Ciputat, BERITA UIN Online– Fakultas Ushuluddin dan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama RI menggelar pembinaan pentashihan Mushaf Al-Qur’an bagi mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah. Kegiatan bertema “Tadarus Qur’an: Lebih Dekat Mengenal Mushaf Al-Qur’an Standar Indonesia”  ini digelar di di Ruang Teater Prof. Dr. H.A.R. Partosentono, Gedung Fakultas Ushuluddin, Senin (9/9/2019).

Kegiatan ini merupakan kesekian kalinya yang diadakan oleh Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta kerjasama dengan Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, dengan mengundang 12 narasumber ahli dalam bidang tashih. Adapun waktu kegiatan ini selama 6 hari dan 12 pertemuan, yang dimulai pada Tanggal  9 hingga 16 September 2019.

Pembinaan Pentashihan Mushaf Al-Qur’an di Fakultas Ushuluddin UIN Jakarta tahun anggaran 2019 sendiri diselenggarakan LPMQ merujuk Peraturan Menteri Agama RI No. 44 tahun 2016 tentang Penerbitan, Pentashihan, dan Peredaran Mushaf Al-Qur’an. “Sehingga kami menyelenggarakan kegiatan ini dalam rangka memberikan pembinaan khususnya terkait dengan mushaf standar Indonesia,” Deni Hudaeny, Lc.,MA, Ketua Bidang Pentashihan LPMQ.

Dekan Fakultas Ushuluddin, Dr. Yusuf Rahman, MA menyampaikan pentingnya mengikuti pelatihan ini sebagai upaya menjaga kemurnian al-Qur’an. “Kami berharap setelah kegiatan ini, beberapa mahasiswa Fakultas Ushuluddin diajak serta dilatih untuk bisa membaca al-Qur’an braille dan selanjutnya mengajarkan kepada masyarakat tentang membaca al-Qur’an Braille,” katanya.

Sedangkan Dr. Muchlis M. Hanafi, MA yang bertindak sebagai Kepala LPMQ menuturkan bahwa keilmuan Tim Pentashih di LPMQ sangat beririsan kuat dengan keilmuan yang ada di Fakultas Ushuluddin.

“Tim di LPMQ sebenarnya tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan oleh teman-teman mahasiswa/dosen di Fakultas Ushuluddin. Karena, di LPMQ ada kajian yang terkait dengan mushaf al-Qur’an; pentashihan, pengkajian al-Qur’an, mengelolah Bayt al-Qur’an, dan museum istiqlal. Di tempat ini seperti laboratorium al-Qur’an.” Tutur Muchlis

“Melalui tugas dan fungsi yang diamanahkan negara kepada kami, banyak hal yang kemudian kita kembangkan, bermula dari pengalaman. Dari pengalaman itulah, lalu kemudian kita menggalih, mengembangkan ilmu pengetahuan yang mana basicnya itu dari Fakultas Ushuluddin,” tambahnya. (M. Najib Tsauri/zm)

Share This