Ciputat, BERITA UIN Online– Delegasi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Jakarta melakukan kunjungan ke lembaga pendidikan Islam Turki yang dikenal dengan United Islamic Cultural Centre of Indonesia (UICCI) Pesantren Tahfizh Sulaimaniyah Ciputat Tangerang Selatan pada Rabu (14/8/2019).

Empat delegasi FITK yang terdiri dari Wakil Dekan Bidang Akademik Muhammad Zuhdi MEd PhD, Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerjasama Dr Khalimi MAg, Ketua Program Studi PAI Dr Abdul Haris MAg, Sekretaris Prodi PAI Drs Rusydi Jamil MAg itu diterima Direktur Pesantren Sulaimaniyah Musthofa dan Direktur Tahfizh Sulaimaniyah wilayah Asia Fasifik Ferhat Bas.

Dalam kunjungan tersebut, Musthofa menjelaskan status pendidikan di Pesantren Tahfizh Sulaimaniyah ini sederajat dengan Diniyah Takmiliyah jika di Indonesia. Di Turki sendiri, kata Musthofa, sistem pendidikannya diawasi pemerintah Turki.

“Kalau di Indonesia, kita berada di bawah pengawasan Kementerian Agama,” ujar Musthofa.

Mengenai sistem pendidikannya, lanjut Musthofa, lebih menekankan kepada penguatan agama Islam, kursus Bahasa Turki, dan tahfizh Alquran dengan metode Turki Usmani.

“Santri yang belajar dan tinggal di sini semuanya adalah para mahasiswa yang sedang menempuh studinya di kampus-kampus sekitar sini, seperti Universitas Muhammadiyah Jakarta dan UIN Jakarta,” imbuh Musthofa.

Ditambahkannya, usai perkuliahan di kampus, mereka tinggal di sini untuk menghafalkan Alquran dan mendapatkan pendalaman ilmu agama sampai mereka selesai masa studinya di kampus.

“Biasanya mereka selesai studinya tiga sampai empat tahun dan mampu menghafalkan beberapa juz Alquran di sini, bahkan ada yang hafal semuanya,” terang Musthofa dengan bahasa Indonesia yang lumayan lancar.

Untuk yang hafal 30 Juz, sambung Musthofa, mereka ditawarkan untuk belajar di Turki selama dua setengah tahun non degree yang biayanya full ditanggung pesantren Tahfizh Sulaimaniyah tanpa ikatan dinas.

“Selain hafal Alquran, mereka juga harus lulus kursus Bahasa Turki Level C2 yang diajarkan di pesantren ini,” tandasnya.

Musthofa menginformasikan, untuk dapat menjadi santri di Pesantren Tahfizh Sulaimaniyah ini, selain dikenakan biaya Rp 3 juta untuk pendaftaran, perawatan gedung, dan biaya makan, mereka juga harus lulus tes seleksi penerimaan santri.

“Untuk pembelajaran agama, tahfizh Alquran, dan kursus Bahasa Turki tidak dikenakan biaya, alias gratis,” pungkas Musthofa.

Merespon penjelasan dari Musthofa, delegasi FITK yang diketuai M Zuhdi menyampaikan ucapan terima kasih dan merencanakan inisiasi kerja sama antara FITK dan Pesantren Tahfizh Sulaimaniyah, di antaranya pengiriman mahasiswa dan dosen untuk studi dan riset di Turki terkait Islam Turki dan Islam Indonesia, pembelajaran tahfizh Alquran Metode Turki Usmani, dan pengajaran bahasa Turki.

“Kami sangat berterima kasih kepada Pesantren Tahfizh Sulaimaniyah yang telah memfasilitasi mahasiswa kami. Untuk inisiasi kerja sama, selanjutkan bisa kita rumuskan dalam draft Perjanjian Kerja Sama,” ujar Zuhdi.

Usai pertemuan, delegasi FITK diantar berkeliling asrama untuk melihat sarana dan prasarana gedung empat lantai tersebut dan bertemu dengan beberapa mahasiswa FITK UIN Jakarta yang tinggal di sana serta dijamu makan siang dengan kuliner khas Turki.

Dilansir dari https://www.uicci.org/, UICCI atau Yayasan Pusat Persatuan Kebudayaan Islam di Indonesia adalah sebuah organisasi sosial Islam yang didirikan pada tahun 2005 oleh para sukarelawan Muslim Indonesia dan Turki yang berpusat di Istanbul Turki.

Yayasan ini bergerak dalam bidang sosial dan pendidikan yang memberikan beasiswa kepada siswa SMP, SMA, Mahasiswa, dan Santri Penghafal Alquran berupa fasilitas lengkap, dan pendidikan agama serta bahasa secara gratis dengan dana yang dihimpun dari masyarakat Muslim, baik yang berada di Turki maupun Indonesia.

Saat ini, UICCI memiliki cabang asrama yang terdapat hampir di seluruh negara dunia dan 51 cabang yang tersebar di Indonesia, di antaranya di Jakarta, Jogjakarta, Medan, Puncak, Bandung, Surabaya, Semarang, Aceh, Klaten, Sukabumi, Temanggung, dan Pangkalan Bun (Kalteng) dengan jumlah lebih dari 700 peserta didik. (lrf/mf)

Share This