Guru teladan (al-mu’allim al-qudwah), baik guru kecil” maupun “guru besar” (Profesor), adalah sosok pendidik atau guru yang dapat digugu dan ditiru oleh peserta didiknya.

Kehadiran guru dalam proses pembelajaran di kelas atau di lembaga pendidikan dapat berperan sebagai role model (uswah hasanah) bagi mereka. Namun, fakta menunjukkan bahwa tidak sedikit guru yang kehadirannya kurang diharapkan mereka, dinilai membosankan, dan membuat mereka tidak gembira.

Apabila ketidakhadiran lebih disukai daripada kehadirannya, maka guru yang bersangkutan harus segara berintrospeksi diri. Mengapa mereka lebih senang dan bahagia, ketika guru tidak hadir untuk mendidik dan mengajar merka? Mengapa guru “gagal dirindukan kehadirannya” oleh mereka?

Fakta ini menunjukkan bahwa profesionalitas, kepribadian, dan pedagogik guru bermasalah. Guru di mata mereka bukan menjadi solusi, tetapi menjadi bagian masalah (trouble maker). Guru belum sukses mengelola kelas pembelajaran, gagal menjadi idola, dan pada gilirannya kehadirannya tidak diapresiasi.

Mengapa sebagian guru kurang dirindukan kehadirannya oleh mereka? Apa yang membuat guru“gagal dirindukan” oleh mereka? Bagaimana mendesainkan (mempersiapkan) guru inspiratif teladan, seperti sang mahaguru sepanjang masa, Nabi Muhammad Saw?

Tulisan ini didasari telaah kritis terhadap sejarah para Nabi dengan tesis bahwa semua

Nabi dan Rasul, terutama Nabi Muhammad Saw adalah guru paling sukses, paling inspiratif, paling inovatif sekaligus pemimpin paling berpengaruh dalam membangun peradaban dunia; sehingga kita sebagai umatnya perlu menjadikannya sebagai role model, figur teladan, sumber inspirasi dan nilai dalam mendesain dan menyiapkan diri  sebagai guru hebat, inspiratif, dan sukses dalam mengantarkan peserta didiknya menjadi lebih sukses.

Inspirasi dari Madrasah al-Anbiya’

Sejarah para Nabi adalah sejarah keguruan, sejarah keilmuan, dan sejarah kemanusiaan. Oleh karena itu, lebih dari sepertiga ayat-ayat Alquran itu berisi kisah para Nabi dan umat terdahulu, agar generasi masa kini dapat memetik inspirasi dan pesan moral dari mereka. Inspirasi dari Madrasah al-Anbiya’ penting diaktualisasikan untuk berbagai kemaslahatan umat manusia, termasuk untuk pengembangan profesi keguruan.

Nabi Ibrahim AS dan anaknya telah memberi teladan inspiratif bagi umat manusia dalam mendidik pentingnya kepatuhan dan keikhlasan dalam berkurban karena mengharap ridha Allah semata.

Kedua Nabi ini juga menjadi sumber motivasi paling kuat dalam berjuang menghadapi segala ujian dan cobaan kehidupan. Tidak ada seorang Nabi pun yang diuji Allah untuk menyembelih anak kandungnya sendiri selain Ibrahim AS? Bukan hanya ujian iman berupa kualitas keyakinan, kepatuhan, dan keikhlasan, tetapi juga ujian cinta ketuhanan dan cinta kemanusiaan.

Ibrahim AS sukses membuktikan cintanya sepenuh hati untuk meyakini dan menaati perintah Allah, dengan mengorbankan ”buah hati” yang paling dicintainya, sehingga ketaatan dan ketulusannya dalam berkurban itu membuahkan cinta kemanusiaan sejati. Ismail AS ”disayangi” dan diselamatkan oleh Penciptanya, lalu diganti dengan hewan sembelihan (hewan kurban). Nilai edukatif-profetik yang dapat dipetik adalah bahwa manusia itu tidak layak dan tidak sepantasnya dijadikan kurban, atas nama apapun, termasuk untuk ”tumbal” pembangunan atau ”umpan” yang menyenangkan Dewa atau Tuhan.

