Gedung FK, BERITA UIN Online— Integrasi keilmuan merupakan wider mandate dari peralihan IAIN Jakarta menjadi UIN Jakarta, sehingga integrasi keilmuan merupakan visi utama UIN Jakarta yang seyogianya diemban juga oleh fakultas.

Demikian salah satu kesimpulan Rapat Dalam Kantor (RDK), yang dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran (FK) dan Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), pada Rabu (03/04), di Ruang rapat FK, kampus II UIN Jakarta.

Rapat yang dihadiri para Guru Besar sekaligus pengagas berdirinya FK UIN Jakarta tersebut, dibahas juga tentang pendalaman dan sosialisasi makna dan implementasi integrasi.

“Yang harus ditekankan, integrasi bukan merupakan Islamisasi. Dunia kedokteran dan kesehatan selalu berkembang dan maju sehingga FK dan FIKES UIN Jakarta diharapkan mampu berkontribusi pada integrasi keilmuan di UIN Jakarta,” pukas Wakil Rektor Bidang Akademik, Zulkifli.

Di tempat yang sama, Dekan FK UIN Jakarta Heri Hendarto dalam penyampaiannya mengatakan, bahwa kondisi FK dan FIKES saat ini, tidak lepas dari sumbangsih para pendirinya, serta terus aktif mengembangkan FK dan FIKES UIN Jakarta.

Turut hadir pula dalam kegiatan tersebut, para founding fathers FK UIN Jakarta, antara lain Azyumardi Azra, Ali Sulaiman, Suwito, Armai Arief, Abudin Nata dan Djamhari.

Dalam kesempatan tersebut, Abudin Nata selaku Ketua Tim Pendirian FKIK menyampaikan bahwa Fakultas Kedokteran di UIN Jakarta harus terwujud apapun kendalanya pada saat itu, termasuk keunggulan apa yang harus dimiliki nantinya dengan mendirikan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan, mengingat UIN Jakarta berada di bawah otorisasi Kementerian Agama Pusat.

Hal demikian disampaikan pula oleh Azyumardi Azra, yang menggambarkan bahwa ide mendirikan FKIK pada saat itu merupakan ide gila karena begitu banyaknya tantangan yang dihadapi.

“Berkat kegigihan usaha para pendiri termasuk M.K Tadjuddin, Soelarto Reksoprodjo, Arlis Soelarto Reksoprodjo, dan Hendarto Hendarmin dalam ‘Majelis Reboan’ maka tantangan ini dapat dilalui hingga pada akhirnya mimpi mewujudkan dokter, apoteker, perawat yang terintegrasi, profesional tapi juga santri dan Islami dapat terwujud, di bawah komando mantan rektor Universitas Indonesia, M.K Tadjuddin sebagai dekan,” jelas Azra.

Ke depan, tambah Azra, FK UIN Jakarta dapat meluluskan para dokter, perawat, apoteker, ahli kesehatan masyarakat yang “nyantri”, sehingga generasi muda Islam ini tidak lagi termarjinalisasi, namun ikut berperan utama dalam pengembangan kemajuan ilmu. (lrf/md)

Share This