Ciputat, BERITA UIN Online— Dosen Prodi Sejarah Peradaban Islam, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Jakarta, Dr. Usep Abdul Matin, M.A., terpilih menjadi salah satu dari empat akademisi dunia untuk melakukan riset internasional di Duke University, North Carolina, terhitung mulai 1 September 2019 hingga 29 Februari 2020. Usep bersama tiga akademisi lainnya bakal melakukan riset sesuai bidang keilmuan masing-masing atas beasiswa program Fulbright Visiting Scholars.

Selain Usep, tiga akademisi dunia lainnya adalah Albulenë Kastrati, Vandana Mahalwar, dan Magda Szczesniak. Diketahui, Kastrati merupakan Assistant Professor at AAB University, Kosovo sekaligus Senior Banking Supervisor at Central Bank of the Republic of Kosovo. Adapun Mahalwar, ia merupakan Assistant Professor of Law at the University of Delhi, India. Sedangkan Szczesniak adalah Assistant Professor of Cultural Studies pada The Institute of Polish Culture, University of Warsaw, Poland.

Dalam pesan pendeknya yang dikirimnya dari North Carolina, Usep mengaku sudah tiba di Duke University dan bertemu dengan pimpinan universitas serta tiga akademisi lainnya. Menurutnya, pimpinan universitas ranking 10 dunia tersebut menerima dan memfasilitasi para akademisi terpilih dengan baik. “Saya disambut baik oleh Rektor Duke Univerity, Vincent Price. Juga oleh para dekan dan professor di Duke University. Bahkan diberi office room untuk riset,” tuturnya.

Usep sendiri direncanakan melakukan riset bertopik The Role of the University in Indonesia’s Islamic Public Sphere: The Jalaluddin Rakhmat’s Ph.D. Dispute. Dalam riset ini, Usep akan melihat nilai yang harus diperankan negara dalam menengahi konflik keberagamaan dari sudut konflik Muslim Syiah dan Muslim Sunni di Indonesia dengan  meminjam pengalaman Jalaluddin Rakhmat saat menjadi mahasiswa doktoral di UIN Alauddin Makassar.

Laman daring Duke Global yang dikutip BERITA UIN Online, Kamis (12/9/2019), menyebutkan penerimaan keempat akademisi dunia melakukan riset atas beasiswa Fulbright Visiting Scholars dilakukan dengan melihat prestasi akademik dan kepemimpinan mereka. Hal ini sesuai dengan tradisi Fulbright Program sejak dimulai 70 tahun lalu dimana para akademisi terpilih diberikan kesempatan untuk bertukar gagasan dan berkontribusi dalam kesarjanaan global.

Scholarships and Fellowships Manager pada the Duke Center for International and Global Studies, Nancy Hare Robbins, menuturkan keterlibatan Usep bersama ketiga akademisi dunia lainnya dalam Fulbright Visiting Scholar Program sejalan dengan rencana strategis akademik global Duke University yaitu ‘Global Engagement, Locally Grounded’. “Secara khusus, keterlibatan ini dilakukan dua arah, dimana berlangsung interaksi antara sarjana dunia dengan komunitas akademik Duke University sehingga menciptakan iklim pembelajaran bermanfaat secara mutual,” paparnya. (yud/zm)

Share This