Selain itu, Ibrahim As juga guru ketuhanan (akidah tauhid) sekaligus guru pemikiran logis dan inovatif. Dengan model berpikir kritis, deduktif, dan induktif, Ibrahim As menawarkan perspektif baru dalam bertuhan dengan pengamatan empiris. Pada awalnya ia mengritik ayahnya Azar, “Pantaskah engkau menjadikan berhala-berhala itu sebagai tuhan? Sesungguhnya aku melihat engkau dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.” (QS al-An’am [6]: 74).

Kritik teologis Ibrahim As ini menunjukkan bahwa guru harus peka terhadap “penyimpangan dan kesalahan” mendasar yang terjadi pada masyarakat atau peserta  didiknya. Tentu saja kritik teologis itu perlu dibarengi dengan argumentasi yang logis, rasional, dan empirik. Dengan kata lain, guru inspiratif teladan harus bisa menyelesaikan dan meluruskan persoalan keyakinan peserta didik dan masyarakatnya yang menyimpang dari ajaran Islam.

Oleh karena itu, setelah diperlihatkan tanda-tanda kebesaran Allah di alam raya ini, Ibrahim As lalu melakukan pemikiran reflektif. Ketika malam telah menjadi gelap, Ibrahim melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Lalu ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” (QS. al-An’am [6]: 76). Kemudian ketika dia melihat bulan terbit dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Tetapi ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.” Kemudian ketika dia melihat matahari terbit, dia berkata, “Inilah Tuhanku, ini lebih besar.” Tetapi ketika matahari terbenam, dia berkata, “Wahai kaumku! Sungguh, aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.” Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. al-An’am [6]: 77-79)

Guru inspiratif inovatif bervisi profetik idealnya mampu membuka cakrawala dan pandangan dunia yang luas, menantang, menginspirasi, dan penuh argumentasi melalui pemikiran reflektif dan pengamatan empirik. Jika logika berpikir Ibrahim yang kritis reflektif-inovatif itu disederhanakan, niscaya dapat dirumuskan dengan proposisi berikut. “Bintang, bulan, dan matahari itu sejatinya bukan tuhan, meskipun tidak sedikit yang menuhankannya (kritik teologis terhadap masyarakat). Semua benda langit (planet) itu muncul (tampak) dan sirna dari pandangan. Semua planet itu tidak sepatutnya dituhankan, karena terbit dan terbenam. Dengan demikian, Tuhan yang hakiki adalah pencipta semua planet itu, karena Sang Penciptanya pasti Mahabesar dari semua planet yang ada.” Pola berpikir reflektif bagi guru ternyata tidak cukup.

Oleh sebab itu, guru juga harus berpikir liberatif (bervisi pembebasan), membebaskan peserta didik dari segala bentuk kemusyrikan (syirik teologis, syirik politik, syirik ekonomi, syirik demokrasi, syirik budaya, dan sebagainya). Berpikir liberatif Ibrahim As dibarengi dengan deklarasi bahwa dirinya terbebas dari segala bentuk kemusyrikan dengan mengorientasikan hidupnya kepada Tuhan hakiki, Sang Pencipta langit dan bumi. Jadi, guru inspiratif bervisi profetik dapat membiasakan peserta didiknya untuk berpikir kritis, reflektif, dan liberatif sesuai dengan konteks kekinian.

Dari Nabi Musa AS kita belajar menjadi guru inspiratif yang tekun, ulet, dan bersabar dalam menjalani proses pembelajaran. Kurikulum dan ilmu yang diajarkan gurunya, Hidhir, bukan sembarang ilmu, tetapi ilmu dan kurikulum kehidupan. Guru inspiratif bervisi profetik seperti Hidhir, sesekali, mengajak peserta didiknya berada di luar sekat-sekat kelas kehidupan; belajar dalam suasana outdoor dan outbound di pantai, di jalanan, alam terbuka, atau di perkampungan.

