Rapat Koordinasi Kegiatan Kemahasiswaan FITK untuk mempersiapkan sejumlah mahasiswa dalam Program Microsoft Certificate Educator (MCE), Jum’at, (6/10/2017) di Ruang Sidang FITK lantai 2.

Gedung FITK, BERITA UIN Online– Penerapan kurikulum program studi (prodi) berbasis Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) diharapkan dapat meningkatkan kualitas mahasiswa, sehingga keahlian mereka sesuai dengan kebutuhan pangsa pasar.

Demikian disampaikan Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni (Wadek III) Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta Dr Fauzan pada rapat koordinasi kegiatan kemahasiswaan bersama pengurus Organisasi Mahasiswa Internal Kampus (Omik), Jum’at (6/10/2017) di Ruang Sidang FITK lantai 2.

“Nanti yang akan dilihat bukan hanya IPK, tapi skill atau prestasi yang telah dicapai oleh mahasiswa tersebut, dan itu yang paling menentukan,” ujar Fauzan di hadapan sejumlah perwakilan pengurus Organisasi Mahasiswa Intra Kampus (Omik), Kepala Bagian Tata Usaha (Kabag TU) FITK Imam Thabrani SE dan para Kasubbag FITK.

Prestasi itu, lanjutnya, tercantum di dalam Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI) yang merupakan surat pernyataan resmi dikeluarkan oleh Perguruan Tinggi, berisi informasi tentang pencapaian akademik atau kualifikasi dari lulusan pendidikan tinggi bergelar, diatur dalam Permendikbud No. 81 tahun 2014.

Semakin banyak skill dan prestasi yang dicapai, maka mahasiswa akan semakin mudah untuk dapat beriteraksi dengan masyarakat dan semakin cepat dapat pekerjaan,” tegasnya.

Fauzan menguraikan, untuk memenuhi tuntutan kebutuhan tersebut, FITK merekomendasikan mahasiswanya sejumlah 30 orang untuk diikutkan dalam Program Microsoft Certificate Educator (MCE) yang akan digelar medio Oktober nanti.

“Untuk tahap awal, rencananya kita akan rekomendasikan dari pengurus Omik, baik Sema, Dema, Postar, maupun HMJ, masing-masing diwakili dua orang dan ini kesempatan bagus untuk menjadi orang terpilih,” kata Fauzan meyakinkan pengurus Omik.

Dijelaskannya, MCE adalah sertifikat yang diberikan untuk kemampuan mengajar menggunakan teknologi berbasis internet atau e-Learning yang dikeluarkan dari Singapura sebagai representasi MCE di Indonesia, sementara pusatnya di Australia.

“Pendampingan materi dilakukan selama tiga hari dan tesnya online. Untuk skema pembiayaannya akan dirapatkan lebih lanjut,” tutup Fauzan. (mf)

Share This