Tantan Hermansah

Setelah bonus demografi dikumandangkan, kemudian memunculkan istilah generasi Z dan A (alfa), kini muncul lagi istilah baru yang cukup menarik didiskusikan, terutama dalam konteks masyarakat kota. Istilah baru itu adalah “Generasi Sandwich”.

Berbeda dengan generasi Z dan A yang dibasiskan pada periodisasi kelahiran, Generasi Sandwich didasarkan pada perilaku sosial ekonomi yang melekat kepada mereka. Oleh karena itu, Generasi Sandwich ini sangat menarik dibaca dalam beberapa kerangka kota dan perilaku masyarakatnya.

Generasi Sandwich ini secara sosiologis merupakan kelompok masyarakat yang ada di atas proletar, tetapi juga dia berada di bawah kelas menengah. Sebagai kelompok sosiologis baru, Generasi Sandwich jelas menarik untuk dibaca, terutama dalam konteks bagaimana kelompok ini mendinamisasi entitas di atas dan di bawahnya, terutama dalam ruang yang bernama kota.

Siapakah Generasi Sandwich? Menurut penjelasan Dorothy Miller pada 1981, Generasi Sandwich ini mereka yang memiliki penghasilan cukup baik namun bermasalah dari sistem pengeluaran. Mereka bermasalah bukan karena tidak memiliki literasi keuangan yang baik, namun justru karena masalah sosial, yakni tanggungan.

Generasi Sandwich, sebagaimana gambaran dari adopsi benda tersebut, adalah mereka yang memiliki penghasilan namun terhimpit oleh “kewajiban” untuk menanggung beban kebutuhan dari orang tua dan saudaranya. Sehingga generasi ini kadang akhirnya hanya bisa hidup biasa saja atau begitu-begitu saja.

Mereka yang seharusnya melakukan pekerjaan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya, dengan pola Generasi Sandwich jelas tidak bisa mencapai itu. Karena mereka harus selalu hidup dalam himpitan antara kewajiban memenuhi keinginan dirinya serta keinginan kebutuhan dari mereka yang di luar dirinya.

Lama kelamaan, mereka akhirnya kehilangan visi untuk pengembangan diri maupun hal lain yang justru bisa meningkatkan kapasitas kesejahteraan hidupnya.

Apakah Generasi Sandwich ini memiliki potensi permasalahan untuk kehidupan warga kota? Mari kita lihat faktanya di lapangan.

Dilihat dari struktur penghasilannya, rata-rata Generasi Sandwich memiliki pendapatan di atas UMR. Bahkan, beberapa ada yang sampai pada model pendapatan pekerja kelas menengah.

Dengan penghasilan yang cukup rutin tersebut seharusnya mereka bisa menjadi entitas yang memiliki masa depan cemerlang. Entitas ini tentu saja akan memberikan kontribusi besar pada kehidupan warga kota. Karena sebuah kota yang nyaman dan enak untuk menjadi hunian adalah kota yang warganya juga merasakan kenyamanan dan kebahagiaan.

Maka akan berbeda tersebut jika kemudian warganya justru meski memiliki pendapatan yang cukup namun sudah kehilangan visi hidup karena himpitan sosial seperti yang dialami Generasi Sandwich.

Ada hal lain yang juga menjadi ancaman dalam kehidupan Generasi Sandwich ini. Selain tekanan yang menyebabkan stres, ada juga hal lain yang muncul pada mereka seperti: menjadi generasi yang kurang bahagia, kurang memiliki waktu untuk keluarga inti, kurang bersosialisasi dengan teman dan tetangga, dan bahkan meski tadinya mereka memiliki penghasilan yang besar, tapi akhirnya mereka justru terancam kesulitan finansial.

Dengan beragam potensi masalah ini, apalagi jika semakin besar, maka apa yang terjadi pada Generasi Sandwich bisa menjadi ancaman untuk kemajuan kota. Ada beberapa alasan yang mendukung hipotesis ini.

Pertama, masa depan kota tidak bisa disandarkan pada entitas yang setiap hari mengalami tekanan dan akhirnya menyebabkan mereka stres. Kota yang dihuni oleh orang-orang yang kurang bahagia atau bahkan orang yang stres itu, akan cenderung mengalami stagnasi atau kejumudan, bahkan declining atau penurunan kualitas;

Kedua, kota sebagai sebuah ruang dan juga entitas nilai-nilai kemanusiaan perlu ditopang oleh energi muda yang bebas dari stres dan beragam kesulitan sehari-hari;

Ketiga, kota sebagai suatu ruang kreatif dan dinamis selalu diarahkan untuk perubahan yang agresif dan positif, karena dalam ruang tersebut manusia-manusia hidup dan mengembangkan peradaban.

Sementara Generasi Sandwich telah kehilangan atau cenderung untuk tidak lagi memperhatikan lingkungan tempat mereka hidup dan tumbuh itu. Mereka telah menjadi seperti yang dikatakan oleh Karl Marx (1818-1883), sebagai kelompok masyarakat yang terasing atau terlienasi oleh dunia kerja yang tadinya mereka harapkan sendiri.

Lalu bagaimana kita bisa menumbuhkan harapan pada entitas muda agar tidak menjadi Generasi Sandwich? Beberapa hal berikut mungkin bisa menjadi pertimbangan:

Pertama, harus ada desain bagi kelompok masyarakat yang menuju kelas menengah ini agar mereka bisa memiliki ruang yang cukup untuk merelaksasi diri dan kemudian juga bisa lebih punya waktu untuk keluarga mereka.

Meski urusan pendapatan atau penghasilan dalam budaya masyarakat Indonesia bersifat sangat independen dan tidak bisa diintervensi oleh siapapun, namun mengingat pentingnya menyelamatkan kelompok ini agar tidak menjadi generasi yang mengalami himpitan berganda, maka desin pengelolaan struktur pendapatan ini menjadi penting.

Kedua, entitas ini harus mendapatkan edukasi yang penuh di bidang finansial atau financial awareness dari institusi yang mempekerjakannya. Sebab jangan sampai institusi tersebut malah nanti juga ikut terbebani dengan permasalahan Generasi Sandwich, yang sedang mengalami beragam tekanan.

Ketiga, lingkungan pun perlu diaktifkan kembali untuk meningkatkan kesadaran ini. Agar tuntutan tuntutan kepada Generasi Sandwich tidak terlalu besar sehingga mereka bisa memiliki keleluasaan untuk mengatur kehidupannya.

Bahwa mengabdikan diri pada keluarga adalah perbuatan yang mulia sampai kapanpun. Namun jangan sampai mereka menjadi lilin yang menyala di kegelapan. Di mana dirinya sendiri hancur, hanya untuk memberikan cahaya bagi yang lain. (zm)

Penulis adalah Doktor Sosiologi dari Universitas Indonesia (UI), Pengampu MK Sosiologi Perkotaan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Anggota Komisi Infokom Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Artikel dimuat Rakyat Merdeka, Sabtu 27 November 2021.

Share This