasional, serta almarhum Suryadharma Ali yang pernah menjabat Menteri Agama Republik Indonesia.

“Jejak para alumni tersebut menunjukkan bahwa pendidikan agama Islam memiliki kontribusi besar dalam pembangunan bangsa. Kami berharap dari olimpiade ini akan lahir generasi-generasi baru yang meneruskan tradisi keilmuan, pengabdian, dan kepemimpinan tersebut,” katanya.

Pada babak grand final, para peserta mengikuti kompetisi secara luring dengan mengedepankan integritas, sportivitas, dan kemampuan akademik di bidang Pendidikan Agama Islam. Kompetisi juga memanfaatkan platform pendidikan berbasis digital yang mendukung pengembangan pembelajaran dan kompetensi peserta secara lebih luas.

Untuk kategori kelas XI–XII, juara pertama diraih Alif Azzani Asyauqi dari MAN 3 Kediri, juara kedua Bintang Nur Rohman dari SMA Modern Riyadhul Jannah Subang, dan juara ketiga Carissa Fatimah Sausan dari SMA IT Ihsanul Fikri Mungkid Magelang. Sementara juara harapan pertama diraih Putra Nurul Hidayah dari SMA Negeri Cahaya Madani Banten Boarding School dan juara harapan kedua Radithya Nandika Pratama dari MAN Insan Cendekia Batam.

Pada kategori kelas X, juara pertama diraih Yuandra Wahyu Pratama dari SMA IT Diniyyah Al Azhar Jambi, juara kedua Muhammad Zahi Arfandhiya dari MA As-Syifa Sagalaherang, dan juara ketiga Sumail dari Ma'had Imam As-Syafi'i Al-Atsary. Adapun juara harapan pertama diraih Alfian Hilmy dari SMA IT Diniyyah Al Azhar Jambi dan juara harapan kedua Siti Aminah dari SMA IT Rabbani Bengkulu.

Melalui penyelenggaraan Olimpiade PAI Syarif Hidayatullah 2026, Prodi PAI FITK UIN Jakarta berharap lahir semakin banyak generasi muda yang memiliki semangat belajar, keberanian berkompetisi, daya saing global, serta karakter yang kuat. Ajang ini juga menjadi ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah, madrasah, dan pesantren untuk memperkuat ekosistem pendidikan Islam yang berkualitas.

“Prestasi adalah sesuatu yang penting, tetapi akhlak adalah fondasinya. Karena itu, kita ingin melahirkan generasi yang unggul dalam ilmu sekaligus menjadi teladan dalam perilaku dan pengabdian kepada masyarakat,” pungkas Suwendi.

Melalui semangat “Cerdas dalam Ilmu, Luhur dalam Akhlak”, Olimpiade PAI Syarif Hidayatullah diharapkan menjadi agenda berkelanjutan yang memperkuat tradisi prestasi sekaligus meneguhkan pentingnya pembentukan karakter dalam pendidikan. Dari ajang ini diharapkan lahir generasi muda Muslim yang unggul dalam keilmuan, kokoh dalam integritas, serta siap memberikan kontribusi terbaik bagi agama, bangsa, dan kemanusiaan. (Rilis FITK/Zm)