Pembelajaran integratif dengan alam kehidupan yang luas dan sarat nilai menjadi esensi dari visi profetik dan inovatif sang guru (Hidhir). Meskipun berlangsung dalam suasana outdoor, alam terbuka, Hidhir mengawali proses pembelajarannya dengan meminta muridnya, Musa, untuk menyepakati “kontrak belajar”, yaitu belajar itu harus sabar. Jika peserta didik yang belajar harus sabar, apalagi guru yang membelajarkannya?

Berkarakter sabar memang merupakan syarat penentu kesuksesan proses pembelajaran dan proses kehidupan lainnya. Oleh karena itu, kontrak bersikap sabar dalam belajar yang diberlakukan Hidhir kepada Musa AS mengandung pesan bahwa belajar dan mengajar itu harus dimulai dari komitmen bersama untuk meraih suatu prestasi. Betapapun ilmu yang diberikan oleh Hidhir kepada Musa itu bukan ”sembarang ilmu”, tetapi ”ilmu supranatural” atau ”suprarasional”, dan sang Murid (Musa) akhirnya harus ”dipecat” oleh gurunya karena tidak menaati kontrak belajarnya, sang guru tetap menyayangi muridnya dengan menginformasikan ilmu-ilmu yang membuat sang peserta didik tidak bisa bersabar dalam belajar dengan sang guru yang sering tampil ”aneh” atau tidak biasa, out of box.

Dengan kata lain, guru inspiratif teladan bervisi profetik harus mampu membiasakan peserta didiknya berpikir out of box (tafkir kharijaas-shunduq) dengan membuat terobosan kreatif dan solutif.

Dalam perspektif futurologi (‘ilm al-mustaqbal), sosok guru seperti Hidhir ini menginspirasi muridnya untuk tidak hanya terpaku pada ”fenomena yang kasat mata”, tetapi harus visioner dalam menatap masa depan dan melihat sesuatu dari perspektif hikmah di balik yang kasat mata. Sebagai contoh, tindakan Hidhir melobangi perahu yang kemudian diprotes Musa harus dimaknai secara eksoterik (lahirnya) semata, tetapi harus dilihat dari perspektif masa depan dan dalam konteks sosial yang lebih luas.

Setelah dijelaskan sang guru, Musa akhirnya menyadari bahwa perahu yang ditenggelamkan sang guru dengan dilobangi itu adalah milik fakir miskin. Jika tidak ditenggelamkan, perahu itu akan dirampas oleh penguasa yang zhalim. Jika dirampas, berarti pemilik perahu tidak bisa melaut untuk mencari ikan (rejeki). Masa depannya bisa menjadi suram. Padahal dengan ditenggelamkan, perahunya selamat dari kezhaliman politik penguasa; dan pemilik itu cukup dengan menambalnya dan bisa melaut seperti biasa.

Dalam konteks ini, sang guru mengajarkan kepada manajemen risiko, dengan prinsip: ”idza ijdahamat al-mafsadatani urtukiba aysaruhuma li daf’i asyarrihima atau wa urtukiba al-akhaffu min zhararaini” (Apabila ada dua risiko saling mangancam, maka salah satu dari dua risiko itu diambil untuk menolak/menghindarkan diri dari risiko paling buruk atau dipilih risiko yang paling ringan). Jadi, guru visioner seperti Hidhir mengajarkan kita untuk bijak dalam mengambil keputusan dengan mendasarkan diri pada manajemen risiko.

Bervisi Profetik dalam Membangun Peradaban

Selain itu, guru masa kini harus bervisi profetik dengan mengambil inspirasi dan teladan dari Sang Pendidik paling sukses, Nabi Muhammad Saw. Semua perjalanan hidupnya (sirah) sebagai Nabi Saw sungguh sarat dengan nilai-nilai keguruan yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam membentuk guru inspiratif bervisi profetik inovatif. Kata kunci menjadi guru inspiratif bervisi profetik inovatif Nabi Saw itu adalah mendidik dengan hati (cinta, kasih sayang) dan nalar cerdas. Karir profetik keguruan Nabi SAW dimulai dengan mereformasi akidah tauhid dan memperbaiki akhlak Jahiliyah yang rusak. Akidah tauhid dan akhlak mulia merupakan fondasi profesi keguruan yang mutlak dimiliki guru. Artinya, guru inspiratif harus lurus dan benar akidahnya sekaligus baik budi dan akhlaknya.

