Guru Besar UIN Jakarta Soroti Keseimbangan Kurikulum, Pemanfaatan AI, dan Pemerataan Akses Pendidikan di Daerah 3T
Jakarta, Berita UIN Online - Guru Besar Bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Muhammad Zuhdi, M.Ed., Ph.D., menegaskan pentingnya merancang sistem pendidikan yang mampu menjaga keseimbangan antara kurikulum inti dan kurikulum yang adaptif terhadap perkembangan zaman. Menurutnya, pendidikan harus memiliki fondasi ilmu yang bersifat tetap sekaligus terbuka terhadap perubahan. Hal ini disampaikannya dalam program Berangkat dari Pesantren, Senin (06/04/2026).
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi pesantren, ilmu-ilmu dasar seperti nahwu, sharaf, dan mantiq selalu diajarkan sebagai landasan utama. Konsep serupa juga terdapat dalam pendidikan Barat melalui kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung. Ia menambahkan bahwa pengetahuan dasar tersebut perlu dimiliki oleh setiap orang, terlepas dari profesi yang dijalani. Ia juga menekankan bahwa meskipun substansi ilmu tidak berubah, metode pembelajaran harus terus berkembang mengikuti zaman.
“Saya kira mestinya memang ada desain mata pelajaran atau kompetensi yang sifatnya tetap, yang harus dikuasai semua orang. Tapi di sisi lain, cara mengajarnya juga harus mengikuti perkembangan zaman, dan yang paling penting mindset guru juga harus berubah, karena kalau tidak perubahan itu tidak akan terasa,” ujarnya.
Namun, ia menyoroti bahwa perubahan kurikulum di Indonesia sering kali tidak memberikan dampak yang signifikan. Hal ini terjadi karena pembaruan kebijakan tidak diiringi dengan perubahan pola pikir guru sebagai pelaksana utama pembelajaran di kelas. Di sisi lain, ia juga menekankan bahwa luasnya wilayah Indonesia menjadi tantangan dalam implementasi kebijakan pendidikan, karena proses distribusi dari pusat hingga ke daerah terpencil memerlukan waktu yang lama.
“Perubahan kurikulum harus diiringi dengan perubahan pola pikir guru, karena jika mindset gurunya masih sama perubahan itu tidak akan terasa pada peserta didik. Ditambah lagi, dengan kondisi wilayah Indonesia yang luas sehingga implementasi kebijakan dari pusat ke daerah terpencil masih sulit dan membutuhkan waktu yang panjang. Sehingga ketidakmerataan kurikulum pembelajaran di Indonesia semakin terasa,” jelasnya.
Dalam menghadapi perkembangan teknologi, Prof. Zuhdi menilai bahwa kehadiran Artificial Intelligence (AI) merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari dalam dunia pendidikan. Ia menekankan bahwa teknologi tersebut seharusnya dimanfaatkan secara bijak untuk mendukung dan meningkatkan kemampuan manusia bukan menggantikannya. Menurutnya, manusia tetap memiliki keunggulan yang tidak dimiliki AI, terutama dalam hal pengalaman spiritual, kedalaman batin, serta kemampuan membangun relasi sosial, sehingga menurutnya peran manusia tetap tidak tergantikan meskipun teknologi terus berkembang.
“AI itu harus digunakan untuk mempermudah kehidupan manusia, meningkatkan lagi daya pikir dan daya eksploratif manusia. Tapi tetap, manusia harus berpikir lebih dari AI, karena ada hal-hal seperti pengalaman spiritual dan relasi sosial yang tidak bisa digantikan oleh teknologi secanggih apapun itu,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya keadilan sosial dalam pendidikan, terutama dalam mengatasi kesenjangan akses di berbagai daerah. Ia menegaskan bahwa negara memiliki tanggung jawab untuk memastikan seluruh anak di Indonesia memperoleh kesempatan pendidikan yang sama, di mana pun mereka berada.
Menurutnya, pemerataan akses pendidikan menjadi langkah awal yang harus diprioritaskan agar peningkatan kualitas pendidikan dapat terealisasi dengan baik. Ia menilai bahwa perubahan pendidikan tidak cukup hanya melalui kebijakan, tetapi juga harus menyentuh aspek yang lebih mendasar seperti perubahan pola pikir guru, pemanfaatan teknologi secara bijak, serta komitmen terhadap pemerataan akses pendidikan di seluruh wilayah Indonesia.
(Hilya Hafiza S./Fauziah M./Zaenal M./Tiara Septiana D.)