Oleh sebab itu, program penyiapan guru inspiratif itu harus dimulai dengan peneguhan akidah tauhid yang benar dan lurus sekaligus penyempurnaan akhlak baik dan mulia. Akidah tauhid yang benar dan lurus membentuk orientasi hidup guru yang benar dan lurus, tulus ikhlas, dan penuh dedikasi. Sedangkan akhlak yang baik dan mulia membuat guru dalam mengemban dan mengembangkan profesi keguruannya selalu mengedepankan kejujuran (shidq), berintegritas, tekun, dan terpercaya(amanah), terbuka dan komunikatif (tabligh), dan berpikir cerdas dan kreatif (fathanah). Fondasi profesi keguruan inilah yang menjadi spirit pengabdian guru sebagai panggilan jiwa. Ketika mengemban tugas profetik keguruan di Mekkah, Nabi Saw sangat tekun membelajarkan akidah tauhid yang benar dan lurus dibarengi dengan keteladanan akhlak yang baik dan mulia.

Beberapa sahabat senior yang masuk Islam, seperti Abu Bakar, Ali ibn Abi Thalib, Utsman ibn Affan, Abdurrahman ibn ‘Auf, Umar ibn al-Khaththab, Mush’ab ibn Umair, dan sebagainya, antara lain, karena keluhuran dan kemuliaan akhlak Nabi Saw.

Ketika hijrah dan hidup di Madinah, Nabi Saw mengembangkan profesi keguruan berbasis penegakan keadilan hukum, keadilan sosial, dan keadilan ekonomi dengan visi pembangunan peradaban Islam yang mencerahkan (al-Madinah al- Munawwarah). Kata kuncinya adalah bahwa esensi tugas profesi guru adalah pembangun dan pengembang peradaban. Tugas profetik guru yang diteladankan Nabi Saw itu bersendikan tiga pilar utama pembangunan peradaban Islam, yaitu: masjid, persaudaraan dan persamaan, toleransi dan kolaborasi dalam spirit hidup kebhinekaan (mitsaq al-Madinah). Masjid merupakan simbol kesucian, spiritualitas, dan persatuan umat. Persaudaraan dan persamaan merupakan energi penggerak kemajuan dan penegak keadilan. Sedangkan toleransi dan kolaborasi lintas suku, bangsa, agama, dan budaya menjadi spirit kebersamaan, titik temu pontensi komunitas (kalimatun sawa’) menuju kemasalahatan bersama.

Para pakar pendidikan, antara lain Abdurrahman an-Nahlawi dan Abdullah Nasih Ulwan, menegaskan bahwa keteladanan yang baik (uswah hasanah) dalam berbagai aspek performansi guru –kognitif, afektif, psikomotorik, spiritualitas dan moralitas—merupakan kata kunci kesuksesan bagaimana mengembangkan profesionalitas guru, sehingga ia menjadi guru hebat (great teacher) yang inspiratif, dan sedapat mungkin guru memiliki visi profetik inspiratif dan inovatif: mampu merubah, memperbaiki,  mereformasi, meningkatkan kualitas hidup peserta didik sekaligus membebaskan mereka dari segala ”penjara kehidupan”: kemusyrikan, kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, kemunduran, keterjajahan, dan ketidakberdayaan.

Guru inspiratif inovatif bervisi profetik merupakan sosok dambaan yang perlu diaktualisasikan oleh para guru di era milenial ini agar sistem dan proses pendidikan di negeri tercinta lebih sukses dan berkemajuan. Selamat hari guru nasional dan selamat menjadi guru teladan inspiratif dan inovatif bagi umat dan bangsa. Wallahu a’lam bi ashshawab!

Dr Muhbib Abdul Wahab MAg, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sumber: Majalah Tabligh, Robi’ul Akhir 1441H/15 Desember-15 Januari 2020 M. (lrf/mf)

Share This